Syeikh Raed Salah: ‘Langkah Trump Bisa Jadi Malapetaka’
20 January 2017, 19:40.

Foto: PIC
UMM AL-FAHM, Jum’at (PIC): Syaikh Raed Salah, pimpinan cabang Gerakan Islam di ‘Israel’, mengatakan bahwa janji-janji presiden terpilih AS Donald Trump yang mengakui Baitul Maqdis sebagai ibukota ‘Israel’ dan akan merelokasi kedutaan besar ‘Israel’ ke sana sama saja dengan mendeklarasikan perang terhadap Islam. “Jika janji-janji Trump menjadi kenyataan, sesuatu yang buruk akan terjadi,” kata Salah dalam sebuah wawancara setelah ia bebas dari penjara ‘Israel’ pada Selasa (17/1) lalu.
“Trump, dengan janji-janjinya, menyatakan perang terhadap Islam, legitimasi internasional dan resolusi-resolusi PBB yang menegaskan bahwa Baitul Maqdis adalah kota terjajah,” katanya. Syaikh Salah menyatakan pada stasiun TV Al-Jazeera saat wawancara pada Rabu (18/1) malam bahwa ‘Israel’ kini tengah meyahudisasi Baitul Maqdis. Akan tetapi, tegasnya, upaya itu akan gagal.
Syaikh Salah menegaskan, Masjidil Aqsha masih dalam bahaya. Ia juga menekankan, tidak ada negosiasi atau tawar menawar terkait Al-Aqsha. Ia menunjukkan bahwa intelijen ‘Israel’ berupaya untuk bernegosiasi dengannya terkait Al-Aqsha lima hari sebelum pembebasannya.
Intelijen ‘Israel’ menawarkannya untuk bertemu PM Benyamin Netanyahu atau Menteri Dalam Negeri Aryeh Deri, “Tapi jawaban saya adalah tidak,” Salah menggarisbawahi. Intelijen ‘Israel’ juga menyebutkan bahwa gerakan apapun, asosiasi atau institusi yang membela al-Aqsha dianggap ilegal dan satu-satunya cara baginya untuk berbicara mengenai al-Aqsha adalah dengan menjadi anggota Knesset, yang kata Salah, tidak akan pernah terjadi.
“Kewajiban kita untuk membela al-Aqsha. Di masa lalu, kita bicara tentang penggalian, penyerbuan dan pembagian spasio-temporal, tapi yang terjadi sekarang lebih berbahaya dari sebelumnya. Otoritas penjajah Zionis berupaya mencabut identitas Palestina kita dengan memisahkan kita dari al-Aqsha,” kata Salah.
Syaikh Salah bebas beberapa hari lalu setelah sembilan bulan dipenjara karena “divonis” melakukan penghasutan dalam khutbahnya beberapa tahun lalu. Selama dalam penjara, Syaikh Salah membaca lebih dari 80 buku, menulis empat buku, dan menggubah sejumlah puisi perjuangan selama berada di penjara. Ia mengakhiri dengan mengatakan bahwa ia akan segera menerbitkan sebuah buku yang menggambarkan kondisi para tawanan Palestina di penjara-penjara Zionis.* (PIC | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
