Penjajah Zionis Hancurkan Satu-satunya Tempat Bermain Anak-anak di Za’atara
13 April 2016, 21:29.

NABLUS, Rabu (PIC): Hanya dalam hitungan menit, buldozer-buldozer militer penjajah Zionis meratakan taman Za’atara, yang merupakan satu-satunya tempat bermain anak-anak di desa Beita, Nablus. Bocah perempuan bernama Sadil al-Aqtash (9), yang tercengang melihat tempat bermainnya rata dengan tanah, mengatakan: “Kini tak ada lagi taman, tak ada lagi tempat kami bermain. Mereka iri pada kami, karena itulah mereka menghancurkannya.”
Taman bermain anak-anak itu baru dibangun enam bulan lalu di desa Beita, Za’atara. Desa Beita terletak di timur kota Nablus dan dihuni hampir 12.000 penduduk. Pembangunan taman yang merupakan bantuan dari warga Eropa itu dimaksudkan untuk menyediakan tempat rekreasi bagi anak-anak Za’atara yang hidup dalam kekurangan. Menurut Wasif Mualla, walikota Beita, taman tersebut dibangun oleh Joint Services Council (JSC) dengan bantuan keuangan dari Belgia sebagai bagian dari proyek untuk membantu daerah-daerah yang terpinggirkan.
Penggusuran itu dilakukan dengan dalih pembangunan tanpa izin. Taman tersebut berlokasi di Area C, yang berada dalam kontrol penuh penjajah Zionis. Penjajah Zionis menyatakan telah memberitahu penduduk soal penggusuran taman itu ketika dibangun beberapa bulan lalu. Penjajah memang kerap tak mengeluarkan izin pembangunan bagi warga Palestina. Dengan demikian, mereka bisa melakukan penggusuran atau penghentian pembangunan dengan dalih “tidak memiliki izin”.
Hal itu dilakukan untuk mencegah ekspansi warga Palestina di area-area tersebut. Tujuannya, agar penjajah Zionis bisa dengan mudah mengambil alih area-area tersebut demi perluasan permukiman ilegal Yahudi. Menurut Mualla, penggusuran taman menegaskan bahwa penjajah Zionis berupaya dengan segala cara untuk menghalangi apa yang warga Palestina coba capai, dan untuk membuktikan pada warga bahwa tanah itu bukan untuk mereka, serta apa yang mereka bangun dan perbaiki akan dihancurkan.
Mualla menegaskan bahwa desa tersebut menderita berbagai masalah, khususnya setelah penggusuran barak-barak komersial milik enam keluarga oleh pasukan penjajah Zionis sekitar sebulan lalu. Salah satu kesulitan yang dihadapi desa tersebut akibat penggusuran barak-barak komersial adalah pencari nafkah 26 keluarga menjadi kehilangan pekerjaan.
Kawasan tersebut memang setiap saat terancam penggusuran, baik rumah, barak ataupun taman. Tak hanya harus menghadapi penggusuran terus menerus, penduduk desa juga menghadapi berbagai tantangan lainnya, seperti kurangnya akses pendidikan dan pelayanan kesehatan yang memadai bagi warga sehingga penduduk harus pergi ke kota Nablus untuk menjalani perawatan. Walikota Beita mengatakan, mereka kekurangan klinik-klinik kesehatan terutama bagi mereka yang menderita diabetes, penyakit ginjal, dan kanker.
Kondisi kehidupan populasi Za’atara sangat keras. Mualla mengatakan, “Penjajah Zionis melarang penduduk Za’atara membangun ruangan tambahan apapun, kamar mandi, barak atau bangunan di daerah itu. Akan tetapi, melalui lembaga-lembaga pendanaan asing dan berbagai organisasi yang membantu beberapa proyek pembangunan dan renovasi, kami bisa melakukannya. Meskipun, sejumlah pemberitahuan penggusuran kami terima terus menerus.”
Gubernur Nablus Akram Rajoub usai mengunjungi taman yang digusur mengatakan, “Penjajah Zionis menargetkan warga Palestina dan masa kanak-kanak. Dunia harus melihat penderitaan warga Palestina dan anak-anak mereka yang diakibatkan penjajahan Zionis.” Ia menambahkan, “Taman itu tidak bersikap mengancam keamanan ‘Israel’, tapi penjajah Zionis tidak mau anak-anak Palestina hidup seperti anak-anak lainnya di dunia sehingga memberlakukan diskriminasi rasial terhadap warga Palestina. Tujuannya agar kondisi hidup rakyat kami begitu sulit sehingga mereka pergi dan bermigrasi dari tanah mereka sendiri.” *(PIC | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
