Bersaksi di Jerman, Petugas Kuburan Massal Rezim Suriah Ungkap Kondisi Mengerikan Jasad Korban Penyiksaan

19 October 2020, 18:53.
Kota Homs yang dilanda perang di Suriah (Photo: Chaoyue ?? PAN ?)

Kota Homs yang dilanda perang di Suriah (Photo: Chaoyue PAN)

JERMAN (euobserver.com) – Tanggal 9 dan 10 September 2020, seorang mantan petugas kuburan massal bersaksi tentang detail mengerikan sistem penyiksaan rezim Suriah, yang berlangsung di Koblenz, Jerman.

Itu adalah proses peradilan pertama di dunia atas kasus penyiksaan di Suriah.

Proses peradilan berada di bawah hukum yurisdiksi universal Jerman tentang kejahatan terhadap kemanusiaan.

Persidangan –yang disebut persidangan al-Khatib–  itu terjadi setelah Jerman menangkap dua perwira intelijen rezim Suriah di wilayahnya pada Februari 2019.

Sayangnya, Pengadilan Koblenz tidak menyimpan transkrip lengkap dan utuh dari persidangan; yang dinilai merusak langkah awal peradilan di mata keluarga korban.

Pertanyaan besar tentang apa yang terjadi pada jasad para korban penyiksaan rezim Suriah akhirnya terjawab, dengan detail mengerikan, oleh salah satu dari mereka yang bertugas menguburkan jenazah.

Kesaksian itu mengungkapkan rincian teknis dari apa yang masih terus berlangsung hingga hari ini, yakni sistem penyiksaan dan pemusnahan warga Suriah.

Sejak perang dimulai pada tahun 2011, rezim Suriah telah melakukan operasi pemusnahan sistemik terhadap warga yang menuntut hak-hak dasar mereka.

Ratusan ribu warga sipil telah ditangkap oleh pemerintah Suriah, dibunuh di bawah penyiksaan, tewas dalam penahanan, atau dieksekusi.

Saksi yang diberi kode nama “Z 30/07/19” itu dalam keterangannya mengatakan bahwa pada akhir tahun 2011, aparat intelijen rezim memintanya dan beberapa rekannya untuk bekerja kepada mereka.

Tugas mereka adalah mengangkut dan mengubur jenazah korban.

Petugas menyediakan minibus kepada pekerja pemakaman tanpa plat nomor, tetapi ditempeli gambar diktator Bashar al-Assad.

Truk Angkut Ratusan Mayat, Empat Kali Sepekan

Beberapa kali dalam sepekan, mulai tahun 2011 hingga 2017, pekerja tersebut mengangkut rekan-rekannya dari rumah sakit militer menuju kuburan al-Quteifa dan Najha untuk menurunkan dan mengubur mayat dari truk besar berpendingin, yang biasanya dikawal oleh aparat intelijen.

Rata-rata tiga truk digunakan, yang masing-masing mengangkut 300 hingga 700 mayat, empat kali dalam sepekan.

Dalam sidang, dia memperkirakan jumlah mayat mencapai 1,5 juta, bahkan mungkin lebih dari itu.

Petugas pemakaman mengatakan mayat-mayat itu telanjang, serta diberi tanda merah dan biru.

Sejumlah jenazah kehilangan organ dalam. Sejumlah lain tidak memiliki kuku jari tangan, kuku kaki, atau kuku jari tangan dan kaki.

Ketika truk dibuka, saksi mengenang, terdengar seperti botol gas yang dibuka; mengeluarkan bau yang sangat menyengat, diikuti aliran darah bercampur cacing dan belatung.

Mayat-mayat itu ditandai dengan angka dan simbol di dahi atau dada mereka.

Sejumlah mayat tangannya masih terikat di belakang punggung dengan borgol atau tali pengikat.

Beberapa wajah mereka tidak dapat dikenali akibat luka bakar asam.

Suatu ketika, seorang pria yang akan dikubur diketahui masih hidup. Kemudian seorang petugas memerintahkan seorang pengemudi excavator untuk menggilasnya.

Di lain waktu, saksi menemukan jasad perempuan yang sedang menggendong mayat anak di pelukannya. Dia hampir putus asa saat melihatnya.

Petugas pemakaman memberikan informasi rinci tentang proses sistematis rezim Suriah dalam memusnahkan mayat para korbannya dan menyembunyikan bukti.

Namun informasi tentang lokasi kuburan massal bukanlah hal baru.

Beberapa kelompok HAM telah mendokumentasikan kuburan massal untuk menguburkan tahanan di Suriah sejak 2012, dan berulang kali setelah itu.

Termasuk kuburan massal al-Quteifa dan Najha, di mana petugas pemakaman rezim menggambarkan aktivitasnya.

Pada tahun 2013, aktivis lapangan di kawasan al-Quteifa melaporkan bahwa mereka melihat, pada pagi hari tanggal 12 Juni 2013, anggota Divisi Ketiga serdadu menguburkan puluhan jenazah di kuburan massal di al-Quteifa – kuburan yang sama dengan yang disebutkan oleh pekerja pemakaman.

Pada tahun 2013, LSM Violation Documentation Center-VDC menerbitkan investigasi bersama Human Rights Watch, yang menunjukkan gambar satelit dari kuburan massal dan lokasinya di Najha dan Al Bahdaliyah dekat Damaskus.

Mengapa Transkrip Lengkap Sangat Penting?

Namun di tengah pengungkapan baru dalam persidangan Koblenz, ada satu aspek penting yang terlewatkan: pengadilan Jerman tidak menyimpan transkrip lengkap dan utuh kesaksian dalam persidangan.

Akibatnya, persidangan tidak meninggalkan dokumentasi resmi dari kejahatan yang diungkap oleh saksi. Ini membuka celah pertanyaan bagi pembela terdakwa.

Bagaimana jika mereka memutuskan untuk mengajukan banding nanti? Tentunya akan ada kebutuhan akan dokumen resmi.

Bagaimana orang bisa membuktikan, misalnya, bahwa saksi atau penggugat mengatakan ini atau itu Lantas, jika ada banding atau kasasi, haruskah pengadilan memanggil saksi untuk bersaksi lagi?

Bukankah hal ini akan merugikan pengadilan, memperpanjang persidangan, dan menambah trauma bagi saksi dan kerabat korban? Bagaimana jika saksi tidak dapat melakukan perjalanan lagi ke Koblenz?

Selain semua ini, dokumentasi semacam itu akan sangat berharga dalam proses transisi apa pun bagi warga Suriah, yakni untuk memahami praktik sistem pemusnahan massal rezim Assad dan melacak kemungkinan keberadaan mayat orang-orang yang mereka cintai.

Dokumentasi resmi juga dapat digunakan dalam proses hukum di pengadilan lokal di Suriah setelah perang berakhir, atau di pengadilan internasional di masa mendatang.

Arsip semacam itu juga memiliki nilai akademis yang tinggi, tidak hanya bagi warga Suriah tetapi juga bagi negara lain. Karena catatan itu menyediakan sumber informasi otentik bagi para akademisi, sejarawan, dan peneliti lain tentang praktik pemusnahan warga sipil oleh negara.

Persidangan ini adalah yang pertama dari kasus penyiksaan dan pemusnahan massal di Suriah, yang membuatnya semakin penting untuk dicatat secara benar.

Seorang juru bicara pengadilan menegaskan bahwa proses pengadilan sesuai dengan Prosedur Kriminal Hukum Jerman – yang tidak “menetapkan protokol verbatim (kata demi kata) sebagai standar, melainkan pada dasarnya harus mencerminkan rangkaian sidang dan hasil sidang utama. (euobserver.com)

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Empat Pekan Beruntun, Serdadu Zionis Batasi Warga Palestina Laksanakan Shalat Jum’at di Al-Aqsha
Sisa Amunisi Meledak, Dua Anak Suriah Tewas »