Hari Ketiga Pembukaan Pelintasan Rafah, Dua Bis Keluar Gaza Menuju Mesir
3 July 2016, 19:15.

Foto: MaanImages
GAZA, Ahad (Ma’an News Agency): Otoritas Mesir kemarin (2/7) membuka kembali pelintasan Rafah antara Mesir dan Jalur Gaza yang terkepung, usai penutupan satu hari pada Jum’at (1/7) lalu. Ini merupakan hari ketiga pembukaan yang diharapkan berlangsung hingga Senin nanti. Menurut kantor media pelintasan, dua bis diberitakan berjalan melintasi pelintasan dari Jalur Gaza menuju Mesir pada hari ketiga pembukaan. Otoritas Mesir menutup pelintasan pada Jum’at lalu setelah membukanya selama dua hari berturut-turut. Selama dua hari itu ratusan orang diizinkan memasuki dan meninggalkan wilayah Palestina yang terkepung.
Melonggarnya pembatasan-pembatasan ketat perbatasan terjadi singkat ketika blokade militer ‘Israel’ atas Jalur Gaza mendekati 10 tahun. Sekitar 1,8 juta penduduk Gaza terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka akibat ketatnya pembatasan terhadap barang-barang yang masuk dan keluar. Ketika perbatasan Mesir tetap menjadi jalur kehidupan utama bagi warga Gaza ke dunia luar, otoritas Mesir perlahan-lahan menutup pergerakan melalui perbatasan sejak presiden terpilih secara demokratis Muhammad Mursi digulingkan oleh militer Mesir pada tahun 2013.
Akibat batasan-batasan terhadap pergerakan warga Palestina melalui pelintasan, banyak yang dilarang meninggalkan atau memasuki Jalur Gaza, bahkan selama berbulan-bulan pada waktu yang sama. Karena, pelintasan hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu oleh otoritas Mesir. Hal itu membuat warga Palestina dari kedua sisi pelintasan terlantar saat penutupan.
Puluhan ribu warga Palestina telah disetujui memasuki Mesir, kebanyakan dari mereka orang-orang yang membutuhkan perawatan medis, memegang paspor asing, ingin bertemu dengan anggota keluarga di luar Jalur Gaza, atau menuntut ilmu di luar Gaza. Namun, hanya beberapa ratus warga Palestina yang diizinkan keluar Gaza setiap harinya selama pembukaan berselang pelintasan ini. Hal itu mengakibatkan ratusan warga Palestina terlantar selama berbulan-bulan tanpa akses perawatan medis, bersekolah, atau bertemu dengan anggota keluarga mereka.
Pada tahun 2015, pelintasan Rafah ditutup selama 344 hari. Pelintasan dibuka kembali lebih teratur pada 2016. Terakhir, pemerintah Mesir membuka pelintasan Rafah selama empat hari saat pekan pertama Juni menjelang bulan suci Ramadhan. Saat itu lebih dari 3.000 orang meninggalkan Jalur Gaza. Penutupan pelintasan terus ditingkatkan karena otoritas Mesir menuduh Hamas mendukung mujahidin yang melakukan serangan mematikan terhadap pasukan keamanan di Semenanjung Sinai yang membatasi wilayah Palestina. Hamas menolak tuduhan tersebut.* (Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
