Para Ibu dari Turki, Swiss, dan Bosnia Bergerak Bersama Membantu Anak-anak Suriah

27 September 2020, 09:59.
Anak-anak Suriah berpose pada saat keluarga mereka bersiap untuk menyelamatkan diri dari kamp muhajirin di daerah timur Sarmada, wilayah utara Provinsi Idlib, Suriah, 16 Februari 2020. (AFP)

Anak-anak Suriah berpose pada saat keluarga mereka bersiap untuk menyelamatkan diri dari kamp muhajirin di daerah timur Sarmada, wilayah utara Provinsi Idlib, Suriah, 16 Februari 2020. (AFP)

SWISS (Daily Sabah) – Sejumlah ibu yang berasal dari Turki, Swiss, dan Bosnia bergerak bersama untuk membantu 100.000 anak Suriah yang menjadi korban perang berkepanjangan.

Berbasis di Swiss, asosiasi internasional For Children Smile didirikan oleh empat ibu dari Turki, Bosnia-Herzegovina, dan Swiss. Saat ini semua relawannya adalah kaum ibu.

Bertekad untuk membuat anak-anak Suriah tersenyum, para ibu menyediakan makanan, mainan, perlengkapan pendidikan, peralatan stasioner, dan pakaian untuk anak-anak yang berada di Provinsi Hatay, Turki Selatan, serta berbagai wilayah di Suriah Utara.

Mayoritas anak-anak yang mendapat bantuan adalah anak yatim piatu atau cacat, karena asosiasi tersebut mengutamakan kelompok rentan.

Asosiasi telah membangun sekolah untuk menaungi 615 anak yatim piatu di kamp muhajirin Atme di Provinsi Idlib, barat laut Suriah.

Asosiasi tersebut juga mengunjungi pusat fisioterapi LSM Turki Humanitarian Relief Foundation (IHH) di Distrik Reyhanli Hatay, dan berbagi dengan anak-anak yang dirawat karena menderita luka parah akibat peperangan.

“Setiap Anak Sangat Berarti”

Berbicara kepada Anadolu Agency (AA), ketua asosiasi, Emine Tas, mengatakan setiap anak sangat berarti bagi mereka. Setiap anak harus memiliki rumah dan makanan yang hangat, serta kesempatan mengenyam pendidikan.

“Kami telah meluncurkan gerakan dengan slogan bahwa pendidikan akan mengubah dunia. Sebagai seorang ibu, saya ingin semua anak memiliki akses mengenyam pendidikan. Semua program kami lakukan dengan penuh cinta. Meskipun kami tidak berbicara dengan bahasa yang sama, kami berbagi perasaan terbaik melalui bahasa tubuh,” ujar Emine.

Meskipun pekerjaan kemanusiaan telah mereka mulai pada tahun 2012, namun mereka baru mendirikan asosiasi tahun ini; dengan mempertemukan perempuan dalam lingkungan multikultural.

“Kami melanjutkan pekerjaan kami dengan menekankan pada empati. Kami melihat semua anak sebagai anak kami sendiri,” ujar Emine.

“Semua anak itu penting. Semua anak memiliki hak yang sama. Tidak boleh ada anak yang harus berpikir keras tentang apa yang akan dimakan di malam hari,” ujar Tülay Gökçimen, perwakilan dari Turki.

Masih Begitu Banyak yang Membutuhkan Bantuan Darurat

Perang Suriah telah menghancurkan ekonomi negara itu sejak 2011, membenamkan 80% penduduknya ke dalam jurang kemiskinan, menurut PBB.

Selama bertahun-tahun, diktator Suriah Bashar Assad telah mengabaikan kebutuhan dan keselamatan rakyat negara itu. Ia hanya mengincar keuntungan dari wilayah tersebut dan menghancurkan kelompok mujahidin.

Selama bertahun-tahun rezim Assad dan sekutunya telah mengebom fasilitas vital seperti sekolah, rumah sakit, dan daerah pemukiman; yang menyebabkan setengah dari populasi negara mengungsi.

Situasi kian pelik di daerah yang dikendalikan mujahidin di Provinsi Aleppo dan Idlib, wilayah yang ingin direbut kembali oleh rezim Assad dengan segala cara.

Dengan hampir separuh fasilitas kesehatan negara tak berfungsi dan banyak yang tinggal di kamp penuh sesak, muhajirin Suriah sangat rentan diterkam wabah Covid-19.

Situasinya bahkan lebih memprihatinkan jika menyangkut anak-anak.

Idlib saat ini menjadi rumah bagi sekira 4 juta warga sipil, termasuk ratusan ribu pengungsi dalam beberapa tahun terakhir, dari seluruh wilayah Suriah yang dilanda perang.

Beberapa dari mereka yang mengungsi telah menggunakan kesempatan gencatan senjata yang ditengahi Turki dan Rusia sebagai kesempatan untuk pulang.

Sekira 1 juta warga Suriah mengungsi dari Provinsi Idlib ketika rezim Assad dan sekutunya melancarkan serangan November lalu.

Sebagian besar muhajirin mencari perlindungan di kamp-kamp dekat perbatasan dengan Turki. Sementara yang lain pergi ke daerah-daerah di bawah kendali mujahidin Suriah.

Namun, karena kondisi yang sangat padat dan kurangnya infrastruktur penting di kamp pengungsian, warga sipil yang terlantar menghadapi kesulitan besar dalam menemukan tempat untuk berlindung.

Ribuan keluarga sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan, karena mereka berjuang untuk bertahan hidup di tengah kondisi yang teramat sulit.

Meskipun pemerintah dan badan amal Turki melanjutkan upaya mereka untuk memberikan bantuan kemanusiaan, masih ada ribuan warga lainnya yang membutuhkan bantuan darurat dari masyarakat internasional. (Daily Sabah)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Dua Nelayan Palestina Tewas Ditembak Serdadu Mesir, Satu Orang Dilukai dan Disekap
Serdadu Zionis Lukai Sejumlah Pengunjuk Rasa Palestina di Timur Qalqilya »