Komite Kementerian ‘Israel’ Setujui RUU Larangan Adzan yang Baru

14 February 2017, 13:45.
Jamaah Muslim hendak melaksanakan shalat Jum’at di kompleks Masjid al-Aqsha. Foto: Mahfouz Abu Turk/Apaimages

Jamaah Muslim hendak melaksanakan shalat Jum’at di kompleks Masjid al-Aqsha. Foto: Mahfouz Abu Turk/Apaimages

LONDON, Selasa (Middle East Monitor): Komite Kementerian Perundang-undangan ‘Israel’ menyetujui amandemen RUU larangan adzan, Ahad (12/2) lalu. RUU tersebut kini siap dibawa ke Knesset untuk pemungutan suara apakah itu akan menjadi UU. RUU tersebut –yang disebut oleh anggota parlemen ‘Israel’ sebagai RUU Muazzin– melarang adzan dikumandangkan dengan pengeras suara kepada masyarakat di ‘Israel’ dan Timur Baitul Maqdis terjajah antara pukul 11 pagi dan 7 malam.

RUU tersebut telah disetujui oleh komite yang sama pada November tahun lalu, tapi Menteri Kesehatan ‘Israel’, Yaakov Litzman, mengajukan perubahan terhadap RUU tersebut, karena khawatir akan berdampak pada penggunaan sirene untuk pengumuman mingguan hari Sabat Yahudi. Menurut surat kabar Times of Israel, RUU itu akan diserahkan kepada Knesset pada Rabu dan akan melalui tiga tahap pemungutan suara sebelum disahkan menjadi UU. Pelanggaran atas larangan adzan menggunakan pengeras suara, ungkap surat kabar tersebut, akan dikenakan denda sebesar 10.000 shekel ($2,665).

Jerusalem Post menyatakan bahwa PM Benyamin Netanyahu mendukung RUU tersebut. Ia menyatakan dalam rapat kabinet bahwa “masyarakat seluruh agama” telah berulang kali mengeluh padanya soal suara bising dari pengeras-pengeras suara masjid. “’Israel’ berkomitmen atas kebebasan seluruh agama, tapi juga bertanggung jawab untuk melindungi warga dari suara bising,” kata Netanyahu.

Netanyahu memang kerap menyatakan bahwa adzan mengakibatkan “kebisingan yang tak tertahankan.” Merespon keluhan Netanyahu ini, Mufti Baitul Maqdis dan Palestina Syaikh Muhammad Husain dalam khutbah Jumatnya 4 November 2016 menegaskan, siapapun yang terganggu dengan adzan silakan saja angkat kaki dari Palestina.

Syaikh Husain menegaskan, “Adzan merupakan syiar ajaran Islam yang ditetapkan Allah, dan akan dikumandangkan pagi-petang di Masjidil Aqsha, serta seluruh masjid di kota Baitul Maqdis dan sekitarnya. Siapapun yang merasa terganggu dengan dzikir Allah silakan hengkang dari negeri yang ditetapkan keislamannya oleh Allah dan hak Muslimnya di sana. Warga Baitul Maqdis dan Palestina berhak menjaga dan memelihara, serta membela tempat suci di sana.” Ia melanjutkan, pertempuran antara kebenaran dan kebathilan akan terus berlanjut sampai hari Kiamat. Dan bangsa Palestina harus tegar atas segala cobaan dan menjaga tempat suci mereka.

Anggota Arab Knesset Ayman Odeh, yang juga pimpinan Joint List, sebagaimana diberitakan Jerusalem Post menyatakan bahwa RUU larangan adzan itu rasis dan populis. “Tujuannya adalah menciptakan atmosfer kebencian dan hasutan terhadap publik Arab,” jelasnya. “Sudah ada UU kebisingan yang diberlakukan terhadap masjid-masjid dan jelas bahwa tujuan RUU itu adalah untuk melabeli masjid-masjid sebagai masalah. Itu jelas merusak kebebasan beragama kaum Muslimin dan penganiayaan berkelanjutan yang dilakukan oleh perdana menteri.” *(Middle East Monitor | PIP | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pemukim Ilegal Yahudi dan Serdadu Zionis Pukuli Penggembala Palestina di Lembah Yordan
Kecam Permukiman Ilegal, Jerman Batalkan Pertemuan dengan ‘Israel’ »