Masa Depan Anak-anak yang Lahir di Dalam Kepungan Zionis ‘Israel’
14 June 2016, 16:38.

Demonstran Palestina naik ke kapal-kapal di pelabuhan Kota Gaza sebagai bagian dari acara peringatan satu dekade blokade atas Gaza. Foto: MEE/Mohammed Asad
KOTA GAZA, Selasa (Middle East Eye): Lebih dari 10 tahun sejak ‘Israel’ memberlakukan blokade atas Gaza, sekitar 1,8 juta penduduk kawasan ini menyatakan mereka tak tahan lagi dan semakin khawatir akan pertumbuhan generasi baru yang tidak mengetahui apapun kecuali perang, perampasan dan pengasingan. “Sekarang 10 tahun blokade ‘Israel’ atas Gaza. Persoalannya bukan pada kami, kami telah melihat cukup banyak perang dalam kehidupan kami, tapi anak-anak yang tidak bersalah ini terlahir dengan mentalitas blokade, dan secara alami membenci para penjaga penjara mereka,” kata Abu Maher, nelayan berusia 62 tahun yang duduk di dekat pelabuhan Gaza itu, kepada MEE.
Selama satu dekade terakhir, Gaza menderita akibat tiga serangan militer ‘Israel’ dari darat, laut dan udara yang mengakibatkan ribuan warga Palestina tewas, banyak yang terluka parah dan cacat, serta menghancurkan sebagian besar infrastruktur dan melemahkan perekonomian Jalur Gaza.
Blokade umumnya dimulai ketika sanksi-sanksi ekonomi diberlakukan oleh ‘Israel’ dan Kuartet Timur Tengah –yang terdiri dari Amerika Serikat, PBB, Uni Eropa dan Rusia– sebagai respon atas kemenangan Hamas dalam pemilu Palestina pada Januari 2006. Pembatasan-pembatasan lebih diperketat ketika Hamas memegang kendali atas Gaza pada tahun 2007.
Abu Maher mengingat peristiwa tahun 2008 ketika ribuan warga Gaza menyambut satu dari sejumlah kapal bantuan Free Gaza. Abu Maher mengingat hari itu sebagai momen yang indah, hari ketika ia merasa bangga Gaza dilindungi dan dibela oleh para relawan internasional yang cukup peduli untuk mempertaruhkan jiwa mereka membawa bantuan kemanusiaan dan mengirimkan pesan dukungan bagi rakyat di kawasan yang terblokade itu.
Sejak itu, terdapat sejumlah upaya para relawan internasional untuk mencabut blokade dengan memasuki Gaza lewat laut, tapi semuanya telah ditangkal oleh angkatan laut ‘Israel’. Kini penduduk Jalur Gaza mengatakan mereka semakin merasa terisolasi dan sendirian. Tiga perang juga menghancurkan puluhan ribu rumah dan membinasakan struktur sosial Gaza, mengakibatkan anak-anak menjadi yatim piatu dan para istri menjadi janda.
Para psikiater mengatakan bahwa kasus-kasus gangguan stres pasca-trauma (PTSD) di kalangan anak-anak meningkat dua kali lipat sejak 2012 dan trauma-trauma jenis lainnya, begitu pula dengan masalah-masalah psikis lainnya. Sejumlah LSM juga melaporkan peningkatan kekerasan sehingga Action Aid dan kelompok-kelompok kemanusiaan lainnya menawarkan dukungan bagi wanita-wanita yang terkena dampak konflik dan memerlukan konseling hukum.
Penderitaan Akibat Blokade
Blokade masih diberlakukan dengan ketat seperti sebelumnya. Di pelintasan Erez dengan ‘Israel’, hanya para pekerja kemanusiaan dan mereka yang memiliki izin khusus, seperti sejumlah pengusaha Palestina yang berurusan dengan perusahaan-perusahaan ‘Israel’, yang diizinkan datang dan pergi. Beberapa ratus warga Palestina yang membutuhkan perawatan medis segera atau mereka yang memiliki izin untuk menuntut ilmu di luar negeri juga (terkadang) diizinkan untuk pergi.
Rafah, pelintasan darat utama Gaza lainnya, menuju Mesir, juga telah ditutup sejak pemilu tahun 2006. Pengawasan sempat longgar pada tahun 2010 setelah serangan ‘Israel’ atas kapal bantuan Mavi Marmara. Ketika itu sekitar 167.000 orang diizinkan melintas. Bandingkan pada tahun 2009 yang hanya mengizinkan 60.000 orang melintas. Setelah revolusi di Mesir tahun 2011 dan Muhammad Mursi terpilih sebagai presiden, Gaza menikmati kebebasan dengan singkat. Tercatat 257.000 warga Palestina bisa melintas selama setahun. Jumlah tersebut merosot tajam setelah Mursi digulingkan pada tahun 2013, dan tahun lalu Rafah dibuka hanya 21 hari.
Pengawas Hak-hak Asasi Manusia Eropa-Mediterania yang berkedudukan di Jenewa menyatakan bahwa blokade telah melipatgandakan tingkat penderitaan manusia di Gaza, dimana enam dari setiap 10 keluarga kini kekurangan makanan dan diklasifikasikan rawan gizi. PBB sudah memperingatkan bahwa Gaza akan tak layak huni pada tahun 2020.
Umm Fouad Jaber, penduduk Gaza berusia 42 tahun, mengatakan pada MEE bahwa mereka sama sekali tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan dan satu-satunya cara mereka merasa bisa terus melawan adalah tetap tinggal dan mempertahankan tanah nenek moyang mereka. “Para ‘sipir penjara’ kami tidak membiarkan kami mati atau berkembang,” katanya. Jaber mengatakan bahwa berbagai hal telah sangat memburuk di bawah blokade. Air bersih kini sulit didapatkan. Kelangkaan air menyebar luas, dan ketika air menetes keluar dari keran tak ada yang bisa mengetahui apakah itu bersih atau kotor.
Listrik juga menjadi barang langka, tak ada satu keluarga pun yang tahu kapan mereka akan mendapatkan beberapa jam listrik. Lagi-lagi mereka berada dalam kegelapan. Marwan Karam, seorang pemilik pasar swalayan, mengatakan pada MEE bahwa mendapatkan persediaan pokok pun benar-benar sulit dan seringkali bahkan lebih sulit untuk mendapatkan konsumen.
Blokade bertanggung jawab atas meroketnya angka orang yang kehilangan pekerjaan, yang secara resmi mencapai angka 40 persen. Namun, angka secara keseluruhan diyakini lebih tinggi dari itu. Hanya sedikit orang yang mampu membayar barang-barang yang benar-benar mereka butuhkan. Banyak dari para pemilik toko selama bertahun-tahun membiarkan teman-teman dan para tetangga untuk mencari uang tambahan penghidupan dengan mengulurkan pinjaman murah hati yang hanya setengah mereka harapkan akan dilunasi. “Gaza seperti pasien penyakit akut yang tetap hidup dengan beberapa tetes cairan infus; tidak cukup untuk menyehatkan, tapi cukup untuk tetap hidup demi menghindari label kekejaman dan penelantaran,” kata Karam.
‘Israel’ bersikeras blokade merupakan langkah pencegahan keamanan yang diperlukan untuk merespon ancaman terhadap perbatasan-perbatasan yang dijaga oleh Hamas dan pejuang lainnya. Namun Richard Falk, mantan pelapor khusus PBB untuk Palestina dan kini menjabat sebagai pimpinan dewan pengawas di Euro-Mediterranean Human Rights Monitor, mengatakan pada MEE bahwa blokade Gaza sama dengan membentuk “hukuman kolektif” yang diberlakukan oleh ‘Israel’ terhadap populasi warga sipil yang tak berdaya. “Tak ada siksaan penderitaan manusia yang lebih buruk dari sengaja melecehkan kesadaran kemanusiaan dengan blokade panjang selama satu dekade yang dijatuhkan ‘Israel’ terhadap rakyat Gaza,” kata Falk.
“Pelecehan hak asasi manusia yang masih terus berlanjut ini merupakan contoh hukuman kolektif mematikan dan masif yang mengakibatkan derita bagi populasi warga sipil yang terjebak di sana. Blokade juga menjadi saksi akan ketidakberdayaan dan keterlibatan masyarakat internasional, termasuk PBB.”
Meskipun masih berkembang kesadaran akan penderitaan penduduk Gaza, masyarakat yang hidup dengan dampak-dampak penjajahan menyatakan mereka merasa seakan telah sepenuhnya dilupakan. Abu Maher, nelayan Gaza, menyatakan bahwa anak-anak Gaza “sangat mendambakan masa depan yang lebih baik”. “Kami harus membangun jembatan pemahaman di antara bangsa-bangsa. Agar hal itu terjadi maka perbatasan-perbatasan harus dibuka,” ungkapnya.* (Middle East Eye | Sahabat Al-Aqsha)

Sekelompok anak-anak di pelabuhan Gaza menuntut pasokan obat-obatan, hak untuk bepergian dan diakhirinya blokade. Foto: MEE/Mohammed Asad
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
