Penulis dan Pengusaha Kazakh Memulai Hidup dari Nol, Usai Bebas dari Kamp Xinjiang

26 July 2022, 10:06.
Foto: BBC

Foto: BBC

“Jika dia mati di sini, biarkan dia mati, tidak ada yang peduli …”

Namanya Zhazira Asenqyzy. Di kampung halamannya di Jeminay, wilayah Turkistan Timur (Xinjiang) bagian barat laut Cina, wanita ini dikenal sebagai penyair, penulis, serta pengusaha sukses.

Karya-karya Asenqyzy banyak diterbitkan di surat kabar lokal dan amat populer di kalangan penggemar, utamanya dari etnis Kazakh. Dia juga sukses mengelola tiga perusahaan furnitur, garmen, dan manufaktur. Pendeknya, kehidupan Asenqyzy sudah mapan dan tidak menginginkan apa-apa lagi.

Akan tetapi, dunia Asenqyzy terbalik ketika suatu pagi pada bulan Mei 2017 dia ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi rezim komunis Cina yang dikenal kejam. Inilah kisahnya sebagaimana dikutip Radio Free Europe (17 Juli 2022).

Al-Qur’an

“Saya sedang sarapan dengan keluarga. Petugas dinas keamanan distrik Jeminay menelepon dan meminta saya untuk segera datang ke kantornya. ‘Bawa paspormu!’ katanya,” kenang Asenqyzy.

Ketika itu Asenqyzy tidak terlalu khawatir, karena pihak berwenang memang sering mengumpulkan paspor penduduk. Akan tetapi, sesampainya di kantor keamanan, ternyata petugas memerintahkan agar dia melepas perhiasan dan menyerahkannya kepada petugas beserta ponselnya. Asenqyzy bahkan kemudian diborgol dan diinterogasi.

Aparat keamanan menggerebek rumahnya, termasuk mengobrak-abrik perpustakaan pribadi yang berisi sekitar 1.500 buku.

“Mereka pertama-tama mengambil Al-Qur’an dan buku puisi karya [Shakarim] Qudaiberdiuly. Petugas juga bertanya, dari mana saya mendapatkannya.”

Di cover buku puisi itu ada foto Qudaiberdiuly yang berjenggot panjang. Petugas tampak curiga dan meminta agar Asenqyzy menjelaskan ada “hubungan apa” dengan “ekstremis” itu.

“Saya memberitahu bahwa dia adalah seorang penyair Kazakh terkenal yang meninggal sekitar 100 tahun yang lalu. Semua pria berjenggot panjang pada masa itu, tetapi petugas mengatakan bahwa saya melawan penegak hukum.”

Pada hari itu juga, Asenqyzy dijebloskan ke sel tahanan tanpa ada penjelasan. Tidak jelas juga dirinya akan ditahan berapa lama. Tidak ada proses pengadilan dan tidak ada tuntutan yang diajukan terhadapnya.

Lebih dari 1 juta Muslim–etnis Uyghur, Kazakh, Kirgistan, dan kelompok etnis asli Xinjiang lainnya–diperkirakan telah ditahan di kamp-kamp konsentrasi dengan keamanan tingkat tinggi di wilayah Turkistan Timur. Informasi pertama yang bocor ke publik tentang kamp itu diketahui pada tahun 2017.

Beijing mengklaim fasilitas itu adalah pusat re-edukasi untuk memerangi ekstremisme. Akan tetapi, banyak mantan tahanan telah berbagi cerita mengerikan tentang beragam penyiksaan, pemerkosaan, aborsi, sterilisasi, kerja paksa, dan berbagai kekejaman lainnya.

“Biarkan Dia Mati, Tidak Ada yang Peduli”

Asenqyzy, yang kini berusia 46 tahun, mengisahkan bahwa dirinya ditahan di kamp wanita. Beberapa tahanan ada yang berusia 70-an dan 80-an tahun.

“Pertama kali tiba di penjara, mereka menginterogasi saya selama dua hari dan tidak memberi saya apa pun untuk dimakan. Saya menjadi sangat lemah sehingga hampir pingsan. Saya mendengar kepala penjara berkata, ‘Jika dia mati di sini, biarkan mati, tidak ada yang peduli, tidak ada yang akan bertanya tentang (dia),” kisahnya.

Di sel tidak ada ranjang sehingga para tahanan tidur di lantai beton. Karena dingin, mereka harus menutupi tubuh dengan selimut usang. Sebenarnya ada mesin pemanas, namun entah kenapa dimatikan. Padahal jika malam terasa amat dingin.

Tahanan tidak pernah diberi makanan yang cukup sehingga sering kelaparan. Kalaupun ada makanan, hanya sekadarnya, semisal kentang, kubis, dan wortel direbus bersama tanpa dicuci terlebih dahulu.

Banyak tahanan jatuh sakit dan tidak mendapat perawatan medis yang memadai. Petugas penjara juga sering menghukum mereka yang mengeluh sakit dan meminta bantuan.

“Suatu kali saya dipaksa berdiri selama empat jam tanpa bergerak, hanya karena saya bilang saya sakit punggung dan minta ke dokter. Saya akhirnya pingsan, jatuh, dan kepala membentur lantai,” kata Asenqyzy.

Meski sakit, Asenqyzy tidak mendapat perawatan medis apa pun. Hingga kini di kepalanya masih ada benjolan, akibat benturan keras ke lantai ketika itu.

Selama di kamp, Asenqyzy sering menyaksikan bagaimana para tahanan dipukuli secara brutal hanya karena mengobrol satu sama lain. Para penjaga curiga mereka “merencanakan sesuatu”.

Ketika menyiksa, para petugas mengatakan, “Bahkan jika kami memukulimu sampai mati, tidak ada yang akan mengatakan apa-apa. Kami mendapat instruksi dari pejabat.”

Sesekali para tahanan dibawa ke halaman penjara. Para penjaga kemudian memaksa mereka untuk latihan ala militer.

“Orang-orang berusia 80 tahun hampir tidak bisa berdiri, apalagi melakukan latihan yang begitu sulit. Saya melihat ada wanita tua yang jatuh setelah ditendangi pergelangan kakinya oleh penjaga, hanya karena dia tidak bisa berdiri tegak,” kata Asenqyzy.

Para tahanan juga dipaksa melihat berbagai macam propaganda komunis Cina melalui TV layar lebar, sepanjang waktu.

“Dari pagi hingga malam, mereka memberitahu kami bagaimana Cina akan menjadi negara paling kuat di dunia dan bahwa bahasa Cina akan menjadi bahasa terpenting secara global.”

Memulai Hidup Baru

Asenqyzy dibebaskan dari kamp pada tengah malam bulan Desember 2018. Jika dihitung, dia menghabiskan waktu 1,5 tahun di penjara. Setelah itu, dia menjadi tahanan rumah selama enam bulan.

Selama Asenqyzy ditahan, usahanya bangkrut. Padahal perusahaannya kala itu sudah mampu melakukan ekspor. Selain usaha furnitur, Asenqyzy juga mengelola usaha pakaian tradisional Kazakh. Karyawannya ada puluhan orang, kebanyakan adalah kaum wanita. Ada pula bisnis toko yang menjual barang-barang manufaktur.

Karena bisnisnya gulung tikar, kondisi ekonomi Asenqyzy jatuh. Dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke Kazakhstan, tanah air leluhurnya. Sebuah keputusan yang sulit, sebab dia harus meninggalkan ibu, saudara kandung, dan kerabatnya yang sudah lanjut usia dan tinggal di Turkistan Timur.

Asenqyzy kemudian diberi kewarganegaraan Kazakh, di bawah program repatriasi khusus dari Pemerintah Kazakhstan setelah memperoleh kemerdekaan pada tahun 1991.

Kazakhstan, negara terkaya di Asia Tengah, ketika itu mendorong etnis Kazakh di luar negeri untuk pulang. Di Cina, diperkirakan ada sekitar 1,5 juta etnis Kazakh. Mereka merupakan komunitas pribumi berbahasa Turki terbesar kedua di Xinjiang setelah Uyghur.

Banyak etnis Kazakh yang akhirnya pindah dari Cina. Asenqyzy sendiri amat bersyukur karena telah dibantu melarikan diri dari “penindasan” rezim komunis Cina.

Meskipun telah berada di Kazakhstan, Asenqyzy masih merasa terus diawasi. Dia beberapa kali diinterogasi oleh petugas intelijen, termasuk setelah kunjungan ke Jerman.

Kini Asenqyzy tengah berjuang untuk membangun kembali hidupnya. Juga berjuang untuk pulih dari masalah kesehatan, akibat dari penyiksaan di kamp.

“Kamp telah menghancurkan saya secara mental, finansial, dan fisik,” ujarnya. (Radio Free Europe)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Ribuan Warga Palestina Hadiri Prosesi Pemakaman Dua Warga yang Dibunuh di Nablus
Didukung Lebih dari 50 Organisasi, Aksi Bela Muslim Uyghur Akan Digelar Serentak 31 Juli di Sejumlah Kota Besar Dunia »