Yahya Ayyasy, Insinyur yang Ciutkan Nyali ‘Israel’

5 January 2017, 16:41.
    Foto: WikipediaFoto: Wikipedia

PALESTINA, Kamis (Sahabat Al-Aqsha): Hari ini 21 tahun yang lalu kita kehilangan Yahya Abdul Lathif Ayyasy, pemuda kampung yang namanya kini menjadi inspirasi pemuda-pemuda Palestina untuk meneruskan perjuangan dan perlawanan. Jasadnya telah terkubur, namun inspirasinya tetap menyala, tak pernah padam. Kehidupan Yahya Ayyasy memberikan keteladanan kepada kita untuk berani membunuh keputusasaan dan kembali mempersilakan ruh jihad, serta perlawanan merasuki hati, akal dan pikiran kita.

Yahya Abdul Lathif Ayyasy lahir pada 6 Maret 1966 di desa Rafat sebelah barat Salfit, utara Tepi Barat. Ayyash kecil tumbuh sebagai anak yang pendiam dan religius. “Ayyasy anak yang pendiam dan dia tidak banyak berinteraksi dengan anak-anak seusianya,” kata salah seorang pamannya. Ayyasy adalah anak yang cerdas. Saat masih duduk di kelas satu SD, ia sudah hafal materi kelas satu dan dua. Ia menyelesaikan pendidikan dasar enam tahun di desanya, kemudian pindah ke sekolah lain yang masih berdekatan dengan desanya untuk melanjutkan pendidikan menengah.
Pada tahun 1984 ia menyelesaikan pendidikan atas dengan nilai rata-rata 93,8% lalu melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik Elektro di Universitas Birzeit. Selain menonjol dalam ilmu-ilmu umum, sejak kecil Yahya Ayyasy juga mempelajari ilmu syariah, bahkan ia memiliki sanad hafalan Al-Quran.

Pada tahun 1985, saat masih kuliah, Yahya Ayyasy menerima ajakan Ikhwanul Muslimin dan ikut bergabung. Ia menjadi tentara yang taat dan prajurit penting di kota Ramallah. Saat di bangku kuliah ia bergabung dengan Katlah Al-Islamiyyah, sayap mahasiswa Hamas. Karena peran penting, hikmah, adab dan akhlaqnya, ia dijuluki “Syaikh Ikhwan” di Rafat. Tahun 1991 Yahya Ayyasy lulus kuliah dengan nilai memuaskan.
Pada 9 September 1992, ia menikah dengan putri bibinya. Prestasi akademik dan ijazah teknik elektro itu sangat memungkinkan Yahya Ayyasy untuk bekerja di perusahaan besar dengan gaji tinggi. Namun, obsesi terbesar dalam hidupnya adalah jihad dan melakukan perlawanan. Karena itulah, peluang tersebut tidak ia ambil.
Bahkan sempat saat kondisi ekonominya sulit, utusan Hamas mengiriminya sejumlah uang. Lalu, Yahya Ayyasy mengirimkan surat kepada pimpinannya, “Uang yang kalian kirimkan apakah sebagai balasan atas apa yang aku kerjakan selama ini? Aku tidak digaji kecuali dari Allah dan aku meminta kepada-Nya agar ia menerima amalanku. Tujuanku bukan materi, jika yang aku pilih adalah materi, maka aku tidak akan mengambil jalan ini. Kalian tidak perlu memedulikan, taruhlah perhatian lebih pada keluarga syuhada dan para tawanan, mereka lebih membutuhkannya daripada aku.”

Selesai kuliah Yahya Ayyasy bergabung dengan sayap militer Hamas, Brigade Izzuddin Al-Qassam. Tahun 1990, pecah intifadhah pertama. Yahya Ayyasy memainkan peran penting sebagai perakit bom dalam operasi yang dilancarkan. Ia memanfaatkan bahan-bahan kimia dasar yang terdapat di apotek-apotek dalam membuat bom. Setelah itu lahirlah ledakan-ledakan karyanya yang mengguncang ‘Israel’. Operasi peledakan itu menewaskan puluhan serdadu ‘Israel’ dan melukai ratusan yang lain.
Ia kemudian menjadi buronan nomor wahid di Palestina. Pada 25 April 1993 rumahnya sempat digerebek gerombolan serdadu Zionis, seisi rumahnya digeledah. Karena tidak menemukan bukti apapun, ibu dan ayah Ayyasy diancam. Penjajah mengancam akan menghancurkan rumah mereka dan membunuh Yahya Ayyasy. Dengan tegas dan penuh keberanian ibunda Ayyasy menjawab, “Yahya telah pergi tanpa meninggalkan apa-apa untuk kami. Sejak dia menjadi buronan, dia bukan lagi anak kami, dia sudah menjadi anak Brigade Izzuddin Al-Qassam.”

Jum’at, 5 Januari 1996 tidak seperti hari Jum’at biasa. Ketika itu, seluruh Palestina berguncang hebat, perasaan rakyat enggan menerima kenyataan itu. Tak ada sepatah kata pun mampu terucap, isak tangis tak tertahankan seakan lautan air mata membanjiri jalan-jalan Palestina. Innaa lillahi wa innaa ilayhi raji’uun, Yahya Ayyasy mendapatkan apa yang selama ini ia dambakan, syahadah fii sabiilillah.* (Sahabat Al-Aqsha/Dul)

*Diringkas dan diterjemahkan dari buku “Man Around Quds” karya Mahmud Khalifah dengan sedikit tambahan.

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Remaja Palestina yang Ditembak Saat Pulang Sekolah Itu Divonis 8,5 Tahun Penjara
Alhamdulillah, Indonesia Semakin Sayang Pengungsi Aleppo »