Lebih dari 100 Organisasi HAM Desak Houthi Segera Bebaskan Ribuan Warga Yaman yang Ditawan

10 January 2023, 10:14.
Warga berada di sekitar penjara yang hancur di Yaman pada 1 September 2019 [Mohammed Hamoud / Anadolu Agency]

Warga berada di sekitar penjara yang hancur di Yaman pada 1 September 2019 [Mohammed Hamoud/Anadolu Agency]

YAMAN (Arab News) – Lebih dari 100 organisasi HAM dan masyarakat sipil Yaman telah meminta komunitas internasional untuk mendesak milisi syiah Houthi segera membebaskan ribuan warga Yaman yang ditawan, termasuk beberapa YouTuber terkemuka.

Organisasi Yaman, termasuk Yemeni Network for Rights and Freedoms, Rasd Coalition, dan yang lainnya, merilis petisi untuk mendesak Houthi membebaskan empat pemengaruh media sosial yang ditahan karena mengungkap praktik korupsi para pemimpin milisi tersebut dan mengutuk tindakan represif mereka terhadap para pengkritik.

“Organisasi masyarakat sipil di Yaman memantau dengan cermat upaya panik dan sembrono dari milisi Houthi terhadap para jurnalis dan pemengaruh media sosial yang hanya menyuarakan penentangan terhadap mesin korupsi dan penjarahan yang telah melahap segalanya, serta membuat rakyat menderita dengan kemiskinan dan kelaparan,” terang kelompok itu dalam pernyataan bersama.

Mereka mendesak PBB dan mediator asing untuk bertindak dengan memerintahkan Houthi guna melepaskan orang-orang yang mengeluarkan kritikannya dan berhenti menganiaya para jurnalis dan awak media.

Sejak akhir Desember, Houthi telah menculik dan menginterogasi empat pemengaruh media sosial terkemuka Yaman di Sanaa karena mengkritik kelompok tersebut setelah gagal membayar para pekerja publik, mengabaikan kelaparan yang meningkat, dan lalai dalam memberikan layanan dasar kepada warga Yaman di wilayahnya.

Milisi syiah Houthi pertama kali menculik Ahmed Hajar dari jalanan Sanaa setelah dia tampil dalam video YouTube yang beredar luas.

Dalam klip itu, Hajar mengecam keras milisi karena memungut pajak yang memberatkan, gagal mengentaskan kemiskinan, mengabaikan layanan yang memburuk, dan melakukan praktik-praktik korup.

Milisi kemudian menculik Mustafa Al-Mumari, Hamoud Al-Mesbahi, dan Ahmed Elaw. Ketiganya menyuarakan dukungan untuk Ahmed Hajar dan menyuarakan sorotan yang sama terhadap milisi pemberontak tersebut.

Sebelumnya, keempat YouTuber tersebut telah lama dikenal luas sebagai loyalis Houthi yang menggunakan pengaruh media sosial mereka untuk mendukung operasi militer kelompok tersebut di seluruh negeri, sembari mengkritik koalisi Arab dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Aktivis Yaman berpendapat bahwa tindakan keras terhadap para kritikus, termasuk mereka yang merupakan loyalis sebelumnya, menunjukkan bahwa milisi tidak akan menolerir kritik; meskipun dari para pendukungnya sendiri.

Situasi ini juga menunjukkan bahwa Houthi cukup kewalahan dengan meningkatnya ketidaksukaan publik yang berkembang selama gencatan senjata yang lalu, tambah mereka.

Zafaran Zaid, seorang aktivis HAM dan pengacara Yaman yang dijatuhi hukuman mati in absentia oleh pengadilan yang dijalankan Houthi, mengatakan kepada Arab News bahwa para pemengaruh yang diculik memperoleh dokumen penting yang mengungkap tindak para pejabat Houthi.

Di antaranya berupa praktik penjarahan dana publik dan perampasan tanah negara maupun pribadi secara paksa, serta berbagai bentuk korupsi lainnya. Dokumen-dokumen itu juga mengungkapkan meningkatnya persaingan antarsayap-sayap milisi Houthi.

“Para aktivis keluar untuk mengungkap banyak kebenaran dan menyangkal kebohongan maupun klaim milisi Houthi, yang telah memonopoli sumber daya penting, seperti air dan gas, serta komoditas dan jasa di pasar gelap,” lanjut Zaid.

“Akibatnya, Houthi menangkap para pemengaruh dan menuduh mereka sebagai tentara bayaran dan pendukung musuh milisi.”

Mothers of Abductees Association, sebuah organisasi yang mewakili ribuan perempuan keluarga tahanan perang sipil, menyebut Houthi telah menyiksa tiga guru Yaman dari provinsi Mahwet untuk memaksa ketiganya mengaku sebagai mata-mata pemerintah Yaman dan koalisi Arab.

Asosiasi tersebut mengatakan bahwa Abdulaziz Ahmed Al-Aqeeli (47), Sagheer Ahmed Fare’e (45), dan Esmail Mohammed Al-Melhani (28), yang ditahan oleh Houthi selama periode terpisah pada tahun 2015, disiksa dengan sangat kejam oleh Houthi hingga mereka tidak bisa berjalan.

“Kami menganggap kelompok bersenjata Houthi sepenuhnya bertanggung jawab atas tuduhan yang tidak adil terhadap anak-anak kami yang diculik, memaksa mereka untuk mengaku di bawah tekanan, lalu menghukum mati mereka,” ucap asosiasi itu dalam sebuah pernyataan. (Arab News)

 

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Muhajirin Ungkap Fakta Rezim Cina Sengaja Tutup Permukiman Uyghur Saat Investigasi Genosida Berlangsung
Ayah Dua Pejuang Palestina Diduga Kuat Diracun Penjajah Zionis »