Netanyahu Minta Serdadu yang Eksekusi Warga Palestina di Jalanan Dimaafkan

7 January 2017, 21:00.
Foto: Ma'an News Agency

Foto: Ma’an News Agency

AL-KHALIL, Sabtu (IMEMC | Middle East Monitor): PM ‘Israel’ Benyamin Netanyahu meminta serdadu Zionis yang melepaskan tembakan ke kepala warga Palestina yang terluka parah dan tergeletak di tanah tak berdaya, dimaafkan.

Serdadu ‘Israel’ Elor Azaria (20) dinyatakan bersalah atas pembunuhan karena mengeksekusi Abdul Fatah Sharif (21) pada Maret 2016. Vonis atas Elor Azaria akan ditentukan kemudian. Azaria dinyatakan bersalah atas pembunuhan oleh tiga panel juri di pengadilan militer Tel Aviv, Rabu (4/1) lalu. Hakim Maya Heller menolak argumen yang dilontarkan tim pengacara Azaria bahwa Abdul Fatah Sharif telah mati dan Azaria merasa terancam pada saat melakukan penembakan. Hakim dalam persidangan menunjukkan bahwa penembakan yang dilakukan Azaria jelas merupakan serangan balas dendam.

Merespon hal tersebut, Netanyahu menyatakan dalam laman media sosialnya, “Ini hari yang sulit dan menyakitkan bagi kita semua –terutama bagi Elor dan keluarganya, bagi serdadu-serdadu (militer ‘Israel’), bagi banyak serdadu dan bagi orangtua serdadu kita, dan saya yang berada di antara mereka. Kita memiliki satu tentara, yang merupakan dasar eksistensi kita. Para serdadu (militer ‘Israel’) adalah putra dan putri kita.”

Para kritikus menduga Netanyahu mungkin sedang berusaha mengalihkan perhatian dari kasus hukum yang sedang menimpa dirinya, yang ia katakan “akan lenyap”. Para penyidik mendatangi rumah Netanyahu pada Senin (2/1) malam lalu dan memeriksanya selama tiga jam atas dugaan keterlibatan dalam penyalahgunaan politik demi hadiah-hadiah yang melanggar hukum. Pemeriksaan ke dua atas Netanyahu dilakukan pada Kamis (5/1) lalu.

Di luar ruang pengadilan, para pendukung Azaria mencaci para pekerja Palestina yang sedang lewat dengan meneriakkan “Mohammad mati”, sementara yang lainnya terlihat memegang spanduk yang mendukung Presiden AS terpilih Donald Trump. Sementara itu, ratusan pendemo juga memblokir lalu lintas dan bentrok dengan petugas keamanan Zionis di luar markas militer di Tel Aviv, marah atas kemungkinan hukuman yang akan dijatuhkan pada Azaria.

Menjelang hari putusan dakwaan, Human Right Watch mengeluarkan sebuah pernyataan baru yang mendokumentasikan kejadian-kejadian dimana para pejabat senior ‘Israel’ “telah mendorong para serdadu dan petugas keamanan Zionis untuk membunuh warga Palestina yang diduga menyerang warga ‘Israel’. Bahkan ketika mereka tidak lagi menjadi ancaman.

Seperti diketahui, Abdul Fatah Al-Sharif, tergeletak penuh luka di tanah dan tidak bergerak ketika Azaria menembaknya di kepala. Insiden berdarah di Al-Khalil itu direkam oleh seorang relawan HAM Palestina, dan rekaman tersebut menarik perhatian mengenai penggunaan kekerasan mematikan oleh pasukan penjajah Zionis terhadap warga Palestina. Meskipun Azaria dinyatakan bersalah atas pembunuhan, berbagai pertanyaan tetap mengemuka mengenai apakah hukuman Azaria akan diringankan atau ia mungkin malah dimaafkan. Selain Netanyahu, Menteri Kebudayaan dan Olahraga ‘Israel’ Miri Regev sebelumnya juga telah berjanji akan memaafkan si serdadu.* (IMEMC | Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Diduga Terima Suap, Netanyahu Kembali Diperiksa
Pekan Pertama Januari, Penjajah Tewaskan Satu Warga Gaza dan Lukai 56 Orang »