Militer ‘Israel’ Jual Keledai yang Dicuri dari Warga Palestina
20 August 2016, 15:05.

Foto: World Bulletin
PALESTINA, Sabtu (World Bulletin): “Dijual empat puluh keledai,” demikian bunyi pemberitahuan di surat kabar Palestina. Tidak ada yang aneh dengan itu, kecuali kenyataan bahwa si pengiklan merupakan tentara ‘Israel. Warga Palestina mengungkapkan, penjajah Zionis berupaya menjual kembali hewan-hewan yang disita dari mereka di Lembah Yordan Tepi Barat terjajah. Otoritas ‘Israel’ berdalih, mereka menangkap hewan-hewan ternak yang “berkeliaran” demi keselamatan publik, terutama untuk mengurangi kecelakaan di jalan raya.
Namun, warga Palestina melihat kebijakan penyitaan dan penggusuran semata bertujuan untuk mendorong mereka keluar dari lembah yang mengalir di sepanjang perbatasan dengan Yordania itu. Pasalnya, lembah tersebut memiliki sumber mata air yang berharga dan lahan pertanian sehingga ‘Israel’ melihatnya sebagai hal yang penting bagi pertahanan strategisnya.
Keledai-keledai tersebut akan dilelang jika tidak diklaim oleh pemiliknya, begitulah bunyi teks pengumuman berbahasa Arab itu. Namun, meminta kembali properti mereka sendiri bukan perkara mudah, karena menelan banyak biaya. Arif Daraghmeh, kepala dewan dari 26 dusun di distrik lembah Al-Maleh, mengatakan mereka harus membayar denda hingga 2.000 shekel ($526) untuk setiap keledai.
COGAT, unit kementerian pertahanan ‘Israel’ yang mengkoordinir aktivitas-aktivitas ‘Israel’ di Tepi Barat dan Gaza, menyatakan bahwa hewan-hewan “berkeliaran” yang tidak diawasi merupakan ancaman publik. Menurut COGAT, sejak militer menangkapi hewan-hewan itu “kecelakaan di jalan raya menurun 90 persen” serta denda dipungut untuk menutupi biaya-biaya menangkap dan memelihara keledai-keledai itu. Penawaran umum untuk menjual 40 keledai bukan hal biasa, kata Daraghmeh, itu merupakan yang ke tiga dalam dua tahun terakhir, sebelumnya tidak ada. Namun penyitaan, kata dia, bukan hal yang baru.
Sliman Besharat (60) mengatakan kambing-kambingnya, yang ditempatkan di tempat penampungan jarahan, dulu dikarantina oleh ‘Israel’. Senada dengan Daraghmeh, ia juga melihat ada tujuan strategis di balik penyitaan itu. ”Dengan menyita hewan-hewan dan perlengkapan pertanian, serta menggusur rumah-rumah, tempat penampungan hewan dan bangunan-bangunan lainnya, ‘Israel’ memberi tekanan pada warga Palestina untuk meninggalkan Lembah Yordan,” katanya.
“Siapapun yang menguasai lembah berarti menguasai perbatasan (dengan Yordania) dan akses terhadap air serta lahan pertanian,” kata Besharat. Itu merupakan sumber-sumber daya penting bagi warga Palestina lokal yang hidup dari sektor pertanian dan peternakan.
Zona tembak
Tatkala Yusef sedang menjaga 80 sapi dan anak sapinya, mendadak perhatiannya tertuju pada jalan yang digunakan kendaraan-kendaraan militer ‘Israel’. Di belakangnya berdiri sebuah tanda peringatan berbahasa Ibrani, Arab dan Inggris di atas sebuah blok beton: “Zona tembak, dilarang masuk.” Perlu diketahui, berdasarkan data PBB tentara ‘Israel’ telah mengubah 18 persen Tepi Barat menjadi daerah pelatihan. Meskipun begitu, 6.200 warga Palestina masih tinggal di daerah-daerah tersebut.
Di daerah Tubas tempat tinggal Yusef, lebih dari 800 orang menetap dengan ternak mereka di tanah yang oleh ‘Israel’ dijadikan lapangan tembak. Tentara, kata dia, bisa mengusir dan menyita hewan-hewan ternak mereka kapan saja. “Para serdadu menaikkan mereka ke atas truk-truk dan memberitahu kami bahwa kami berada di zona militer tertutup,” katanya. “Atau mereka lewat dengan tank-tank mereka dan tidak ada satupun yang selamat, tidak telur burung yang sembunyi ataupun bayi rusa yang berbaring di tanah.” Yusef mengatakan ia dulu memiliki puluhan hewan, tapi ludes disita atau mati karena kehausan akibat kurangnya akses terhadap air.
Terbatasnya akses air
Padahal jaraknya cukup dekat dengan tepi-tepi Sungai Yordan, tapi sebagian besar penduduk Palestina tidak terkoneksi dengan air dan harus membelinya dengan harga sangat mahal, kata PBB. Sekitar 90 persen lembah berada di zona Tepi Barat yang dikenal sebagai “Area C” yang berada penuh dalam kekuasaan ‘Israel’.
Menurut PBB, itu “pada hakekatnya dilarang digunakan oleh warga Palestina dan disediakan untuk tentara ‘Israel’ atau ditempatkan di bawah yurisdiksi permukiman ilegal Yahudi”, dimana 9.500 warga ‘Israel’ tinggal dan bertani. Konsumsi air di sejumlah tempat hanya 20 liter per hari, berarti hanya seperlima dari yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Di lereng bukit berbatu, kata Yusef, dulu hewan-hewan bebas minum sepuasnya, kini ada saluran pipa yang mengalirkan air di lereng itu ke permukiman ilegal Yahudi. “Sebelumnya kami minum air di sumbernya,” kata Yusef. “Kini para pemukim ilegal Yahudi mandi di dalamnya.” *(World Bulletin | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
