Karena Tembok Pemisah, Beli Roti pun Harus Lewati Pos Pemeriksaan ‘Israel’
3 February 2018, 15:15.

Anggota keluarga Jumaa, yang rumah mereka dikepung tembok pemisah kontroversial ‘Israel’, di utara Ramallah. Foto: AFP
RAMALLAH, Sabtu (The Straits Times): Logika tembok ‘Israel’ di utara Ramallah, Tepi Barat terjajah nampak jelas – di satu sisi Palestina, dan sisi lainnya permukiman ilegal Yahudi Beit El. Tembok ini menyulitkan kehidupan warga Palestina, salah satunya keluarga Jumaa.
Bagian tembok yang baru dibangun yang membentang di sepanjang jalan di samping permukiman ilegal Beit El mengakibatkan 25 anggota keluarga besar Jumaa berada di sisi berlawanan dari kota Palestina, El Bireh.
Mereka –sebagian terputus dari dunia luar– harus melintasi pos pemeriksaan ‘Israel’ hanya untuk membeli susu dan roti. “Tembok memisahkan kami dari orang-orang dan dari warga Palestina. Saya merasa berada di dalam permukiman ilegal Yahudi, meskipun saya warga Palestina,” kata Hossam Jumaa (54), ayah dari delapan anak. “Kini kami tinggal sendirian.”
Di rumah tersebut, anak-anak dari tiga keluarga bermain di bayangan tembok enam meter, sementara ladang sayuran mereka membujur ke arah pembatas.
Keluarga Jumaa menyatakan, mereka diberitahu tiga tahun lalu oleh otoritas ‘Israel’ bahwa penjajah Zionis akan memperluas tembok sepanjang jalan sehingga mengakibatkan keluarga tersebut berada di sisi lain.
Namun, menurut keluarga Jumaa, pembangunan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim Baitul Maqdis sebagai ibukota ‘Israel’ 6 Desember lalu – yang mendorong meluasnya aksi demo di wilayah Palestina terjajah.
Warga Palestina memandang Timur Baitul Maqdis sebagai ibukota negara masa depan mereka. Namun, wilayah tersebut dengan cepat terkikis oleh pertumbuhan permukiman ilegal Yahudi di seluruh Tepi Barat.
“Pengerjaan (pembangunan tembok-red) yang biasanya dilakukan pada malam hari, tapi setelah aksi protes meluas di wilayah-wilayah Palestina terjajah usai klaim Trump, pengerjaan juga dilakukan pada siang hari,” kata adik Hossam, Hakim (50).
Kementerian pertahanan penjajah Zionis berdalih bahwa tembok tersebut dibutuhkan “setelah terjadinya sejumlah insiden penembakan dari kendaraan ke arah permukiman ilegal Beit El”.
“Pembatas tersebut tidak melanggar tanah milik pribadi, tidak memblokir akses ke rumah-rumah, serta tidak mengubah apapun. Tidak merugikan warga Palestina atau tanah mereka,” urai kementerian Zionis itu.
Padahal kenyataannya, penjajah Zionis merampas tanah warga Palestina untuk membangun tembok tersebut dan membuat warga Palestina kesulitan bahkan untuk memasuki rumah atau ladang mereka sendiri, atau untuk sekadar membeli kebutuhan pokok karena harus terlebih dulu menjalani pemeriksaan di pos pemeriksaan ‘Israel’.
Tembok yang memisahkan keluarga Jumaa berbeda dari tembok pemisah kontroversial ‘Israel’ yang menutup Tepi Barat dari ‘Israel’.
‘Israel’ mulai membangun pembatas itu pada 2002 saat intifadhah Palestina berdarah kedua. Penjajah Zionis menyatakan itu diperlukan untuk menghentikan para penyerang Palestina.
Menurut PBB, sekitar 65 persen tembok pemisah telah dibangun, dengan lebih dari 80 persen berada di dalam Tepi Barat. PBB menyatakan, tembok pemisah itu “menghalangi akses pelayanan dan sumber daya, memisahkan keluarga dan kehidupan sosial (serta) merusak mata pencaharian (warga Palestina-red)”.
Tercatat lebih dari 400.000 warga pemukim ilegal Yahudi tinggal di permukiman-permukiman ilegal di Tepi Barat. PBB menyatakan, keberadaan dan pertumbuhan permukiman-permukiman ilegal itu merupakan salah satu rintangan terbesar bagi perdamaian.
Warga Palestina dilarang memasuki permukiman ilegal Yahudi kecuali dalam kondisi tertentu, dan terjadi ketegangan terus menerus di antara warga Palestina dan para pemukim ilegal Yahudi.
Hossam mengatakan, berada di sisi berlawanan tembok menimbulkan ketakutan baru. Pada awal tahun 1990-an, kata Hossam, mereka menjadi sasaran serangan para pemukim ilegal Yahudi, jendela-jendela rumah mereka dihancurkan.
“Kini, setelah kami berada di area dalam tembok, kami takut akan serangan-serangan oleh para pemukim ilegal Yahudi,” katanya. Jalan yang terdekat juga digunakan oleh serdadu Zionis, dan keluarga itu khawatir bertemu dengan para serdadu Zionis pada larut malam.
Mereka mengatakan, kini anak-anak mereka tidak bisa lagi pergi ke sekolah atau ke toko sendirian tanpa rasa takut. “Kami tidak melihat siapapun lagi,” ujar Miriam (7).* (The Straits Times | Sahabat Al-Aqsha)

Rumah keluarga Jumaa yang dikepung tembok pemisah kontroversial ‘Israel’ di utara Ramallah. Foto: AFP/Abbas Momani
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
