Kondisi Tawanan Palestina Maher Al-Akhras Kian Mengkhawatirkan, Istri Desak Intervensi Serius
4 October 2020, 09:28.

Foto: Palinfo
PALESTINA (Palinfo) – Istri tawanan Palestina, Maher Al-Akhras, mendesak intervensi serius dalam kasus suaminya; guna menyelamatkan nyawanya sebelum terlambat.
Hal tersebut disampaikannya usai mengunjungi Al-Akhras, untuk pertama kalinya sejak ia memulai aksi mogok makan yang memasuki 69 hari berturut-turut
Istri Al-Akhras mengatakan kondisi suaminya sangat berbahaya. Al-Akhras telah kehilangan kesadaran dari waktu ke waktu dan dia tidak bisa bergerak.
Al-Akhras mengalami kejang terus-menerus, dan terkadang dia tidak tahu siapa yang berdiri di hadapannya.
Satu-satunya syarat untuk mengakhiri mogok makan adalah kebebasan. Al-Akhras terus berkata dari tempat tidurnya di Rumah Sakit Kaplan; “kebebasan atau syahid”.
Kebebasan atau Syahid
Lembaga urusan tawanan menyatakan, pengacara mereka, Fauzi Syalwadi, mengunjungi Maher al-Akhras, yang saat ini dirawat di RS Kaplan. Kondisi kesehatannya sangat buruk dan parah.
Al-Akhras menegaskan kepada pengacara Syalwadi, bahwa dirinya tengah menggelar pertempuran ini sampai titik akhir.
Ia berharap meraih kemenangan dengan pembebasan dan mengakhiri “penahanan administratifnya”, atau meraih kesyahidan.
Al-Akhras, yang berusia 49 tahun, tidak mau menerima suplemen apapun selain air putih.
Saat ini ia mengalami sakit kepala parah, berat badan turun drastis, dan masalah pendengaran.
Ia tidak mampu turun dari tempat tidur, bahkan untuk buang air sekalipun, disebabkan sakit keras di sekujur tubuhnya.
Al-Akhras sebelumnya pertama kali ditahan tahun 1989 selama 7 bulan. Kemudian pada tahun 2004 selama 2 tahun.
Ia kembali ditahan pada tahun 2009, kemudian ditahan sebagai “tawanan administratif” selama 16 bulan. Ia kembali ditahan pada tahun 2018 dan berlangsung selama 11 bulan.
Selanjutnya pada 27 Juli 2020, ia kembali ditangkap dan ditahan sebagai “tawanan administratif” selama 4 bulan. (Palinfo)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
