Taman Bermain Anak dan Keluarga di Deir Al-Balah
19 August 2016, 18:56.

Foto: Fotografer MEMO
LONDON, Jum’at (Middle East Monitor): Meskipun kota di pesisir pantai, Deir al-Balah yang terletak di pusat Jalur Gaza dikenal sebagai wilayah pertanian. Kini, karena seluruh peluang ekspor dan perbatasan ditutup, industri pertanian sangat merugi. Angka kehilangan pekerjaan dan kemiskinan di Deir al-Balah merupakan yang tertinggi di seluruh Gaza. Bagi anak-anak, pantai di depan kamp pengungsi Deir al-Balah merupakan satu dari sangat sedikit tempat rekreasi di area tersebut.
Karena itulah, pusat budaya masyarakat lokal – Asosiasi Budaya dan Seni Nawa –mendirikan sebuah taman yang diperuntukkan bagi anak-anak dan keluarga. Pada akhir Juli lalu, hasil kerja keras para staf Nawa dan relawan selama berbulan-bulan terbayar: sebuah taman akhirnya dibuka dengan upacara kecil dan program aktivitas harian pun dimulai.
Bagi Direktur Nawa, Reem Abu Jaber, yang dilahirkan dan dibesarkan di Deir al-Balah, pembukaan taman di area tersebut merupakan hari bersejarah. Karena, untuk mewujudkannya mereka harus mengatasi berbagai rintangan. Untuk mendapatkan bahan-bahan dasar bangunan, seperti kayu dan semen yang nampaknya pekerjaan sederhana justru butuh waktu berbulan-bulan akibat blokade ‘Israel’ atas Gaza.
“Ketika kami mulai membangun taman bermain, ‘Israel’ melarang semen dan kayu memasuki Gaza. Kami harus menghabiskan banyak waktu mencari bahan-bahan apapun pun yang tersedia. Situasi berubah terus-menerus. Jadi, setiap pagi kami harus memantau berita-berita untuk mengetahui apakah ‘Israel’ akan mengizinkan bahan-bahan ini atau tidak.” Akhirnya, bahan-bahan yang dibutuhkan berhasil didapatkan, meski sepotong demi sepotong. Dengan susah payah dan proses yang lambat, akhirnya taman selesai dibangun. Ruang yang indah itu menyediakan kerangka panjat, ayunan, serta ruang-ruang untuk aktivitas budaya dan pertunjukan.
Taman ini dikenal dengan nama ‘Al-Bayara’ – kata yang jarang digunakan dalam perbincangan berbahasa Arab di Palestina, tapi nama itu selaras dengan kebijakan-kebijakan Nawa untuk memuliakan warisan Palestina. Menurut Abu Jaber, “’Al-Bayara’ merupakan nama bersejarah taman-taman tradisional Palestina yang biasanya ditanami jeruk. Nama tersebut dipilih oleh Welfare Association dalam program mereka untuk mendukung rangkaian taman bermain di penjuru Palestina. Tentu saja kami menyukai nama itu, karena pekerjaan kami berupaya menghubungkan anak-anak dengan identitas mereka, warisan dan alam, serta tentu saja kegembiraan.”
Sepanjang liburan sekolah musim panas, ‘Al-Bayara’ buka setiap hari dan memiliki tim staf yang mengelola berbagai aktivitas untuk anak-anak yang mendatangi taman tersebut. Bagi anak-anak yang hidup terperangkap di Jalur Gaza yang terblokade, Abu Jaber menyatakan masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. “Penting untuk bekerja dengan seluruh anak-anak, di mana pun. Di Deir Al-Balah ada sejumlah contoh positif atau peluang bagi anak-anak. Nawa berupaya untuk menghidupkan lilin di jiwa anak-anak. Sekali lilin ini menyala, kami yakin bahwa mereka akan mengetahui hasrat dan misi mereka. Saya selalu takjub dengan cara anak-anak itu bisa belajar dan berkembang secara positif, terlepas dari segala hal yang harus mereka hadapi.”
Tak hanya menikmati ruang bermain, anak-anak juga diberikan peran tanggung jawab dalam pengelolaannya, seperti tanggung jawab atas kebersihannya setiap hari dan peran sebagai pemimpin kegiatan. Karena, anak-anak juga membutuhkan peluang untuk berkembang.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Foto: Fotografer MEMO

Foto: Fotografer MEMO

Foto: Fotografer MEMO
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
