Enam Tahun Terakhir, Rezim China Sekap Jutaan Warga Uighur di Kamp Konsentrasi

21 September 2020, 18:47.
Rekaman video menunjukkan serdadu China menggiring tahanan yang ditutup matanya dan dibelenggu ke kamp penyiksaan. Sumber: The Sun

Rekaman video menunjukkan serdadu China menggiring tahanan yang ditutup matanya dan dibelenggu ke kamp penyiksaan. Sumber: The Sun

XINJIANG (The Sun | SCMP | Bitter Winter) – Beberapa tahun terakhir, rezim China telah menggunakan kamp konsentrasi sarat penyiksaan untuk menganiaya Muslim Uighur di Xinjiang.

Pada 2018, seorang wanita yang berhasil lolos, Mihrigul Tursun (29 tahun), mengatakan kepada politisi AS bahwa dia telah disetrum.

“Saya pikir lebih baik saya mati daripada melalui penyiksaan ini,” katanya.

Korban lain, Kayrat Samarkand, menceritakan penjaga kamp menyuruhnya memakai baju besi yang beratnya lebih dari 50 pon atau sekira 23 kilogram.

“Kondisi itu memaksa lengan dan kaki saya dalam posisi terulur. Saya tidak bisa bergerak sama sekali, dan punggung saya sangat sakit.”

Qelbinur Sidik, yang lolos dari kamp Desember tahun lalu, mengungkapkan kekerasan, kebrutalan, dan kesadisan kamp konsentrasi.

Yang paling melukai memorinya adalah pemerkosaan dan pelecehan seksual yang dilembagakan oleh rezim komunis China, yang dialami para wanita Uighur di Provinsi Xinjiang.

Hari Buruh 1 Mei telah diubah gaya menjadi “Hari Persatuan Etnis Nasional” di Xinjiang, dan pada 2016 digabungkan dengan hari aktivitas antar-etnis; seperti makan, menari, dan memasak bersama.

Staf rezim komunis mulai dipasangkan dengan penduduk desa, dengan tujuan membendung “separatisme, ekstremisme, dan terorisme”, melalui program “berpasangan dan menjadi keluarga”.

Faktanya, program ini menjadi jalan rezim memangsa para wanita Uighur. Kader rezim yang tinggal bersama warga Uyghur di rumah mereka, terus meneror jantung setiap wanita Uighur.

“Bagaimana jadinya jika setiap keluarga Uyghur memiliki “kerabat” Tionghoa Han yang akan mengunjungi, tinggal bersama Anda, tidur dengan Anda, mengajari Anda, dan memantau setiap gerakan dan setiap pikiran Anda?”, ujar Qelbinur Sidik.

Pekerja konsulat Inggris, Simon Cheng, mengungkapkan dirinya diculik dan disiksa di sebuah kamp.

Dia berkata bahwa matanya ditutup, tangannya diborgol dan dibelenggu. Tubuhnya sempat digantung. Ia dipaksa berlutut atau jongkok, dilarang tidur, hingga dipukuli.

Tetapi rezim China selalu menyangkal fakta tersebut dengan dalih situs itu hanyalah “pusat pelatihan kejuruan”; untuk “menindak terorisme dan membantu mereka yang miskin”.

Wartawan dan kelompok HAM dilarang keras untuk meninjau kamp-kamp yang sangat tertutup itu.

Laporan “Resmi” Rezim Akui Jutaan Orang Masuk Kamp

Sebuah laporan “resmi” dari rezim komunis China mengungkapkan ruang lingkup “program”.

Lebih dari satu juta pekerja – termasuk 415.000 dari Xinjiang selatan – telah melalui (baca: disekap, red) kamp tersebut setiap tahun antara 2014 dan 2019.

Tidak diketahui apakah terdapat orang-orang yang disekap lebih dari sekali.

Angka terbaru menunjukkan, hampir delapan juta orang – dari populasi sekira 25 juta – kemungkinan telah disekap di kamp.

Para aktivis HAM mengatakan warga Xinjiang telah menjadi sasaran pengawasan, pembatasan ketat terhadap agama dan budaya, dan sterilisasi paksa terhadap perempuan – alias genosida budaya.

Pekan ini, seorang anggota parlemen Inggris menyamakan pusat-pusat itu dengan kamp konsentrasi.

Tory Tom Tugendhat mengatakan kepada Telegraph bahwa saat ini terhimpun bukti yang jelas dan tak terbantahkan tentang penganiayaan terhadap lebih dari satu juta orang di kamp konsentrasi.

Baik berupa pelecehan fisik, sterilisasi paksa, kondisi keseharian yang sangat kotor, dan program indoktrinasi yang dipimpin negara.

Adrian Zenz, seorang akademisi bidang keahlian tentang Xinjiang, mengatakan angka-angka tersebut memberikan gambaran tentang ruang lingkup kerja paksa melalui “pelatihan terpusat dan militerisasi”.

H&M Putuskan Hubungan

Pekan ini, produsen pakaian ternama Swedia, H&M, menyatakan mengakhiri hubungan “tidak langsung” dengan pemasok China karena diduga kuat memberlakukan sistem kerja paksa.

Langkah ini menindaklanjuti laporan bahwa kapas yang bersumber di Xinjiang diproduksi oleh Muslim Uighur yang dipekerjakan secara paksa di pabrik.

Manajemen H&M menyatakan bahwa mereka tidak akan lagi mengambil kapas dari Xinjiang, yang merupakan wilayah penanaman kapas terbesar di China.

Perusahaan juga mengatakan telah melakukan penyelidikan di semua pabrik manufaktur garmen di China, yang menjadi mitra mereka, guna memastikan mereka tidak melakukan skema kerja paksa. (The Sun | SCMP | Bitter Winter)

Sumber: AFP via The Sun

Sumber: AFP via The Sun

Sumber: AFP via The Sun

Sumber: AFP via The Sun

Sumber: The Sun

Sumber: The Sun

Sumber: The Sun

Sumber: The Sun

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Ungkap Hasil Investigasi soal Pulau Bhashan Char, HRW: “Delegasi Dikirim Tanpa Koordinasi”
Anak-anak Palestina Ditawan di Sel Penuh Serangga dan Berbau Busuk »