Hilarion Capucci, Uskup yang Pernah Selundupkan Senjata untuk Pejuang Palestina Itu Wafat
3 January 2017, 22:34.

Hilarion Capucci, Uskup Baitul Maqdis, yang dipenjara oleh ‘Israel’ pada tahun 1970-an karena mentransfer senjata kepada para pejuang Palestina. Foto: MEMO
LONDON, Selasa (Middle East Monitor): Hilarion Capucci, mantan uskup Baitul Maqdis ternama itu wafat di Roma pada Ahad 1 Januari 2017, di umur 94 tahun. Kematiannya meninggalkan duka bagi pemerintah Hamas di Gaza dan Otoritas Palestina yang dipimpin Presiden Mahmoud Abbas, yang menggambarkan Capucci sebagai “pejuang Baitul Maqdis”.
Capucci lahir di kota Aleppo saat masa kekuasaan kolonial Perancis pada Maret 1922. Kota yang pernah menjadi ibukota industri Suriah itu kini menjadi puing-puing akibat perang selama enam tahun. Capucci ditahbiskan menjadi pastor Katholik Basilian Alepian Order pada musim panas 1947, dan sembilan tahun kemudian ia menjadi uskup. Pada 1965 ia menjadi Patriark Vikaris Baitul Maqdis.
Dukung perlawanan
Pada tahun 1960-an, Capucci aktif menulis, berkhotbah, dan mengajarkan tentang keadilan bagi rakyat Palestina, kekejaman dan pelanggaran-pelanggaran HAM ‘Israel’. Ketika revolusi Palestina dideklarasikan pada 1 Januari 1965 Capucci muncul sebagai pembela Palestina dan menjalin persahabatan dengan Yasser Arafat.
“Ia memiliki hubungan yang baik dengan Abu Ammar,” kenang mantan Ibu Negara Suha Arafat, yang merupakan seorang muallaf. Suha mengungkapkan bahwa Arafat sangat mengagumi Capucci dan seringkali mengajaknya ke konvensi-konvensi internasional bersama Mufti Baitul Maqdis.
Berbicara kepada Gulf News, Suha mengungkapkan: “Ia tidak pernah memegang senjata semasa hidupnya, ia merupakan lelaki yang hebat dan hidup dengan keyakinannya meskipun tekanan psikologis dan fisik sangat besar, karena ia menjadi sasaran warga ‘Israel’. Presiden Arafat sangat mencintainya dan begitupula saya, sejak pertama bertemu dengannya di Nablus ketika saya masih kecil.
Ditangkap dan dipenjara ‘Israel’
Pada 8 Agustus 1974, pastor kelahiran Suriah ini ditangkap oleh petugas keamanan Zionis karena menyelundupkan senjata ke Tepi Barat dalam sebuah Mercedes Benz. Ia ditangkap karena kepemilikan granat, senapan, dan lebih dari dua ratus pon bahan peledak yang rencananya akan ia serahkan kepada Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).
Ia diadili di Baitul Maqdis terjajah, tepatnya di Jalan Salahuddin Al-Ayyubi. Salahuddin Al-Ayyubi merupakan nama seorang Sultan Muslim yang berperang melawan tentara salib di Baitul Maqdis. Ruang sidang dihadiri oleh pengacara-pengacara internasional ternama yang membelanya. Ia dihukum karena didakwa menggunakan jabatan dan kedudukan diplomatiknya untuk mendukung “terorisme” dan mendekam 12 tahun di penjara Ramle, sebuah kota yang dikuasai ‘Israel’ di pusat Palestina, di persimpangan yang menghubungkan pelabuhan Jaffa dengan Baitul Maqdis.
Penyokong intifadhah
Pada tahun 2000-2003 ia blak-blakan mengkritik perang di Irak dan penyokong aktif intifadhah Palestina ke dua yang pecah di Baitul Maqdis pada September 2000. Pada 2009, Capucci naik kapal Lebanon yang menuju Gaza. Namun, kemudian disita oleh pasukan Zionis ketika mencoba menembus blokade angkatan laut ‘Israel’.
Pada Mei 2010 Capucci berpartisipasi dalam Freedom Flotilla menuju Jalur Gaza. Ia merupakan penumpang di MV Turki Mavi Marmara, yang diserang pasukan komando ‘Israel’ dan disita pada 31 Mei oleh angkatan laut ‘Israel’. Saat itu sembilan orang tewas dan lainnya terluka.
Pada usia 88, Capucci ditangkap untuk kali ke dua, dan ditawan di penjara Beersheba, kemudian dideportasi di tengah-tengah kecaman keras internasional.
Fadi Esber, editor jurnal sejarah Dimashq, mengungkapkan pada Gulf News:
“Kehidupan dan karya Hilarion Capucci, serta komitmennya terhadap Palestina di atas segalanya. Ia adalah bukti bagaimana orang-orang Kristen Arab selalu mengidentifikasikan diri mereka dengan tanah air Arab mereka. Kini, karena banyak orang Kristen dipaksa ke pengasingan, meninggalkan rumah-rumah mereka di Irak, Suriah, dan Palestina, kehidupan Capucci memberikan pelajaran berharga bagi semuanya. Meskipun kondisi mungkin memaksa banyak orang untuk meninggalkan tanah air mereka, jarak tidak akan pernah membuat orang lupa.”* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
