28 Muhajirin Suriah di Yordania Tuntut Assad atas Kejahatan Kemanusiaan

14 March 2019, 21:22.
Dua lelaki Suriah mengendong bayi melewati reruntuhan bangunan setelah terjadinya serangan udara di kawasan Salihin di Aleppo. Foto: Ameer Alhalbi/AFP/World Press Photo Handout

Dua lelaki Suriah mengendong bayi melewati reruntuhan bangunan setelah terjadinya serangan udara di kawasan Salihin di Aleppo. Foto: Ameer Alhalbi/AFP/World Press Photo Handout

BEIRUT, Kamis (The Telegraph): Pengacara hak asasi manusia pekan lalu (7/3) mengajukan tuntutan terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad dan pemerintahnya di Den Haag, setelah membuat “terobosan” dalam rangka meminta pertanggungjawaban rezim.

Tuntutan, yang diajukan kepada kepala jaksa penuntut umum di Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada Kamis lalu itu, adalah atas nama 28 pengungsi Suriah di Yordania.

Masing-masing dari 28 orang itu telah bersaksi mengenai pengeboman, penembakan, penahanan, penyiksaan, dan pembunuhan massal sejak perang dimulai pada 2011, yang memaksa mereka melarikan diri.

Suriah bukan merupakan penanda tangan Statuta ICC, yang berarti sebelumnya tidak mungkin menuntut pemerintah.

ICC dapat menyelidiki kejahatan internasional di negara mana pun jika Dewan Keamanan PBB meminta hal itu, seperti yang terjadi di Sudan dan Libya. Akan tetapi, Rusia dan China, keduanya sekutu rezim Assad, memblokir permintaan AS untuk membawa Suriah ke hadapan pengadilan pada 2014.

Sejumlah kecil penuntutan telah diajukan terhadap Suriah di Jerman dan Swedia menggunakan yurisdiksi universal, di mana pelaku kejahatan internasional dapat dituntut di negara-negara tersebut terlepas dari kewarganegaraan mereka, tapi sebagian besar bersifat simbolis.

Pengacara Inggris sekarang berusaha untuk menggunakan preseden hukum yang ditetapkan dari keputusan penting ICC yang dibuat pada bulan September terhadap pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Pengadilan menyatakan bahwa meskipun Myanmar bukan anggota ICC, Bangladesh merupakan anggota, dan karena dugaan kejahatan deportasi terjadi di wilayah Bangladesh maka kepala jaksa penuntut umum memiliki yurisdiksi.

Para pengacara berusaha menggunakan prinsip yang sama dalam kasus dua puluhan pengungsi Suriah di Yordania, yang mereka katakan mewakili ribuan korban dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan.

“Semua kejahatan yang dilakukan pemerintah Suriah selama bertahun-tahun – pengeboman, serangan bahan kimia, belum dapat dipertimbangkan karena terjadi di dalam wilayah Suriah dan Suriah bukan anggota ICC,” kata Rodney Dixon QC, seorang pengacara hak asasi manusia internasional yang bekerja dengan tim dari pengacara Stoke White yang berbasis di London, kepada The Telegraph.

“Ada jalan buntu selama bertahun-tahun, tapi kasus Rohingya baru-baru ini telah menjadi terobosan.

“Kami meminta jaksa penuntut untuk menyelidiki deportasi massal, sehingga mereka dapat mengeluarkan surat perintah penangkapan bagi mereka yang bertanggung jawab. Ini terus berlanjut hingga ke Assad, panglima tertinggi,” katanya. “Jika terbukti bertanggung jawab, orang-orang ini dapat menghadapi penangkapan jika mereka bepergian ke negara-negara anggota ICC.

“Kami hanya berharap itu akan berfungsi sebagai pencegah, terutama terkait nasib Idlib,” kata Dixon, merujuk pada provinsi padat penduduk terakhir di Suriah yang dikuasai oposisi, yang saat ini sedang diserang oleh pemerintah.

Sejak 2011, lebih dari 600.000 orang telah tewas dan separuh dari 21 juta penduduk negara itu telah mengungsi secara internal atau eksternal.

Di daerah-daerah strategis di seluruh negeri, warga Sunni, yang sebagian besar mendukung pemberontakan terhadap rezim, telah dipaksa keluar.

Salah satu dari 28 orang yang mengajukan tuntutan itu mengatakan bagaimana mereka terpaksa melarikan diri ke Yordania, yang menampung lebih dari 1,5 juta pengungsi Suriah.

Seorang wanita, yang meminta tidak disebutkan namanya karena takut akan pembalasan rezim, menggambarkan bagaimana pasukan pemerintah menargetkan keluarganya setelah saudara lelakinya memutuskan untuk meninggalkan militer. Dia bersaksi tentang penggerebekan berulang di rumah keluarganya pada tengah malam, dan mengancam keluarganya dengan kematian ketika mereka tidak menemukan saudara lelakinya.

Mereka melarikan diri dari Suriah ke Yordania pada akhir 2011.

Wanita lainnya, dari kota Homs, mengatakan dia menjadi sasaran karena pekerjaannya merawat para demonstran di masa-masa awal konflik.

Ia mengatakan tentara mencoba merekrut putra sulungnya, tapi sang putra menolak. “Dia dibawa pergi dan dibawa kembali ke rumah kami beberapa hari kemudian, sekujur tubuhnya memar dan tidak mengenali saya,” katanya. “Kami tahu kami harus pergi.

“Saya pergi bersama empat anak saya lainnya dan kami pergi ke Yordania,” kata wanita itu, yang sekarang tinggal di kamp pengungsi Zaatari. “Itu adalah perjalanan yang sangat sulit. Saya belum pernah mendengar kabar dari putra saya selama bertahun-tahun, saya tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah mati.”* (The Telegraph | Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Ribuan Orang Berunjuk Rasa Tuntut Pembebasan Anak-anak dan Wanita dari Penjara Suriah
INFOGRAFIS – Begini Nasib Anak-anak di Suriah »