Pos-pos Pemeriksaan yang Kejam, Tak Berperikemanusiaan

8 July 2016, 19:52.
Ini adalah Checkpoint 300, yang memisahkan Bayt Lahm dari Baitul Maqdis, sekitar pukul 3.30 pagi. Tidak ada kemungkinan pembenaran untuk mewajibkan orang antre selama berjam-jam di tengah malam serta dalam kondisi penuh sesak yang tak tertahankan, hanya agar mereka bisa pergi bekerja dan memulai hari penuh kerja keras. Ini jelas tidak ada kaitannya dengan masalah keamanan: Semua orang yang melewati pos pemeriksaan telah memiliki izin kerja yang sah, yang membolehkan mereka masuk ‘Israel’. Izin tersebut mereka terima usai menjalani seluruh pemeriksaan latar belakang yang menurut penjajah Zionis dibutuhkan. Foto: B'Tselem

Ini adalah Checkpoint 300, yang memisahkan Bayt Lahm dari Baitul Maqdis, sekitar pukul 3.30 pagi. Tidak ada kemungkinan pembenaran untuk mewajibkan orang antre selama berjam-jam di tengah malam serta dalam kondisi penuh sesak yang tak tertahankan, hanya agar mereka bisa pergi bekerja dan memulai hari penuh kerja keras. Ini jelas tidak ada kaitannya dengan masalah keamanan: Semua orang yang melewati pos pemeriksaan telah memiliki izin kerja yang sah, yang membolehkan mereka masuk ‘Israel’. Izin tersebut mereka terima usai menjalani seluruh pemeriksaan latar belakang yang menurut penjajah Zionis dibutuhkan. Foto: B’Tselem

LONDON, Jum’at (Middle East Monitor): Sebuah organisasi hak asasi manusia menuduh ‘Israel’ memberlakukan syarat-syarat “kejam dan tidak manusiawi” terhadap warga Palestina di perbatasan-perbatasannya. Pusat Informasi ‘Israel’ untuk HAM di Wilayah Terjajah, yang lebih dikenal dengan B’Tselem, mengungkapkan bahkan mereka yang mengantongi izin kerja resmi harus menunggu berjam-jam di cuaca yang sangat panas.

B’Tselem mempublikasikan sebuah foto di Facebook dan menyatakan: “Warga Palestina yang terlihat antre menunggu itu memiliki izin yang membolehkan mereka bekerja di ‘Israel’. Izin-izin tersebut dikeluarkan hanya setelah melalui pemeriksaan keamanan yang jelimet. Membuat orang mengantre selama berjam-jam, dengan kondisi tak tertahankan, menekankan aspek kejam dan tidak manusiawinya kontrol militer atas masyarakat sipil. Penjajahan kini memasuki tahun ke-50. Ketidakadilan yang mencolok ini telah berlangsung selama sekitar setengah abad dan disokong sikap tidak peduli.”

Foto tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kondisi pos pemeriksaan di Tepi Barat, antara Bayt Lahm dan Baitul Maqdis, pada pagi hari. Tampak kerumunan manusia penuh sesak memadati sepanjang jalan kecil berpagar. Teks pada foto tersebut berbunyi: “Inilah pemandangan penjajahan setiap hari: Tidak berarti harus menggunakan senjata atau melakukan tindakan brutal. Benar-benar tidak berperasaan dan penghinaan kejam. Tanpa alasan, hanya karena itu bisa dilakukan.”

Juru bicara Kedutaan Besar ‘Israel’ di London mengatakan pada surat kabar Independent: “Orang-orang menunggu di pos-pos pemeriksaan dan pemeriksaan keamanan bukanlah fenomena warga ‘Israel’.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Kemarin, 50 Truk Bantuan Turki Sampai di Gaza
Dua Tahun Usai Perang, 900 Warga Gaza yang Terluka Masih Butuh Perawatan »