‘Rezim Suriah Bunuhi Rakyat dan Seluruh Dunia Menonton’

25 February 2018, 17:20.
Seorang bocah perempuan Suriah terluka parah setelah rezim Assad melancarkan serangan udara di Ghouta Timur, Suriah, pada 23 Februari 2018. Foto: Smart News Agency

Seorang bocah perempuan Suriah terluka parah setelah rezim Assad melancarkan serangan udara di Ghouta Timur, Suriah, pada 23 Februari 2018. Foto: Smart News Agency

LONDON, Ahad (Middle East Monitor): Mohamed Adel berada di dalam kantornya, ruang bawah tanah di bawah sebuah gedung di Douma, Ghouta Timur, selama beberapa hari. Kamis lalu (22/2) pada tengah malam ia memutuskan mengambil risiko dengan menempuh perjalanan tujuh meter dan berlari ke rumahnya untuk memeriksa kondisi keluarganya. “Itu sangat mengerikan,” katanya – ia berhenti bicara sebentar ketika sebuah rudal menghantam gedung di seberang kantornya.

Sejak meningkatnya pemboman di Ghouta Timur yang dimulai hampir sepekan lalu, ratusan keluarga berupaya berlindung di ruang bawah tanah – banyak yang tanpa makanan dan air, jelas Adel, seorang wartawan yang meliput pembantaian di Suriah. Beberapa hari lalu seorang relawan pergi untuk mendapatkan makanan bagi 200 keluarga yang terjebak di bawah tanah dan tewas.

“Anak-anak tidak makan selama beberapa hari,” kata Adnan Al-Qadiri, yang juga berada di dalam Ghouta. Al-Qadiri merupakan anggota Assous Centre, sebuah organisasi masyarakat sipil yang membantu para wanita di negara tersebut mendapatkan pekerjaan, memberikan dukungan psikososial untuk anak-anak, serta memberikan gandum sehingga warga bisa membuat roti. Namun, kini bahkan toko-toko roti pun telah dibom.

Pada Agustus 2013 di Ghouta Timur, Assad menjatuhkan gas sarin, membunuh lebih dari 1.000 orang. Sebenarnya sejak 2013 sekitar 400.000 penduduk kota tersebut telah dibom dan ditembak oleh rezim dengan maksimal satu atau dua hari waktu jeda per minggu. Namun, pemboman intensif rezim sejak 19 Februari lalu merupakan serangan yang terburuk sejak dimulainya perlawanan warga Suriah.

“Kondisinya sangat, sangat, sangat buruk. Ini yang terburuk sejak awal revolusi. Situasinya semakin memburuk setiap hari, penembakan dan pengeboman meningkat setiap hari. Itu tidak berhenti sejak awal operasi militer,” kata Al-Qadiri.

Sejak Senin (19/2) lalu, tujuh rumah sakit dibom, kata Adel. Rezim Suriah sudah lama menargetkan rumah-rumah sakit, karena itulah pusat-pusat penampungan berada di lokasi-lokasi rahasia, di bawah tanah atau di lahan-lahan pertanian, misalnya. Korban luka dan meninggal dunia dibawa ke sana untuk dirawat karena seluruh ambulans telah dihancurkan. Warga sipil menyebut ini “perang kotor melawan para dokter” karena menargetkan para pekerja medis telah lama menjadi taktik yang digunakan oleh rezim.

“Tak satu pun dari dokter-dokter yang diambil oleh rezim sekarang hidup,” kata Al-Qadiri. “Mereka semua tewas oleh rezim di dalam tahanan, atau bahkan sebelum mereka dibawa ke penjara.”

Siapapun yang bekerja di bidang medis ditargetkan oleh rezim selama revolusi. “Hingga kini rezim terus membom dan menembaki seluruh pusat-pusat medis,” lanjutnya. “Banyak dari rumah-rumah sakit yang dihancurkan selama revolusi di daerah-daerah yang dikuasai oleh para mujahidin dibangun kembali dan para dokter mulai bekerja di sana lagi, tapi rezim kembali menargetkan mereka. Di Douma, Homoriya, Saqba dan Kafr Batna. Sekarang hanya ada satu tempat medis di Douma.”

Sejak Senin lalu, sekitar 22 dari tempat-tempat medis itu juga telah dihantam bom.

Listrik yang sangat penting untuk pusat-pusat medis itu dipasok melalui generator-generator donasi dari PBB, lembaga-lembaga non-pemerintah internasional atau yang diselundupkan melalui terowongan-terowongan sebelum dihancurkan. Terkadang tidak ada listrik sama sekali karena saluran listrik yang dibangun oleh para aktivis enam tahun lalu juga telah dihancurkan yang berarti ada pula kelangkaan air. Ketika generator-generator itu turun para dokter melakukan pembedahan menggunakan lampu dari telepon seluler mereka.

Sangat sulit untuk mendapatkan perlengkapan medis yang dibutuhkan, kata Al-Qadiri, karena selama dua tahun rezim telah menghentikan bantuan medis yang masuk dari kafilah PBB. Obat-obatan di apotek-apotek telah kadaluarsa tapi “tetap saja digunakan”, katanya.

Sejumlah obat diselundupkan, tapi harganya sangat tinggi dan terus meningkat setiap hari. Setelah pembedahan setiap pasien masing-masing diberikan satu pil, maksimal dua pil sehingga cukup untuk semua, kata Al-Qadiri. Sejumlah pembedahan dilakukan tanpa anestesi, tambah Mohamed Adel: “Kami di Ghouta menderita karena kekurangan dalam segala hal yang terkait medis – para dokter dan perawat. Kebanyakan yang ada sekarang adalah relawan-relawan terlatih.”

Ghouta Timur kini hanya memiliki satu dokter dalam masing-masing spesialisasi, contohnya hanya ada satu dokter bedah dan satu dokter anak. Sejak hukuman blokade diberlakukan pada 2013 tidak ada yang mampu masuk termasuk dokter-dokter internasional. “Sejumlah mahasiswa yang mempelajari obat-obatan membantu para dokter setiap hari. Mereka belum lulus, tapi mereka harus membantu,” kata Al-Qadiri.

Pusat-pusat medis tersebut tidak bisa menerima seluruh korban yang cedera – ketika daerah tersebut dibom 100 atau 200 orang yang terluka membutuhkan bantuan medis. “Mereka tidak bisa mengobati semua orang. Mereka harus memilih siapa yang akan segera tewas, kemudian mengobatinya,” tambahnya.

Krisis kemanusiaan yang terjadi selama tujuh tahun di Suriah membuat rakyat yang terus hidup dalam neraka ini mengecam “tuli” dan “bisunya” masyarakat internasional. Pertumpahan darah terus berlangsung karena rezim tidak dituntut untuk bertanggung jawab, kata Adel: “Mereka akan mengulangi kejahatan karena tidak ada penghalang.”

Membawa Suriah ke puncak agenda adalah “mimpi selama Assad di istana kepresidenan,” tambahnya. “Dengan Assad, saya tidak melihat masa depan apapun di Suriah selain perang dan kematian.”

“Kenapa masyarakat internasional tidak melakukan apapun untuk menolong rakyat (Suriah), mereka bisa melakukan sesuatu jika mereka mau tapi mereka tidak mau melakukannya,” kata Al-Qadiri.

“Rezim membunuhi rakyat dan seluruh dunia menyaksikan. Apa yang mereka tunggu? Tidak ada yang tahu,” pungkasnya.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pemindahan Kedubes AS pada Hari Nakbah=Provokasi Ummat Islam
Seorang Balita Suriah Tewas, 13 Lainnya Sesak Nafas dalam ‘Serangan Klorin’ »