Otoritas Palestina Rugi $285 Juta Per Tahun dalam Perjanjian dengan ‘Israel’

20 April 2016, 19:02.
Foto: MaanImages/Anna Kokko, Dokumentasi

Foto: MaanImages/Anna Kokko, Dokumentasi

BAYT LAHM, Rabu (Ma’an News Agency): Bank Dunia mengungkapkan, Otoritas Palestina (OP) mengalami kerugian hingga $285 juta per tahun dalam perjanjian ekonomi dengan ‘Israel’. Bank Dunia mengumumkan temuan itu sehari sebelum menyampaikan laporan lengkap kepada Komite Penghubung Ad Hoc di Brussel, yang memutuskan bantuan pembangunan wilayah-wilayah Palestina.

Diketahui bahwa perjanjian pembagian pendapatan sebagaimana yang diuraikan dalam Protokol Paris –dimana ‘Israel’ memungut pajak pertambahan nilai (VAT), pajak impor dan pendapatan lainnya atas nama Otoritas Palestina– “tidak diimplementasikan secara sistematis.” Bank Dunia memperkirakan “kebocoran pajak pada perdagangan bilateral dengan ‘Israel’ dan nilai rendah impor Palestina dari negara-negara ketiga” berjumlah hingga $285 juta. Itu berarti Otoritas Palestina kehilangan pendapatan tahunan sebesar $285 juta. Dan jumlah tersebut bisa lebih tinggi lagi jika menyertakan Area C. Area di wilayah Tepi Barat terjajah ini sekitar 61 persennya berada dalam kendali penuh ‘Israel’. Area C tak bisa disertakan karena keterbatasan data.

“Pendapatan-pendapatan ini bisa secara signifikan mengurangi tekanan keuangan OP,” tegas Bank Dunia. Karena itulah, Bank Dunia mendesak ‘Israel’ dan OP untuk memulihkan kembali Komite Ekonomi Bersama ‘Israel’-Palestina, yang awalnya dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan Protokol Paris. Lembaga keuangan dunia itu juga mencatat bahwa ‘Israel’ sekarang ini berutang pada OP sebesar $669 juta, termasuk sumbangan dana pensiun dari warga Palestina yang bekerja di ‘Israel’ dan para pekerja mereka yang “diperkirakan akan ditransfer ke pendanaan khusus yang sudah ditetapkan oleh OP.”

Jumlah tersebut juga termasuk pemotongan gaji para pekerja yang seharusnya ditransfer ‘Israel’ untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan dan bantuan sosial. Sejumlah kelompok HAM telah lama mengecam ‘Israel’ karena menahan dana tersebut sehingga mengakibatkan para pekerja Palestina tak mendapatkan apapun. Baru-baru ini ‘Israel’ setuju mentransfer $128 juta “untuk mengganti sejumlah kerugian yang bertumpuk selama bertahun-tahun,” kata Bank Dunia.

Laporan Komite Penghubung Ad Hoc juga mencatat kondisi buruk ekonomi Palestina dan kebutuhan “untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tidak cukup berkembang demi meningkatkan standar hidup atau mengurangi tingginya angka kehilangan pekerjaan.” Bank Dunia mengungkapkan, ekonomi Tepi Barat selama 2015 lebih kuat dibanding tahun 2014, namun masih “belum cukup untuk mengimbangi pertumbuhan populasi.”

Sementara ekonomi di Gaza diperkirakan belum akan membaik seperti sebelum perang hingga setidaknya tahun 2018. Lambatnya penerimaan bantuan juga masih akan terus terjadi. Hal itu dilakukan penjajah Zionis untuk menghambat pemulihan Gaza. Terbukti, hingga kini Gaza baru menerima 40 persen bantuan asing yang dijanjikan pasca perang 2014. “Sejak usai perang, hanya sembilan persen dari rumah-rumah yang sepenuhnya hancur dan 45 persen dari rumah-rumah yang sebagian rusak telah diperbaiki,” kata Steen Jorgensen, Direktur Negara Bank Dunia untuk Tepi Barat dan Gaza. *(Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Mayoritas Tawanan Bocah Palestina Alami Penyiksaan di Penjara ‘Israel’
Otak Pembunuhan Abu Khdeir Dinyatakan Bersalah »