Cerita Ustadz Abdul Somad dari Palu

8 November 2018, 10:41.
CERITA UAS DARI PALU (8 November 2018) - 4

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Dakwah UAS

Kepala kambing itu ditombak, dipersembahkan untuk setan –sebuah tradisi lama yang telah dikubur oleh Ulama dan Habib Sayyid Idrus bin Salim al-Jufri yang namanya diabadikan menjadi nama airport itu– dihidupkan kembali.

Ketika tombak mengena kepala kambing, air laut itu pun naik, semua yang dipentas itu habis. Jembatan baja, remuk. Hotel kokoh, ditelan tanah. Gedung-gedung rata.

“Kenapa bapak selamat?” tanya saya.

“Undanganku (untuk menghadiri acara itu) hilang”, jawabnya.

“APBD Sulteng itu 1 triliun. Yang diluluhlantakkan tsunami itu 24 triliun. Hancur dalam 34 detik,” kata sahabat lama saya.

“Ayah, saya khatam Quran, saya ingin makan nasi Padang,” pesan permintaan anak.

Menjelang Maghrib, Ayah pun pergi membelikan nasi padang. Ketika sampai di rumah, kata Ibu, “Tolong beli air galon, habis.” Lalu Ayah pergi membeli air galon.

Pulang dari warung, rumah sudah masuk ke dalam tanah, terdengar suara anak menjerit, “Ayah, saya mendengar suara Ayah, melihat cahaya senter Ayah, tapi air sudah masuk, sedikit lagi leherku tenggelam,” spontan sang ayah berucap, “Ikuti kata-kata Ayah:

Laa ilaaha illallah.”

Kalimat terakhir yang Ayah dengar dari celah reruntuhan itu adalah kalimat tauhid dari seorang anak shalih.

Bapak, berat ujian imanmu. Dulu ketika ia baru lahir, engkau yang membisikkan Laa ilaaha illallah. Ternyata, saat ia akan meninggalkan alam ini, engkau jua yang membisikkan kalimat yang sama.

Lebih 10 meter tanah itu runtuh ke bawah, lebih 40 hektar rata dengan tanah.

“Kenapa ada bendera-bendera di atas tanah itu, Ustadz?” tanya saya.

“Di bawah bendera-bendera itu jenazah yang masih tertinggal”, jawab Ustadz Munif, sahabat saya di Mesir dulu.

Seorang anak, umur lima tahun, tinggal sebatang kara. Ayah, ibu, saudara, semuanya wafat. Setetes pun air mata tak meleleh di pipinya.

Orang-orang bertanya, “Mengapa kamu tidak menangis?” Dia menjawab, “Tuhan marah kalau kita menangis.”

Palu, Donggala, Sigi

29 Safar 1440

7 November 2018

CERITA UAS DARI PALU (8 November 2018) - 3

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Dakwah UAS

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Dakwah UAS

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Dakwah UAS

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Dakwah UAS

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Dakwah UAS

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Dakwah UAS

Foto: Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Dakwah UAS

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pemain Film Hollywood Galang Dana untuk Penjajah Zionis 900 Miliar Rupiah
Ustadz Abdul Somad Tunaikan Amanah Sahabat Al-Aqsha di Palu »