Penjajah Tak Hanya Renggut Kehidupan Tawanan Palestina, Tapi Juga Keluarganya
19 January 2017, 17:14.

Foto: PIC
BAITUL MAQDIS TERJAJAH, Kamis (PIC): Malik Bakirat (36), warga Palestina yang kini tengah memasuki tahun ke-16 masa penahanan di penjara Zionis, merasa sangat sedih jika teringat meninggalkan putrinya yang baru berusia satu bulan, usia dimana seharusnya Malik mendampinginya. Malik berasal dari Sur Baher, ia ditawan sejak tahun 2001 karena didakwa merencanakan operasi militer melawan kepentingan-kepentingan Zionis.
Lina Malik Bakirat, putri Malik Bakirat yang kini akan menginjak usia 16 tahun, dirampas kebahagiaan masa kecilnya. Ia tidak dapat merasakan hidup bersama ayahnya seperti anak-anak yang lain. Memori kenangan yang ada hanya bersama kakek dan keluarganya.
Syaikh Najih Bakirat, orangtua Malik mengatakan, akibat penahanan panjang yang dialami anaknya itu keluarganya sangat menderita. “Di sana ada generasi yang tumbuh tanpa ayah dan keluarga mereka. Keluarga-keluarga itu merasakan kesedihan setiap saat, bahkan saat sedang bergembira. Sebagian tawanan ada yang ditinggal mati ayah dan kerabat, tanpa melihat dan bertemu mereka terlebih dahulu,” kata Najih kepada PIC saat mendeskripsikan penderitaan yang dialami cucunya saat melihat keadaan ayahnya.
Najih menceritakan tentang penderitaan keluarga karena harus menempuh perjalanan sangat panjang demi bisa mengunjungi anaknya, “Untuk mengunjungi Malik dibutuhkan waktu perjalanan 16 jam pulang-pergi. Sementara waktu bertemu yang diberikan hanya 40 menit, itu pun di balik kaca.”
Menurutnya, penderitaan tidak saja dirasakan para tawanan yang keluar-masuk penjara, tetapi juga dirasakan keluarga mereka. Dia menyayangkan karena belum ada program untuk menekan penjajah perihal hal ini.
“Kami sudah berdialog dan mendiskusikan hal ini kepada faksi-faksi Palestina, serta semua yang memiliki kekuasaan untuk segera membebaskan anak-anak kami dari penjara penjajah dengan cara apapun yang dapat ditempuh,” kata Najih. Ia menekankan bahwa para tawanan rela menghabiskan hidup mereka di dalam penjara demi membela hak rakyat Palestina dan tempat-tempat sucinya.
“Kepada segenap rakyat Palestina kalian harus memberikan solidaritas kepada para tawanan dan tetap menjalin interaksi dengan mereka,” tambahnya. Najih bertanya-tanya mengapa puluhan keluarga tawanan seperti hidup di dunia lain. “Padahal kita hidup di satu tanah air, saling berbagi tempat kepada sesama. Dan kita memiliki hak atas tanah Palestina.”
Ia berharap di awal tahun 2017 ini penanganan persoalan tawanan semakin baik. Pun, para tawanan tetap bersatu melawan perlakuan penjajah, serta keluarga tawanan terus bersabar dan tetap menjalin komunikasi dengan anak-anak mereka apapun caranya.* (PIC | Sahabat Al-Aqsha/Dul)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
