Penjajah Tembaki Warga Palestina di Umm Al-Hiran, Satu Meninggal Dunia

19 January 2017, 16:45.
Anggota parlemen Knesset, Ayman Odeh, terluka akibat peluru berlapis karet yang ditembakkan penjajah Zionis ke kepalanya. Foto: Ma’an News Agency

Anggota parlemen Knesset, Ayman Odeh, terluka akibat peluru berlapis karet yang ditembakkan penjajah Zionis ke kepalanya. Foto: Ma’an News Agency

NEGEV, Kamis (Ma’an News Agency): Dua orang tewas dan beberapa lainnya dirawat di rumah sakit kemarin (18/1) setelah operasi penggusuran di desa Badui, Umm al-Hiran, pada dini hari di wilayah Negev pecah menjadi bentrokan. Penjajah Zionis menggunakan peluru-peluru berujung spons, gas airmata, dan granat-granat kejut guna menekan warga dan para relawan yang berkumpul untuk melawan penggusuran.

Warga Palestina di wilayah yang kini diklaim sebagai ‘Israel’ itu ditembak mati oleh pasukan Zionis karena dituduh sengaja menabrak petugas Zionis dengan mobilnya sehingga mengakibatkan sejumlah orang terluka. Namun, sejumlah saksi mata mengatakan bahwa si sopir kehilangan kendali atas kendaraannya setelah ia ditembak sehingga mengakibatkan ia menabrak petugas keamanan Zionis, satu di antaranya tewas.

Warga setempat mengidentifikasi warga Palestina yang tewas itu sebagai Yaqoub Moussa Abu al-Qian (47), seorang guru matematika di SMA al-Salam di dekat kota Hura. Pihak keamanan Zionis kemudian mengonfirmasi bahwa seorang petugas keamanan mereka tewas akibat luka yang dideritanya karena ditabrak mobil adalah Erez Levi (34).

Anggota Knesset Taleb Abu Arar mengatakan bahwa petugas keamanan Zionis membunuh Abu al-Qian dengan kejam. Kata Abu Arar, sebagaimana dikutip situs berita ‘Israel’ Ynet, “Petugas keamanan Zionis menembak al-Qian tanpa alasan. Klaim bahwa ia berupaya menabrak petugas keamanan Zionis sama sekali tidak benar.”

Anggota Knesset Ayman Odeh dan Ketua Joint List –yang mewakili partai-partai yang dipimpin warga Palestina yang tinggal di wilayah yang kini diklaim sebagai ‘Israel’– terluka di kepala dan punggung akibat peluru berujung spons penjajah dan dibawa ke RS Soroka di Beersheba. Laporan awal menyatakan petugas keamanan Zionis menembakkan peluru berlapis karet yang digunakan oleh pasukan Zionis di Tepi Barat terjajah, namun kemudian dibantah oleh petugas keamanan Zionis.

Kemudian muncul sebuah video yang memperlihatkan momen-momen Odeh berlumuran darah di tanah setelah ia ditembak. Odeh menulis dalam laman akun jejaring sosialnya bahwa “Sebuah kejahatan telah dilakukan di Umm al-Hiran karena ratusan anggota petugas keamanan dengan kejam menyerang desa sambil menembakkan bom-bom gas airmata, granat-granat kejut, dan peluru-peluru baja berlapis karet. Warga desa, kaum wanita, pria, dan anak-anak bertahan dengan tangan kosong melawan kebrutalan dan kekejaman petugas keamanan Zionis.”

Ratusan petugas keamanan Zionis tiba di Umm al-Hiran sekitar pukul 5 pagi untuk “mengamankan” area tersebut karena otoritas Zionis akan melakukan operasi penggusuran di desa tersebut. Situs berita ‘Israel’ 972 Magazine mengutip saksi mata dan relawan Kobi Snitz yang menyatakan bahwa petugas keamanan Zionis mulai menarik para pengendara keluar dari kendaraan mereka, menyerang dan mengancam yang lainnya.

Beberapa saat kemudian, Snitz mengatakan ia mendengar tembakan dan melihat sebuah truk pickup putih sekitar 30 meter dari petugas keamanan Zionis, “Mereka mulai menembaki mobil dari segala arah.” Menurut laporan, hanya setelah si sopir kelihatan terluka dan kehilangan kendali atas kendaraannya, barulah mobil itu menerjang para petugas keamanan Zionis. Ini bertentangan dengan laporan versi petugas keamanan Zionis.

Juru bicara petugas keamanan Zionis Micky Rosenfeld dalam sebuah pernyataan tertulis menyatakan bahwa “sebuah kendaraan yang dikendarai oleh seorang teroris dari Gerakan Islam berniat menabrak sejumlah petugas keamanan dan melakukan serangan”, dan karena itulah petugas keamanan Zionis meresponnya dengan tembakan sehingga menewaskan sopir tersebut.

Namun, pernyataan penjajah itu dibantah salah seorang penduduk yang mengatakan pada Ynet bahwa petugas keamanan Zionis “tiba-tiba datang tanpa peringatan, menjatuhkan saya ke tanah dan menembak kaki saya. Paman saya, yang mereka sebut sebagai seorang teroris, merupakan guru di sebuah sekolah… Saat itu ia sedang melakukan perjalanan biasa dan memberi sinyal.” Para saksi mata juga mengonfirmasi kepada LSM Adalah bahwa Abu al-Qian kehilangan kendali atas mobilnya hanya setelah petugas keamanan Zionis menembakinya.

Namun, juru bicara Zionis bersikeras bahwa al-Qian “terlibat dalam pendidikan serta memiliki pengaruh negatif, dan berbahaya.” Relawan desa Raed Abu al-Qian mengatakan pada kantor berita AFP bahwa Yaqoub al-Qian merupakan anggota suku Badui dan memiliki satu dari lima bangunan yang dijadwalkan akan dihancurkan penjajah. “Cerita ‘Israel’ itu bohong. Ia merupakan guru sekolah yang dihormati,” katanya. “Ia tidak terkait dengan Gerakan Islam.”

Otoritas ‘Israel’ masih bersiap untuk melakukan pembongkaran pada pukul 11, ketika bentrokan dikabarkan terjadi lagi. Wartawan ‘Israel’ Mairav Zonszein bercuit di Twitter bahwa petugas keamanan Zionis mendorong dan bertengkar dengan anggota Knesset Joint List yang masih berada di tempat kejadian dan bahwa ketegangan “sangat tinggi”. Pihak keamanan Zionis kabarnya menutup desa tersebut dan melarang wartawan masuk.

Menurut Haaretz, otoritas ‘Israel’ menyetujui pembangunan daerah Yahudi baru di Hiran pada November 2013 yang akan dibangun di tanah Umm al-Hiran. Warga desa kalah dalam upaya hukum yang mereka ajukan, termasuk naik banding ke Mahkamah Agung ‘Israel’, dan tidak mampu mencegah pembongkaran di desa tersebut.

Ynet mengutip ucapan warga desa yang menegaskan, “Kami tidak akan meninggalkan rumah, bahkan jika mereka membunuh kami semua. Tanah air kami di sini dan kami tidak akan pindah dari sini, meski jika kami harus membayar dengan nyawa kami.” Umm al-Hiran merupakan satu dari 35 desa Badui yang “tidak diakui” oleh ‘Israel’. Dan setengah lebih dari 160.000 Badui Negev tinggal di desa-desa yang tidak diakui penjajah Zionis.

Klasifikasi “tidak diakui” desa-desa mereka menghalangi warga Badui untuk membangun atau mengembangkan daerah-daerah mereka. Otoritas Zionis juga menolak untuk memasang jaringan air dan listrik, serta mengecualikan mereka dari akses pelayanan kesehatan dan pendidikan. Kelompok-kelompok HAM menyatakan bahwa penggusuran di desa-desa Badui yang tidak diakui penjajah merupakan pusat kebijakan ‘Israel’ yang bertujuan untuk menyingkirkan populasi asli Palestina itu dari Negev agar bisa memperluas daerah Yahudi ‘Israel’.

“Warga Palestina asal Umm al-Hiran memiliki paspor dan kewarganegaraan ‘Israel’, namun kebijakan-kebijakan pembersihan etnis, penjajahan, pengusiran paksa, dan apartheid ‘Israel’ berdampak sama pada mereka,” kata Maya al-Orzza, peneliti hukum di LSM BADIL, kemarin (18/1). “Kebijakan-kebijakan tersebut menimpa warga Palestina tidak hanya terjadi di Tepi Barat dan Jalur Gaza, tapi juga di dalam ‘Israel’,” tegas al-Orzza.* (Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha)

Foto: Ma’an News Agency

Foto: Ma’an News Agency

Foto: Ma’an News Agency

Foto: Ma’an News Agency

Foto: Ma’an News Agency

Foto: Ma’an News Agency

Foto: Ma’an News Agency

Foto: Ma’an News Agency

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Syaikh Raed Salah Tolak Negosiasi dengan Penjajah, Terutama Soal Urusan Baitul Maqdis
Penjajah Tak Hanya Renggut Kehidupan Tawanan Palestina, Tapi Juga Keluarganya »