Bangladesh Akan Pindahkan Pengungsi Rohingya ke Pulau Terpencil

5 March 2019, 19:38.
Para pengungsi Rohingya, yang mendarat di pantai utara yang terisolasi dekat perbatasan Malaysia-Thailand, berkumpul di Kangar pada 1 Maret 2019, setelah penahanan mereka oleh otoritas imigrasi Malaysia. Foto: AFP

Para pengungsi Rohingya, yang mendarat di pantai utara yang terisolasi dekat perbatasan Malaysia-Thailand, berkumpul di Kangar pada 1 Maret 2019, setelah penahanan mereka oleh otoritas imigrasi Malaysia. Foto: AFP

BANGLADESH, Selasa (TRT World): Bangladesh akan merelokasi lebih dari 100.000 pengungsi Rohingya ke sebuah pulau terpencil pada pertengahan April. Seorang menteri mengonfirmasi hal itu pada Ahad (3/3). Akan tetapi, ada kekhawatiran lokasi yang dipilih itu kurang ideal.

“Perdana Menteri Sheikh Hasina pekan lalu menginstruksikan penyelesaian relokasi 23.000 keluarga Rohingya ke Bhashan Char pada 15 April,” demikian media setempat mengutip pernyataan Md Enamur Rahman, menteri negara untuk manajemen bencana dan bantuan, setelah bertemu dengan Earl Robert Miller, duta besar Amerika Serikat untuk Bangladesh.

Untuk membuat pulau itu layak ditinggali, semua fasilitas –termasuk rumah, listrik, pusat komunikasi, pelayanan kesehatan, tempat berlindung dari gelombang badai dan topan– telah disediakan, kata Rahman.

Akan tetapi, kelompok-kelompok internasional dan badan-badan hak asasi manusia termasuk PBB, Human Rights Watch, dan Amnesty International telah berulang kali memperingatkan langkah itu berisiko dan mendesak Bangladesh untuk menjalankan proyek itu dengan para pengungsi Rohingya secara sukarela, serta dengan klarifikasi yang wajar.

Menurut Rahman, pemerintah berencana memindahkan sekitar 103.000 pengungsi Rohingya ke Bhashan Char dengan perkiraan biaya lebih dari 275,3 juta dolar, yang sepenuhnya ditanggung pemerintah Bangladesh.

Perjalanan penuh risiko

Sebelum proyek relokasi pengungsi Rohingya dimulai satu tahun lalu, pulau itu tampaknya tidak berpenghuni. Pulau itu sebagian besar digunakan untuk menggembalakan ternak dan pusat kegiatan para perompak.

Pulau itu berjarak sekitar 30 kilometer dari tanah daratan dan 52 kilometer dari distrik Noakhali selatan.

Pada 2013, pulau itu dinyatakan sebagai hutan lindung. Perahu motor adalah satu-satunya alat transportasi ke pulau itu.

Sekitar 1.350 hektar tanah –432 hektar ditempati dan 918 hektar kosong– diusulkan untuk proyek rehabilitasi pengungsi Rohingya.

Perjalanan menuju Bhasan Char sangat sulit dan saat cuaca buruk bisa menjadi perjalanan yang berbahaya.

Ketinggian rata-rata Bhasan Char adalah 2,84 meter di atas permukaan laut, menurut sumber Angkatan Laut Bangladesh.

Sejumlah media lokal dan internasional memberitakan, dibutuhkan sekitar satu setengah jam untuk mencapai Bhasan Char dari daratan terdekat, Noakhali, atau pulau berpenduduk terdekat, Hatia, dengan perahu pukat atau perahu motor. Pulau ini juga rawan erosi sungai.

Akan tetapi, musim gugur yang lalu Anadolu Agency mendapati bahwa butuh waktu lebih dari dua jam untuk mencapai pulau itu dengan perahu motor baik dari Hatia atau Noakhali.

Menurut data Departemen Kehutanan dan informasi yang tersedia, bagian dari pulau itu menghilang ke laut setiap tahun karena erosi.* (TRT World | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Gerombolan Serdadu Zionis Pukuli, Caci Maki dan Tangkap Warga Palestina di Baitul Maqdis
Penjajah Zionis Larang 133 Warga Baitul Maqdis Masuk Masjid Al-Aqsha »