Turki: Keputusan AS Terkait Ismail Haniyah Bisa Merusak Proses Perdamaian
3 February 2018, 19:41.

Foto: Middle East Monitor
LONDON, Sabtu (Middle East Monitor): Turki menyatakan keprihatinannya atas keputusan AS menambahkan nama pemimpin Hamas Ismail Haniyah ke dalam “daftar hitam teroris”. Dalam pernyataan tertulis kemarin (2/2), juru bicara Kementerian Luar Negeri Hami Aksoy menyatakan Turki “prihatin karena keputusan pemerintahan AS ini –yang mengabaikan kenyataan di lapangan– bisa merusak proses perdamaian Timur Tengah, termasuk upaya perdamaian dan rekonsiliasi antar-faksi Palestina.”
“Kami juga berharap bahwa keputusan tersebut tidak akan berdampak negatif terhadap bantuan kemanusiaan dari negara kami dan kegiatan pembangunan ekonomi Gaza,” kata Aksoy.
“Jelas bahwa keputusan ini –yang mengabaikan fakta bahwa Hamas adalah realitas penting dari kehidupan politik Palestina– tidak bisa memberikan kontribusi apapun untuk penyelesaian yang adil, komprehensif dan langgeng dari konflik ‘Israel’-Palestina.”
Rabu lalu, pemerintah AS memasukkan Haniyah dalam “daftar hitam teroris” dan memberlakukan sejumlah sanksi terhadapnya. Di situs resminya, Departemen Luar Negeri AS menuding Haniyah memiliki “hubungan dekat dengan sayap militer Hamas dan telah menjadi pendukung perjuangan bersenjata, termasuk terhadap warga sipil.”
Sementara itu, Departemen Keuangan AS juga menambahkan Haniyah dalam daftar sanksinya, yakni membekukan aset apapun (yang mungkin ia miliki) yang berada di AS. Pun, melarang individu dan perusahaan terlibat dalam transaksi keuangan dengan pemimpin Hamas itu.
Haniyah merupakan pengkritik vokal keputusan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim Baitul Maqdis sebagai ibukota ‘Israel’ akhir tahun lalu.
Terkait dengan keputusan Washington baru-baru ini, Haniyah menegaskan bahwa “pemerintahan AS tidak bisa lagi dianggap sebagai perantara yang jujur dalam proses perdamaian.”
Pada Rabu malam lalu, Hamas mengecam keputusan AS yang menambahkan nama Haniyah ke dalam daftar hitam teroris. Gerakan perlawanan Islam itu menyatakan bahwa langkah tersebut menyingkap keberpihakan Washington kepada ‘Israel’yang telah berlangsung lama.
“Keputusan ini mengungkap kedalaman sikap berat sebelah AS terhadap ‘Israel’, yang telah bekerja sama dalam agresi melawan rakyat kami,” kata juru bicara Hamas Hazem Qassem kepada Anadolu Agency melalui telepon. Langkah tersebut, tambahnya, “secara spesifik menargetkan perlawanan Palestina.” *(Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
