‘Kami Hanya Ingin Jadi Wanita, Jalani Hidup dan Dihargai’

8 March 2019, 21:20.
Foto: Meryem Goktas/Anadolu Agency

Foto: Meryem Goktas/Anadolu Agency

AZAZ, Jum’at (Anadolu Agency): Ketika dunia merayakan Hari Perempuan Internasional, seorang perawat di Suriah mengingat kembali perjuangan yang dihadapi para wanita Suriah sejak terjadinya perang pada tahun 2011.

Elif –yang tidak memberikan nama belakangnya karena alasan keamanan– seorang perawat anak-anak di sebuah rumah sakit di provinsi Azaz, Suriah, yang didirikan oleh Asosiasi Dokter Independen, menyatakan Hari Perempuan Internasional tidak berbeda dengan hari-hari lain dalam kehidupan seorang wanita Suriah.

“Kami –para wanita Suriah– tidak hidup dan merasakan Hari Perempuan Internasional,” katanya kepada Anadolu Agency.

Elif mengatakan bahwa akibat perang, tanggung jawab hidup wanita Suriah meningkat seiring dengan perjuangan yang harus mereka hadapi setiap hari.

Konflik di Suriah dimulai pada 2011 ketika rezim Bashar al-Assad menindak para pengunjuk rasa dengan kekejaman yang tak terbayangkan.

Ratusan ribu warga sipil tewas atau mengungsi akibat konflik, sebagian besar karena serangan udara rezim yang menargetkan daerah-daerah yang dikuasai oposisi.

Elif mengatakan bahwa kehidupan di kamp-kamp pengungsi sangat sulit bagi kaum wanita karena kurangnya pelayanan kesehatan dan keamanan.

“Saya belajar di sini (di rumah sakit) tentang apa artinya menjadi seorang wanita. Kondisi kehidupan wanita di Suriah sangat sulit. Mereka mengalami kesulitan. Misalnya, para wanita yang tinggal di kamp-kamp (pengungsi), mereka yang selamat dari bom dan trauma. Wanita-wanita ini mengalami masalah psikologis dan fisik,” katanya.

Elif mengatakan, wanita-wanita Suriah juga hidup dengan kecemasan yang dipicu oleh perang yang sedang berlangsung, dan ini juga memengaruhi keluarga mereka.

“Sebagian besar wanita tidak ingin punya anak karena mereka takut tidak akan bisa merawat mereka,” ujarnya.

Ia mengatakan telah bertemu banyak wanita dengan berbagai cerita di tempat kerjanya, Elif menegaskan bahwa perang menghantam para wanita dan anak-anak paling keras.

“Apa yang akan saya makan besok? Apakah akan ada bom? Apakah saya bisa mendapatkan roti atau makanan lain? Kekhawatiran ini menyusahkan para wanita. Mereka khawatir tentang masa depan,” tambahnya.

Karena 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional, Elif mengungkapkan harapan bahwa wanita-wanita Suriah pada akhirnya dapat turut serta merayakannya.

“Saya berharap suatu hari, kami juga dapat merayakan Hari Perempuan Internasional seperti wanita lain di dunia dan bisa merasakan bahwa kami adalah wanita,” ungkapnya.

“Kami hanya ingin menjadi wanita, menjalani hidup kami dan dihargai.”* (Anadolu Agency | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« INFOGRAFIS – Begini Nasib Wanita di Suriah
Ribuan Orang Hadiri Pemakaman Samah Mubarak »