HRW: Penempatan 29 Muhajirin Rohingya di Pulau Rawan Bencana Bukan Solusi, Karantina Kian Berisiko

7 May 2020, 10:20.
Sumber: Aljazeera

Sumber: Aljazeera

BANGLADESH (Aljazeera) – Lembaga kemanusiaan telah menyatakan kekhawatirannya terhadap dua puluhan warga Rohingya yang dibawa ke pulau tak berpenghuni di Teluk Bengal, setelah pada akhir pekan lalu mereka mendarat di pesisir selatan Bangladesh.

Pemerintah mengatakan bahwa sebanyak 29 Muhajirin Rohingya telah direlokasi ke Pulau Bashan Char, yang selama ini menuai kontroversi, pada Sabtu (2/5/2020) lalu; sebagai langkah pencegahan agar wabah Covid-19 tidak menyebar ke kamp pengungsian di Cox’s Bazar.

“Di saat wajibnya antisipasi atas penyebaran Covid-19, Bangladesh memang menghadapi ancaman dengan bersedia membantu warga Rohingya yang telah lama terombang-ambing di tengah lautan itu. Namun mengirim mereka ke pulau rawan bencana tanpa penyediaan layanan kesehatan yang memadai bukanlah solusinya,” kata Brad Adams, Direktur Eksekutif Human Rights Watch (HRW) divisi Asia pada Selasa (5/5/2020).

“Segala tindakan karantina harus memastikan tersedianya akses bagi lembaga kemanusiaan serta keamanan dari badai yang sering mengancam, sekaligus jaminan untuk kepulangan mereka kepada keluarganya di daratan utama.”

Tahun lalu, di pulau yang penuh kawasan berlumpur dan rentan terjadi badai itu, pemerintah Bangladesh telah membangun tempat tinggal bagi 100.000 orang.

Alasannya, pemerintah harus mengurangi kepadatan di kamp pengungsian yang telah menampung hampir satu juta warga Rohingya tersebut.

Muhajirin Rohingya yang diselamatkan tersebut menjadi penghuni pertama di pulau Bashan Char, yang sementara ini akan dijaga oleh angkatan laut Bangladesh, sebagaimana disampaikan pemerintah setempat.

Pemerintah mengatakan bahwa kelompok Muhajirin Rohingya – yang di dalamnya terdapat 15 perempuan dan 5 orang anak– terpaksa mendarat di pesisir Bangladesh setelah sebelumnya tak diperbolehkan memasuki wilayah Malaysia.

Dengan alasan pencegahan wabah Covid-19, Malaysia menutup wilayahnya dari semua kapal Muhajirin Rohingya yang datang. Diperkirakan ada sekira 500 orang Rohingya yang terombang-ambing di tengah lautan karenanya.

Bangladesh juga tak mau mengizinkan kapal-kapal Rohingya tersebut mendarat di wilayahnya, meski PBB sudah memerintahkan untuk menerima mereka; sebab badai besar diperkirakan akan mengancam wilayah tersebut.

Akhir bulan lalu, Menteri Luar Negeri AK Abdul Momen mengatakan bahwa para pengungsi Rohingya “bukan merupakan tanggung jawab Bangladesh.”

“Mengapa kalian menyuruh Bangladesh untuk menerima orang-orang Rohingya itu? Mereka berada di tengah lautan, yang sama sekali bukan wilayah perairan Bangladesh,” kata Momen, dengan menekankan bahwa ada 8 negara di sekitar Teluk Bengal.

Sejauh ini, tidak ada kasus virus corona yang ditemukan di kamp pengungsian di Cox’s Bazar, yang menjadi tempat bernaung Muslim Rohingya setelah lari dari pembantaian militer Myanmar di tahun 2017.

Rencana untuk memindahkan para pengungsi Rohingya ke Pulau Bashan Char telah lama ditentang oleh komunitas Rohingya.

UNHCR melalui juru bicaranya, Louise Donovan, juga mengatakan pada Ahad (3/5/2020) bahwa penelitian yang komprehensif harus dilakukan terlebih dahulu sebelum pemindahan penduduk ke sana.

“UNHCR telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menjamin karantina yang aman bagi para pengungsi Rohingya yang datang dengan kapal ke Cox’s Bazar, sebagai langkah pencegahan terkait wabah Covid-19 ini,” jelasnya.

Pada pertengahan bulan April kemarin, 396 Muhajirin Rohingya diselamatkan dari kapal yang terdampar di Teluk Bengal selama lebih dari dua bulan dalam kondisi kelaparan. Sedikitnya 60 orang di antaranya kehilangan nyawa.

Mereka yang selamat lalu dikirim ke pusat penampungan sementara di dekat perbatasan kamp untuk menjalani karantina.

Setiap tahunnya, ribuan Muhajirin Rohingya terus menerus mencoba mencari suaka ke negara lain, hingga rela berdesak-desakan dalam kapal yang ukurannya tak seberapa.

Kondisi itu membuat mereka semua berada dalam bahaya karena kapasitas yang berlebihan. (Aljazeera)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« SIRAMAN MANIS DARURAT – Sahabat Al-Aqsha Sedang Danai Penerjemahan Al-Quran ke Bahasa Rohingya
Ketua Arakan Rohingya National Organization: Muslimah-muslimah Rohingya Diperkosa di Kapal yang Mengungsikannya »