‘Empat Menit Memeluk Ayah, Sesudah 12 Tahun Dipisah Penjara’
20 September 2016, 13:20.

Saat Yara mengunjungi ayahnya pada 10 Juli; ia baru menerima salinan foto tersebut sebulan kemudian. Foto: Milik Yara al-Sharabati
TEPI BARAT TERJAJAH, Selasa (Al Jazeera): Bagaimana rasanya jika untuk memeluk ayahmu saja kau harus menunggu 12 tahun dan dibatasi hanya selama empat menit? Remaja Palestina Yara al-Sharabati menguraikan bagaimana rasanya memeluk sang ayah untuk kali pertama dalam 12 tahun.
Musim panas ini, Yara al-Sharabati, remaja Palestina yang berusia 18 tahun itu akhirnya diizinkan berada dalam satu ruangan dengan ayahnya –yang menjalani hukuman seumur hidup di penjara ‘Israel’– untuk kali pertama dalam 12 tahun. Akhirnya, Yara diizinkan memeluknya.
Ayman al-Sharabati –yang bergabung dengan Brigade Syuhada al-Aqsha, sayap militer Fatah– ditahan pada 1998 karena melakukan serangan penikaman di Baitul Maqdis yang menewaskan seorang warga ‘Israel’ dan melukai yang lainnya.
Menurut kelompok pembela hak-hak tawanan Addameer, tawanan-tawanan Palestina yang didakwa ‘Israel’ melakukan pelanggaran keamanan biasanya menghadapi batasan-batasan ketat kunjungan keluarga, serta isolasi, dan diadili di pengadilan-pengadilan militer. Untuk menyeberang dari Tepi Barat ke dalam wilayah yang kini diklaim sebagai ‘Israel’, keluarga-keluarga para tawanan harus mengajukan izin ke Pemerintahan Sipil ‘Israel’, sebuah proses yang difasilitasi oleh Palang Merah. Keputusan organisasi tersebut untuk memperpendek program kunjungan keluarga mengakibatkan kegemparan bulan lalu.
Sekarang ini, sekitar 7.000 warga Palestina mendekam di penjara-penjara ‘Israel’, 458 dari mereka menjalani hukuman penjara seumur hidup. Tujuh ratus dari mereka merupakan tawanan administratif, yang dipenjara tanpa dakwaan atau sidang.
Yara al-Sharabati mengatakan pada Al Jazeera mengenai peristiwa 10 Juli lalu, hari ketika ia bertemu ayahnya. “Ketika saya berjalan melewati pintu, saya merasa bebas dan merasa bisa memeluknya. Tiba-tiba saya merasa ingin berlari. Lalu saya lari ke arahnya, Ayah memegang dan memeluk saya. Kami saling berpelukan selama sekitar empat menit.
Lalu datang dua penjaga keamanan, seorang lelaki dan perempuan, memisahkan kami. Si penjaga perempuan membawa saya pergi, dan penjaga lelaki membawa Ayah. Mereka mengatakan, “Sekarang saatnya untuk kalian berfoto bersama.” Kemudian, para penjaga datang dan memotret kami dengan kamera mereka, serta mengatakan pertemuan itu telah berakhir. Sebenarnya kami masih punya waktu tersisa semenit lagi, tapi mereka hanya mengizinkan kami bersama selama empat menit.
Saya tidak segera mendapatkan foto tersebut. Saya mendapatkannya setelah sebulan, ketika orang yang mengunjungi ayah saya memintanya dari pihak penjara. Karena itulah, saya hanya bisa mempublikasikannya di Facebook sebulan kemudian. Ini merupakan kali ke dua saya diizinkan memeluknya. Kali pertama saat saya baru berusia enam tahun. Sekarang saya 18 tahun. Saya lahir ketika Ayah berada di penjara. Ketika berusia enam tahun, saya tidak benar-benar menyadari bahwa saya sedang memeluk ayah saya. Jadi pada dasarnya, ini kali pertama, karena ini kali pertama saya merasa tahu apa makna memeluknya.

Ini foto saat kali pertama Yara bertemu ayahnya, ketika masih berusia enam tahun. Foto: Ylenia Gostoli/Al Jazeera
Empat tahun lalu, ayah saya mengajukan tuntutan kunjungan pribadi dengan saya kepada Dinas Penjara ‘Israel’. Kali pertama ia mengajukannya saat berada di penjara Nafha, dan ditolak. Ia mengajukannya lagi di penjara Hadarim, dan ditolak. Di penjara Beer Saba juga ditolak, hingga ia dipindahkan ke penjara Gilboa. Barulah mereka menerima tuntutan itu. Saya tidak melihatnya selama tiga tahun, karena saya tidak mendapatkan izin. Sekarang saya bahkan tidak tahu kapan akan diberikan izin lagi untuk melihatnya. Saya tidak tahu alasannya; mereka bilang ada larangan keamanan.
Bersama Ibu Jenguk Ayah di Penjara
Saya ingat ketika kami kanak-kanak; saat hari kunjungan, biasanya kami bangun pukul lima pagi. Jadi, sangat sulit bagi ibu saya untuk membangunkan kami. Kami berempat, kami semua masih muda. Kami pergi dari rumah kami di Eizariya (daerah pinggiran kota Baitul Maqdis) ke Bayt Lahm, dan kemudian dari pos pemeriksaan Bayt Lahm ke Baitul Maqdis, dan dari sana ke penjara di mana Ayah ditawan.
Meskipun itu sangat melelahkan dan kami menyusahkan Ibu, ketika kami melihat Ayah lewat kaca dan mulai bicara dengannya, tiba-tiba kami melupakan seluruh rasa lelah dan penderitaan. Biasanya aktivitas itu bermula dari pukul lima pagi hingga 11 malam. Kenapa begitu lama? Karena kami harus berganti-ganti bis untuk sampai ke tujuan, belum lagi pemeriksaan di pos pemeriksaan.
Kami berbicara dengannya melalui kaca, tapi kaca tersebut sangat tebal. Jadi, ia mulai berbicara kepada kami melalui telepon, tapi suaranya bahkan tidak jelas. Saya merasa penjajah Zionis sengaja mengaburkan suara. Panggilan telepon tidak begitu bagus, tidak terlalu jelas. Ayah bertanya mengenai sekolah saya, apa yang ingin saya pelajari ketika dewasa, dan ia berkata akan selalu mendukung dan membangkitkan semangat saya. Ia selalu meminta saya menjaga ibu dan adik-adik saya. Ia juga bercerita mengenai tanah air kami, betapa berharganya itu. Lalu ia meminta saya merawat tanaman-tanaman di kebun kami, memastikan saya menyiramnya setiap hari, dan mengurus rumah.
Ayah saya menulis puisi dan cerita-cerita pendek ketika ia berada di dalam penjara, lalu ia meminta saya untuk membacanya serta memberikan ia umpan balik. Ia menyemangati saya untuk menulis, membaca dan belajar. Ia mengatakan pada saya bahwa belajar adalah hal paling penting dan utama. Sekarang saya di tahun pertama kuliah mempelajari medical imaging. Inilah cara saya membantu bangsa dan tanah air saya kelak.
Tumbuh Dewasa Tanpa Ayah
Saya ingat , Ibu pernah pergi ke penjara Ashkelon untuk mengunjungi Ayah, tapi kembali ke rumah dengan wajah murung. Ketika kami anak-anaknya bertanya pada Ibu mengenai apa yang terjadi, ia tidak segera menjawab. Kami tahu itu karena ia tidak bisa melihat Ayah. Ternyata Ayah telah dipindahkan ke penjara lain. Keputusan Palang Merah untuk memangkas kunjungan keluarga tidak akan memengaruhi kami. Lagipula kami tidak mendapat izin. Hanya bibi, saudara perempuan ayah saya, yang bisa pergi. Usianya lebih dari 55 tahun, sehingga ia bisa pergi ke sana tanpa izin. Ibu mertua ayah saya, yang menganggap Ayah seperti anaknya sendiri, belum mengunjunginya selama 19 tahun. Hanya kerabat langsung yang diizinkan berkunjung.
Alaa, abang tertua saya, diizinkan melihatnya sekali setahun. Alaa datang dua kali dari Perancis –karena ia sedang menuntut ilmu di sana– hanya untuk melihat Ayah. Orang dengan kartu identitas Tepi Barat harus menemui Pemerintahan Sipil ‘Israel’ dan mendapatkan izin melalui mereka. Namun jika tawanan dihukum, maka penjajah akan menahan izin ini dari keluarganya, lelaki ataupun perempuan.
Jelas ini tidak mudah bagi saya, tumbuh dewasa tanpa Ayah. Saya selalu merasa berbeda dari anak-anak sekolah lain yang seumuran dengan saya. Ayah mereka ada di sisi mereka untuk membawa mereka ke mana pun. Sebelum tidur setiap malam, saya merasa dia tidak ada di dekat saya. Saya mulai melihat foto kami yang dipotret ketika saya berusia enam –dan kini foto baru ini– untuk mengingatnya. Ini membebani saya, karena saya selalu merasa harus bekerja lebih keras agar berhasil sehingga membangkitkan semangatnya dan membuatnya bangga.
Kerinduan kian bertambah saat saya tumbuh dewasa. Anak-anak, saat mereka terlalu muda, mereka tidak mengerti. Namun, saya merasa mengenalnya karena Ibu selalu membicarakan tentang Ayah kepada kami – tentang bagaimana ia mengorbankan hidupnya demi tanah airnya. Dan orang lain yang mengenalnya juga selalu menekankan bahwa ia sangat terhormat, sangat rapi, dan pria yang baik. Orang-orang sering memberitahu saya tentang Ayah.
Hari saat saya bertemu Ayah adalah hari ulang tahunnya yang ke-48. Ia telah dipenjara sejak berusia 29 tahun.
Hari itu tepat sehari sebelum nilai-nilai ujian masuk perguruan tinggi dipublikasikan. Ia mengatakan pada saya untuk tidak khawatir, katanya, segalanya akan baik-baik saja. Sehari setelah saya mengunjunginya, nilai-nilai ujian keluar. Saya lulus.* (Al Jazeera | Sahabat Al-Aqsha)

Kunjungan itu menandai kali ke dua Yara diizinkan memeluk ayahnya, kali pertama ia masih terlalu muda untuk memahami maknanya. Foto: Ylenia Gostoli/Al Jazeera
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
