Jubbet Adh Dhib, Desa Tanpa Listrik di Tepi Barat Terjajah

1 November 2016, 22:11.
Fadia al-Wahsh mengepalai komite perempuan di desa Jubbet adh Dhib, Tepi Barat terjajah, yang berupaya mendapatkan listrik untuk komunitas tersebut. Foto: Anne-Marie O’Connor/Washington Post

Fadia al-Wahsh mengepalai komite perempuan di desa Jubbet adh Dhib, Tepi Barat terjajah, yang berupaya mendapatkan listrik untuk komunitas tersebut. Foto: Anne-Marie O’Connor/Washington Post

TEPI BARAT TERJAJAH, Selasa (washingtonpost.com): Di Jubbet Adh Dhib, sebuah desa di Tepi Barat terjajah, warganya harus menunggu selama hampir tiga dekade untuk pemasangan listrik. Sementara permukiman ilegal Yahudi yang terletak tak jauh dari desa tersebut terlihat terang benderang. Kini, warga desa menggantungkan harapan mereka pada komite perempuan lokal baru yang bertekad mendapatkan jaringan listrik bagi warga desa.

Hanya berjarak sekitar 20 menit dari pusat keramaian kota Baitul Maqdis, di sisi gunung yang diberi nama “Paradise”, menginjakkan kaki di Jubbet adh Dhib seperti berjalan mundur pada lorong waktu. Tidak ada lemari es, makanan pun menjadi cepat basi. Para lansia Palestina jatuh dalam kegelapan. Anak-anak tidak bisa belajar di malam hari. Tanpa WiFi (koneksi internet) dan saluran televisi yang terbatas, penduduk desa merasa terputus dari dunia. “Anak-anak kami tidak memiliki masa kecil yang bahagia,“ kata Fadia al-Wahsh, ketua komite perempuan. “Mereka melihat anak-anak di mana-mana menggenggam iPad dan mengakses internet,” katanya. “Anak saya berkata, ‘Mengapa kami tinggal di tempat seperti ini?’”

Beberapa ratus yard (1 yard=0,9144 meter) dari Jubbet adh Dhib ada cahaya terang yang terpancar dari Sde Bar, permukiman ilegal Yahudi kecil yang bertetangga dengan permukiman ilegal Yahudi yang lebih besar, Nokdim, tempat tinggal Menteri Pertahanan ‘Israel’ Avigdor Lieberman.

desa-palestina-02-1-november-2016

Sengaja Dikucilkan

Desa ini adalah salah satu dari 241 komunitas Palestina di wilayah kekuasaan ‘Israel’ di Tepi Barat –sebuah zona yang dikenal dengan Area C– yang sangat minim pelayanannya karena ‘Israel’ melarang pembangunan yang akan dilakukan warga Palestina. Demikian menurut kelompok hak asasi manusia (HAM) ‘Israel’, B’Tselem.

Sebenarnya pada tahun 2009, lembaga donor internasional telah mulai memasang lampu-lampu jalan bertenaga surya di Jubbet adh Dhib, namun otoritas ‘Israel’ memerintahkan pembongkarannya. Alasannya, izin untuk pembangunannya belum diterbitkan.

Ketidakadilan yang dihadapi desa-desa Palestina yang miskin seperti Jubbet adh Dhib ini mulai lagi mendapat sorotan ketika pemerintahan Obama mendapat kecaman terkait pengusahaan permukiman ilegal Yahudi karena dinilai melanggengkan konflik ‘Israel’-Palestina.

Jamal Dajani, juru bicara kantor Perdana Menteri Palestina, mengatakan bahwa kesenjangan adalah bagian dari “perampasan tanah sistematik” oleh warga ‘Israel’. “Ini adalah pertempuran demografis dan geografis untuk mendapatkan lebih banyak tanah, dan semakin banyak pemukim ilegal Yahudi di tanah tersebut, serta menekan warga Palestina keluar,” ujar Dajani.

Serdadu Zionis telah menghancurkan rumah-rumah warga Palestina dan sekolah-sekolah yang dibiayai oleh Eropa, toilet-toilet, dan instalasi tenaga surya untuk warga Palestina di Area C.

Menurut B’Tselem pada tahun 2014 dari 242 aplikasi yang diajukan warga Palestina, ‘Israel’ hanya memberi izin pendirian satu bangunan di Area C, dan cuma menyetujui 37 dari 1.640 permintaan izin yang diajukan warga Palestina untuk daerah tersebut antara tahun 2009 dan 2012.

“Otoritas penjajajah Zionis memiliki kewajiban untuk menyediakan layanan ini, tapi ‘Israel’ tidak menyediakannya. Dan jika warga Palestina menyediakannya sendiri, ‘Israel’ merobohkannya,” kata juru bicara B’Tselem Sarit Michaeli. Menurut warga desa, Jubbet adh Dhib pertama kali mengajukan pembangunan listrik pada tahun 1988.

Energi matahari memanaskan air desa dan mengisi daya telepon selular, serta beberapa televisi menyala dengan dua generator desa ketika mesin diesel tersedia. Namun, itu tidaklah cukup, kata sejumlah warga desa. “Ini tahun 2016. Kami memiliki hak atas ketersediaan listrik,” kata Fatima al-Wahsh.

Anggota komite memperjuangkan kepentingan mereka kepada para pejabat yang berwenang, politisi dan pendonor internasional. “Mereka terus membicarakan listrik, listrik dan listrik,” ujar mantan menteri Palestina Mustafa Barghouti. “Seluruh hidup mereka adalah penderitaan,” katanya. “Seluruh hidup mereka adalah pertempuran untuk mendapatkan hal-hal lumrah yang didapatkan kebanyakan orang.”

Tinggal di Dekat Permukiman Ilegal Yahudi=Sengsara

Desa Jubbet adh Dhib, yang dalam bahasa Arab bermakna “Sumur Serigala,” didirikan pada tahun 1920-an. Terletak di dekat permukiman ilegal Yahudi Sde Bar dan Nokdim. Menurut lembaga non-pemerintah ‘Israel’ Peace Now, Nokdim dibangun di atas 114 hektar tanah milik warga Palestina. Para pemukim ilegal Yahudi merampas properti milik warga Palestina.

Tak hanya itu, kekerasan juga kerap dialami warga desa Palestina. Pemukim ilegal Yahudi kerap menyerang penggembala Palestina dan melarang mereka menggembala ternak di dekat Sde Bar. Bagi warga yang masih memiliki kebun zaitun, penjajah hanya mengizinkan mereka mengunjungi kebun beberapa hari dalam setahun, itu pun dengan pengawalan ketat militer ‘Israel’.

Anak-anak Palestina juga harus bersusah payah berjalan sejauh dua mil di jalanan tak beraspal untuk ke sekolah. Warga desa juga harus berjuang jika ingin mengevakuasi korban stroke dan wanita yang ingin melakukan persalinan.

Tentu saja kondisinya berbeda dengan para pemukim ilegal Yahudi. Mereka bebas berjalan dan berkendara di dekat desa Palestina, dan anjing-anjing milik pemukim ilegal Yahudi acap menewaskan domba-domba warga.

Penduduk desa Palestina mengatakan keberadaan permukiman ilegal Yahudi membuat mereka hidup dalam bayang-bayang: menyusutnya lahan dan terbatasnya akses terhadap air. Pun, memaksa para petani menjadi buruh setiap hari atau pindah. “Kami telah dimarjinalkan,” kata anggota komite Amina al-Wahsh. “Akan tetapi, kami ingin anak-anak kami mendapatkan kehidupan yang lebih baik.”* (washingtonpost.com | Sahabat Al-Aqsha/Hen)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pengadilan ‘Israel’ Bebaskan Penjaga Keamanan Zionis yang Bunuh Dua Warga Palestina
Barikade Jalan Bikin Banyak Ibu Palestina Terpaksa Melahirkan di Jalanan »