‘Kami Hanya Ingin Shalat’
18 June 2017, 10:00.

Warga Palestina berdesak-desakan di pos pemeriksaan 300 di sebelah utara Bayt Lahm demi bisa memasuki Baitul Maqdis untuk shalat Jum’at di Masjidil Aqsha. Foto: Wajdi al-Jaafari/MaanImages
BAYT LAHM, Ahad (Ma’an News Agency): “Kami hanya ingin shalat,” kata Baraa Jawabreh (14) kepada Ma’an di pos pemeriksaan militer 300 di utara Bayt Lahm, setelah pasukan Zionis menolak remaja itu masuk ke Timur Baitul Maqdis terjajah untuk shalat di Masjid Al-Aqsha pada Jum’at ke tiga Ramadhan. Selama Ramadhan, otoritas Zionis hanya mengizinkan pria berusia di atas 40, wanita segala usia, dan anak-anak di bawah 12 tahun dari Tepi Barat terjajah memasuki Baitul Maqdis tanpa izin pada hari Jum’at, sementara yang lainnya hanya dibolehkan masuk jika mengantongi izin yang dikeluarkan ‘Israel’.
Warga Palestina harus mengantre panjang di pos pemeriksaan 300, satu-satunya jalur masuk warga Palestina dari selatan Tepi Barat terjajah ke Baitul Maqdis. Ratusan warga Palestina memadati jalan setapak semen dan logam, keluar melalui pintu putar, melewati detektor logam, dan menunjukkan identitas serta surat izin mereka kepada para serdadu Zionis agar bisa bepergian ke Masjid al-Aqsha untuk shalat. Proses tersebut terkadang bisa memakan waktu berjam-jam, plus suhu musim panas yang sangat menyengat dan puasa, itu berarti frustasi tingkat tinggi.
Pasukan Zionis juga mendirikan pembatas jalan di luar pos pemeriksaan untuk membatasi lalu lintas warga Palestina. Para serdadu ‘Israel’ mencat pembatas jalan dengan warna putih dan biru, warna bendera ‘Israel’.
Bagi saudara sepupu Hussein dan Baraa Jawabre, keduanya berusia 14 tahun, proses berliku dan penuh perjuangan itu sia-sia. Mereka dikembalikan oleh para serdadu ‘Israel’ ke tempat pemeriksaan izin, dikarenakan batasan umur yang diberlakukan ‘Israel’.
Remaja saudara sepupu itu hanyalah bagian kecil di antara ribuan anak-anak Palestina lainnya yang dilarang masuk ke dalam Baitul Maqdis untuk shalat pada hari Jum’at. “Saya sudah berusaha ke Baitul Maqdis tiga kali, tapi setiap kali itu pula para serdadu melarang sepupu dan saya masuk,” kata Hussein kepada Ma’an di pos pemeriksaan. “Kami bangun sangat pagi dan kami bahagia akan shalat di Al-Aqsha.”
Namun, “Penjajah Zionis menghalangi kami,” tambah Hussein. Saudara sepupu itu telah menempuh perjalanan jauh dari kamp pengungsi al-Arroub di kota Al-Khalil menuju Baitul Maqdis untuk shalat.
Tak hanya remaja seperti Hussein dan Baraa, wanita-wanita Palestina pun bersusah payah bahkan harus menahan penghinaan ketika hendak ke Masjidil Aqsha. Para wanita Palestina mengatakan pada Ma’an bahwa mereka dipermalukan saat melintasi pos pemeriksaan, karena para serdadu Zionis memaksa mereka untuk membuka cadar mereka di depan ratusan lelaki dan wanita lainnya – sebuah tindakan yang bisa merendahkan dan memalukan bagi Muslimah. Karena, sebenarnya ada ruang khusus di pos pemeriksaan untuk para serdadu ‘Israel’ yang bisa digunakan untuk memberikan privasi bagi para Muslimah.
Salah seorang wanita yang dipaksa serdadu Zionis untuk melepaskan cadarnya –yang tidak ingin disebutkan namanya– mengatakan pada Ma’an bahwa dia terpaksa melakukannya, “Agar bisa meraih impian saya shalat di Masjid al-Aqsha.”
Ribuan warga Palestina menempuh perjalanan ke Timur Baitul Maqdis terjajah pada hari Jum’at untuk melaksanakan shalat di sana. Dan ‘Israel’ mengerahkan sejumlah besar serdadu Zionis di sepanjang Kota Tua menuju Al-Aqsha.* (Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha)

Seorang wanita Palestina disuruh melepaskan cadar atau niqabnya oleh serdadu Zionis. Foto: Wajdi al-Jaafari/MaanImages

Seorang pria Palestina menunjukkan surat izinnya kepada serdadu Zionis di pos pemeriksaan 300. Foto: Wajdi al-Jaafari/MaanImages

Bocah Palestina berdiri di dekat para serdadu ‘Israel’ bersenjata di pos pemeriksaan 300. Foto: Wajdi al-Jaafari/MaanImages
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
