Ratusan Pemuda Palestina Panjat Tembok Pemisah Demi Bisa Shalat Jum’at di Masjidil Aqsha
3 June 2017, 13:35.

Foto: PIC
BAITUL MAQDIS TERJAJAH, Sabtu (PIC): Antusiasme serta rasa cinta kepada Masjidil Aqsha mendorong pemuda-pemuda di Tepi Barat terjajah memberanikan diri memanjat dinding pemisah yang melintang di sepanjang Tepi Barat, kemarin (2/6). Ratusan pemuda di Tepi Barat terjajah berhasil sampai ke Masjidil Aqsha pada Jum’at pertama bulan Ramadhan ini. Mereka berhasil sampai setelah melewati ancaman patroli besar-besaran pasukan penjajah ‘Israel’.
Peraturan buatan penjajah yang melarang ribuan pemuda Palestina berusia di bawah 40 tahun memasuki Masjidil Aqsha tidak memadamkan keinginan mereka untuk bisa shalat di tempat suci ke tiga ummat Islam itu. Melalui jejaring sosial, mereka serempak menyerukan melawan peraturan ini dengan memanjat dinding pemisah demi bisa shalat di Masjidil Aqsha.
Perihal bagaimana mereka bisa memanjat dinding, Ahmad Abu Falah, pemuda dari desa Beita di Nablus menyampaikan bahwa dirinya sangat ingin bisa Jum’atan di Jum’at pertama bulan Ramadhan di Masjidil Aqsha. Dan menurutnya, memanjat dinding pemisah adalah perkara mudah dan bukan sesuatu yang sulit.
“Sebelum tiba di dinding pemisah kami sudah memahami pergerakan patroli pasukan pengawas. Untuk memanjat kami menggunakan tangga panjang, atau terkadang dengan tali dari arah lain. Sebagian kita ada yang terluka dan memar pada bagian kaki dan tangan, tapi tidak mengapa ini bukti cinta kami terhadap Masjidil Aqsha,” kata Ahmad.
Ancaman bidikan peluru
Memasuki waktu fajar Jum’at pertama bulan Ramadhan, warga Baitul Maqdis ikut membantu para pemuda dari desa-desa di Tepi Barat yang dengan segala cara ingin memanjat dinding pemisah supaya bisa shalat Jumat di Masjidil Aqsha Al-Mubarak. Mereka melakukan itu di tengah ancaman bidikan peluru penjajah serta penangkapan pasukan penjajah yang berpatroli 24 jam menjaga dinding.
Meskipun banyak serdadu Zionis yang berpatroli, kamera pengawas yang mengintai mereka, tingginya dinding hingga 12 meter, belum lagi menara-menara pengawas yang berada di depan maupun belakang dinding, banyak pemuda Tepi Barat yang berhasil memanjat dinding pemisah itu.
“Biasanya risiko yang dihadapi saat memanjat dinding adalah luka memar dan patah tulang kaki, atau terkadang ada yang sampai diburu pasukan penjajah. Untuk itu kami dituntut bergerak cepat supaya terhindar dari pasukan penjajah. Sementara itu, keluarga-keluarga di Baitul Maqdis sangat bersemangat melindungi para pemuda dari Tepi Barat, mereka mengawasi pasukan penjajah yang berpatroli di sekitar jalan dekat dinding.” Demikian jelas Mahmud Al Husaini, pemuda asal kamp pengungsi Qalandiya terkait ancaman bahaya yang dihadapi para pemuda yang ingin memanjat dinding pemisah.
Lawan Yahudisasi
Sejak Jum’at pagi pasukan penjajah telah mengerahkan sejumlah pasukan untuk mengawasi dinding pemisah dan ribuan personil telah ditugaskan mengamankan pintu masuk Baitul Maqdis untuk mencegah warga Palestina dari Tepi Barat melaksanakan shalat dan ribath di Masjidil Aqsha.
“Kita harus mampu menaklukkan setiap risiko dan bahaya yang lebih rendah dibanding pahala besar yang menanti kita setelah sampai di Masjidil Aqsha, yang kini tengah dalam ancaman rencana Yahudisasi dan ummat Islam dilarang shalat di dalamnya. Maka, bagi setiap warga Palestina yang berhasil sampai ke Masjidil Aqsha itu merupakan bentuk dukungan dan akan menyulut emosi penjajah ‘Israel’,” kata pemuda Palestina asal Nablus bernama Mu’taz Salamah dengan penuh antusias.* (PIC | Sahabat Al-Aqsha/Dul)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
