Israa Jaabis: ‘Adakah Rasa Sakit yang Lebih Parah dari Ini?’
22 January 2018, 15:11.

Israa Jaabis menderita luka bakar dan didakwa atas percobaan pembunuhan setelah mobilnya meledak di dekat pos pemeriksaan ‘Israel’ pada 2015. Israa Jaabis divonis 11 tahun penjara, menderita akibat luka bakar di sekujur tubuhnya dan tidak dirawat dengan layak di dalam penjara ‘Israel’. Foto: Pusat Informasi Wadi Hilweh
PALESTINA TERJAJAH, Senin (Al Jazeera): “Saya merasa takut ketika melihat wajah saya di cermin, jadi bayangkan apa yang orang lain rasakan ketika mereka melihat saya.”
Ungkap Israa Jaabis, seorang ibu Palestina berusia 33 tahun dari Baitul Maqdis yang tersiksa di Hasharon, satu-satunya penjara ‘Israel’ untuk para tawanan wanita Palestina.
Ia didakwa penjajah Zionis atas percobaan pembunuhan setelah mobilnya meledak di sebuah pos pemeriksaan. Ia menolak dakwaan tersebut. Luka bakarnya, katanya, merupakan hasil dari ledakan di dalam mobil akibat kesalahan teknis.
Hancur di dalam, tubuhnya terbakar, dan rasa sakit yang luar biasa. Jaabis mengatakan dua pekan lalu, dalam sebuah surat yang didiktekan kepada pengacaranya, bahwa ia tidak menerima perawatan medis layak dari Dinas Penjara ‘Israel’ (IPS).
Ia menderita akibat luka bakar tingkat pertama dan ketiga pada 60 persen tubuhnya, dan bergantung pada rekan tawanan untuk membantunya dengan tugas-tugas sederhana. Delapan jarinya diamputasi karena meleleh akibat terbakar. Telinga kanannya hampir tidak ada dan meradang terus menerus. Dan hidungnya memiliki lubang menganga di satu sisi; ia bernafas melalui mulutnya. Ia juga menderita akibat gangguan saraf, syok, dan krisis psikologi yang sangat parah.
Ledakan mobil
Pada 10 Oktober 2015, Jaabis sedang membawa furnitur dengan mobilnya menuju rumahnya di kawasan Jabal Al-Mukaber di Baitul Maqdis, karena ia sedang proses pindah rumah. Namun, sekitar 500 meter dari pos pemeriksaan al-Zayyim di Baitul Maqdis, ia kehilangan kontrol atas kendaraannya.
Insiden itu terjadi dua pekan setelah dimulainya “Intifadhah pisau” atau “Intifadhah Al-Quds”, yang ditandai dengan aksi perlawanan individu terhadap penjajah Zionis, berupa aksi menikam, menabrakkan mobil, dan menembak serdadu Zionis atau pemukim ilegal Yahudi yang sebagian besar dilakukan pemuda Palestina.
Para serdadu Zionis berteriak pada Jaabis agar menghentikan mobilnya, yang menyimpang ke jalur yang berdekatan. Tiba-tiba, ledakan terjadi di dalam mobil.
“Versi penjajah Zionis adalah ia berupaya untuk meledakkan mobilnya di pos pemeriksaan, tapi bagaimana mungkin itu yang terjadi ketika jendela mobil tersebut seluruhnya tetap utuh? Bagian luar mobil bahkan tidak berubah warna. Dan jika ada ledakan, Israa akan hancur berkeping-keping,” ungkap Mona Jaabis, saudara perempuan Israa Jaabis.
Yang terjadi pada mobil tersebut adalah kesalahan teknis, kata Mona. “Ada kontak listrik yang memengaruhi kantong udara di roda kemudi, dan bahan kimia di dalam kantong udara mengakibatkan kebakaran,” katanya.
Kelompok hak asasi tawanan Palestina, Addameer, menyatakan kerusakan tersebut mengakibatkan tabung gas meledak.
“Seorang serdadu ‘Israel’ mendekati Jaabis setelah ia meninggalkan mobilnya yang terbakar, berteriak dan mengarahkan senapan padanya, lalu segera mulai menangkapnya,” kata Addameer.
Setelah terjadinya insiden, mobil Jaabis sama sekali tidak diperiksa oleh otoritas ‘Israel’.
Dipenjara di ‘penjagalan’
Jaabis menghabiskan waktu selama tiga bulan di RS Hadassah Ein Kerem, sebelum dipindahkan ke rumah sakit penjara Ramleh, yang dikenal oleh tawanan lainnya sebagai “penjagalan”.
Pada 2017, Jaabis divonis 11 tahun penjara oleh pengadilan pusat di Baitul Maqdis atas dakwaan percobaan pembunuhan.
“Ia tidak mampu untuk melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, menggunakan kamar mandi, atau bahkan mengganti bajunya,” ungkap Addameer. “Meski kondisi Jaabis membutuhkan perawatan medis dan mental yang ekstensif, otoritas ‘Israel’ sepenuhnya mengabaikan kebutuhan mendesaknya.”
Jaabis sedikitnya membutuhkan delapan operasi, termasuk cangkok kulit di sekitar mata kanannya dan rekonstruksi wajah.
Petugas penjara hanya memberikannya obat salep untuk luka bakar, yang sudah habis dalam tiga hari, dan obat penghilang rasa sakit yang, kata Mona, ia khawatir untuk mengonsumsinya karena takut itu akan membuat otaknya kacau.
Israa Jaabis bukan satu-satunya
Tak hanya Jaabis, Mirvat Sadeq, wartawan yang berkedudukan di Ramallah, menyatakan, “Sekarang ini ada delapan tawanan wanita yang menderita akibat luka-luka, beberapa dari mereka kondisinya sangat parah dan harus ada intervensi cepat untuk membebaskan mereka,” kata Sadeq kepada Al Jazeera. Menurut Sadeq, Otoritas Palestina harus menggunakan tekanan politik demi membebaskan mereka.
“Palang Merah Internasional (ICRC) juga sangat kurang dalam melakukan tindakan apapun untuk membantu Jaabis. Itu adalah tugas ICRC untuk memberikan kunjungan permanen dan melaporkan kondisi kesehatan para tawanan, serta mendesak semua pihak untuk bekerja menangani para tawanan yang sakit dan terluka,” jelasnya.
Dua pekan lalu, Jaabis muncul di pengadilan untuk naik banding atas hukumannya. Namun, permohonan bandingnya ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut.
“Adakah rasa sakit yang lebih besar dari ini?” kata Jaabis kepada para wartawan di pengadilan. “Rasa sakit itu terlihat, dan saya tidak mendapat perawatan.”
Ia mengangkat tangannya. “Saya tidak punya jari,” katanya. “Saya sudah berada di sini selama dua tahun. Saya tidak melihat alasan mengapa saya berada di penjara.”
Leah Tsemel, pengacara Jaabis, mengatakan pada Al Jazeera: “Kondisinya sangat tidak baik dan ia sangat kesakitan, serta kacau… Ia mendapat beberapa vitamin, tapi bukan perawatan yang layak dan tidak ada yang dilakukan untuk memperbaiki penampilan fisiknya.”
‘Apakah anak saya takut melihat saya?’
Putra Jaabis yang berusia sembilan tahun, Motasem, tidak memiliki kartu identitas Baitul Maqdis karena ayahnya berasal dari Tepi Barat. Bocah tersebut diperbolehkan melihat ibunya setelah 18 bulan masa penahanannya, tapi kunjungan seperti itu kini telah dihentikan. Menurut IPS itu karena Motasem tidak membawa kartu identitas yang diperlukan.
“Saya tidak punya keinginan untuk makan, dan saya membutuhkan psikiater karena kondisi mental saya semakin memburuk,” kata Jaabis dalam suratnya. “Seringkali saya ingin menangis, dan saya merasakan gunung berapi menggelegak di dalam diri. Apa yang anak saya katakan ketika dia melihat saya? Apakah dia takut?”
Mona mengatakan, “Ini mungkin sudah terlambat. Israa telah mencapai titik keputusasaan dimana terkadang saya pikir lebih baik tidak melakukan apapun sama sekali.”* (Al Jazeera | Sahabat Al-Aqsha)

Dua tahun lalu, sebelum insiden itu terjadi, Jaabis bekerja di panti jompo, mendedikasikan waktunya di badan-badan amal dan sekolah-sekolah, serta mengenakan pakaian badut untuk menghibur anak-anak di RS Augusta Victoria di Timur Baitul Maqdis terjajah. Foto: Palestine Post/Twitter
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
