Ungkap Hasil Investigasi soal Pulau Bhashan Char, HRW: “Delegasi Dikirim Tanpa Koordinasi”
20 September 2020, 09:01.

Tangkapan layar dari rekaman video
BANGLADESH (HRW) – Human Rights Watch (HRW) mengeluarkan hasil investigasinya terkait pengiriman tim perwakilan Muhajirin Rohingya dari kamp Cox’s Bazar ke pulau Bhashan Char pada awal bulan ini.
Tujuan mereka adalah untuk meninjau kondisi pemukiman di pulau terpencil itu.
HRW mewawancarai 20 dari 40 orang anggota tim kunjungan. Hasilnya, “Beberapa mengatakan bahwa mereka ingin agar para pengungsi yang ditahan bisa diizinkan untuk pulang bersama mereka. Sebagian lainnya menyatakan kekhawatiran serius terkait kualitas fasilitas kesehatan di pulau tersebut, minimnya peluang mencari penghidupan, serta keamanannya terutama ketika musim badai menerpa.”
Dua orang yang diwawancara mengatakan bahwa saat seorang wanita Rohingya berteriak histeris karena untuk pertama kalinya bisa bertemu saudara laki-lakinya lagi, petugas keamanan Bangladesh langsung memukulnya hingga membentur tembok.
Sementara saudara laki-lakinya yang menjadi bagian dari tim peninjau mengatakan; “ketika kami bisa berjumpa lagi, mereka semua menangis dan memohon agar bisa dibawa kembali kepada keluarganya. Aku merasa tak bisa apa-apa, dan terpaksa meninggalkan saudariku di pulau yang bak penjara itu.”
Salah seorang delegasi lainnya menyebutkan, “Hampir seluruh wanita yang berbicara denganku mengatakan jika keinginan mereka hanyalah untuk bisa meninggalkan Bhashan Char dan berkumpul lagi bersama keluarganya.”
Para Muhajirin Rohingya yang berkunjung juga mengutarakan kekhawatirannya akan fasilitas kesehatan.
Banyak saudara sebangsanya yang ditahan di pulau itu mengatakan bahwa mereka tidak mendapat layanan kesahatan yang layak dari petugas di kamp.
Salah seorang di antaranya berkata, “Jika seorang sakit parah, pilihan terdekat adalah dibawa ke rumah sakit yang jarak tempuhnya paling cepat tiga jam perjalanan menggunakan perahu.”
“Memang kita juga bisa saja terkena sakit parah di kamp (Cox’s Bazar). Tapi setidaknya ada fasilitas kesehatan di sana dan lembaga-lembaga yang bisa membantu memberikan penanganan,” jelasnya.
Aspek lain yang dikhawatirkan para Muhajirin Rohingya ialah sumber penghidupan.
Salah seorang di antaranya menerangkan, “aku tidak akan mau tinggal di Bhashan Char. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa tak ada yang bisa dijadikan sumber penghidupan.”
Lanjutnya, “Bagaimana bisa pemerintah menjanjikan bercocok tanam dan beternak di kawasan yang penuh dikelilingi tambak.”
Brad Adams, Direktur HRW untuk wilayah Asia berkata, “Pemerintah Bangladesh menahan para pengungsi di pulau terpencil, terpisah jauh dari keluarganya, dalam upaya untuk mengklaim bahwa pulau tersebut aman dan sudah layak huni.”
“Kepastian apakah Bhashan Char sudah layak huni dan aman untuk jangka panjang, baru bisa ditentukan setelah mengizinkan utusan ahli PBB untuk melakukan penilaian di sana,” tegas Adams.
Pengiriman tim kunjungan dari kamp pengungsian tersebut dilakukan tanpa berkonsultasi baik dengan badan-badan PBB maupun organisasi kemanusiaan lainnya.
Sampai saat ini pemerintah Bangladesh masih belum mengizinkan PBB untuk mengunjungi 306 Muhajirin Rohingya yang ditahan di sana. (HRW)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
