Muhajirin Ungkap Fakta Rezim Cina Sengaja Tutup Permukiman Uyghur Saat Investigasi Genosida Berlangsung

9 January 2023, 11:16.
Sejumlah warga berbaris di kamp konsentrasi rezim komunis Cina di Kota Artux, Xinjiang, 3 Desember 2018. (VOA)

Sejumlah warga berbaris di kamp konsentrasi rezim komunis Cina di Kota Artux, Xinjiang, 3 Desember 2018. [AP]

TURKISTAN TIMUR (VOA) – Seorang Muhajirin Uyghur–yang menggunakan nama samaran Jamal guna melindungi kerabatnya yang masih tinggal di Xinjiang–berhasil keluar dari wilayah Cina dalam beberapa pekan terakhir.

Ia mengungkapkan kepada VOA tentang kehidupan di Xinjiang pada tahun 2022.

VOA: Pada bulan Agustus, laporan PBB tentang kondisi di Xinjiang mengatakan, Cina telah membatasi pergerakan populasi mayoritas Muslim di Xinjiang, serta menyita paspor milik warga Uyghur dan minoritas Muslim lainnya. Apakah itu benar? 

Jamal: Ya, itu adalah fakta. Untuk warga Uyghur, mereka mulai menyita paspor pada tahun 2016; kami harus menyerahkan paspor kami ke divisi keamanan nasional kepolisian. Mereka mengatakan akan menyimpan paspor kami untuk disimpan dan akan mengembalikannya kepada kami jika kami perlu pergi ke luar negeri.

Tujuan utama dari kebijakan Cina ini adalah untuk tidak membiarkan siapa pun melintasi perbatasan Xinjiang dan menjaga agar semua orang tetap berada di dalam wilayah tersebut. Kebijakan rezim juga sudah jelas bahwa mereka tidak akan mengeluarkan paspor baru bagi warga Uyghur.

VOA: Lalu bagaimana Anda bisa pergi ke luar negeri dengan paspor Cina yang sah jika pemerintah tidak mengembalikan atau mengeluarkan paspor untuk Uyghur? 

Jamal: Istri saya adalah warga negara asing. Saya telah berjuang selama bertahun-tahun dan melewati semua birokrasi untuk mendapatkan paspor saya. Selain itu, pihak berwenang juga ditekan untuk mengembalikan paspor saya karena istri saya adalah warga asing. Hal itu, menurut saya, merupakan faktor terpenting mengapa pemerintah akhirnya mengembalikan paspor saya.

VOA: Dapatkah Anda memberi tahu kami prosedur apa yang telah Anda lalui untuk mendapatkan kembali paspor Anda dan meninggalkan Cina? 

Jamal: Langkah pertama adalah [polisi] memeriksa latar belakang Anda dan setiap anggota keluarga Anda di Integrated Joint Operations Platform (IJOP). Jika Anda dan anggota keluarga Anda dinyatakan “bersih” berdasarkan sistem itu–maksud saya, jika mereka tidak menemukan ada yang telah dihukum, dijatuhi hukuman penjara, maupun pernah dikirim ke kamp konsentrasi–maka mereka akan meminta Anda menunggu keputusan akhir dari kepala biro kepolisian untuk mengembalikan paspor Anda.

Namun, bukan berarti Anda sudah bisa pergi ke luar negeri dengan paspor tersebut. Setiap pemegang paspor Uyghur harus dapat menunjukkan dokumen persetujuan dari otoritas Xinjiang. Jika warga Uyghur sudah memiliki paspor Cina yang sah dan visa untuk pergi ke negara tertentu, tetapi tidak memiliki dokumen persetujuan pemerintah lokal, pihak bea cukai tidak akan membiarkan mereka melintasi perbatasan.

Ketika seorang warga Uyghur menunjukkan kartu identitas Cina, paspor, dan dokumen persetujuannya kepada petugas bea cukai, mereka akan membawa orang tersebut ke tempat yang ditunjuk khusus untuk warga Uyghur, kemudian memanggil kepolisian Xinjiang untuk mengklarifikasi dokumen tersebut. Jika polisi Xinjiang membenarkan, barulah bea cukai akan melepaskan Anda.

VOA: Bagaimana rasanya menjadi warga Uyghur di Xinjiang pada tahun 2022? 

Jamal: Pada tahun 2022, beberapa warga Uyghur yang telah dibebaskan dari “kamp pendidikan ulang” dipindahkan untuk bekerja di pabrik-pabrik, baik di Xinjiang maupun di wilayah Cina yang lain. Sementara mereka yang tidak dipindahkan ke pabrik, tidak bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah karena catatan masa lalu serta diskriminasi rezim.

Pegawai pemerintah yang telah mengikuti pendidikan ulang pun tidak diizinkan untuk kembali ke posisi lama mereka. Dalam satu contoh, seorang profesor sastra yang saya kenal, sekarang duduk di ruang kontrol pengawasan di kampusnya sebagai penjaga. Beberapa orang bahkan tidak pernah dibebaskan dari “pendidikan ulang” dan justru dijatuhi hukuman penjara.

Fenomena lain pada tahun 2022 di Xinjiang adalah rezim Cina tidak pernah menghentikan penangkapan sewenang-wenang terhadap warga Uyghur, bahkan mulai menahan kembali mereka yang telah menjalani “pendidikan ulang” di masa lalu.

Saya punya teman yang merupakan dosen di sebuah universitas. Dia telah ditangkap dua kali sebelum tahun 2022. Pada musim semi tahun 2022, dia ditangkap untuk ketiga kalinya, dan keluarganya tidak pernah mendengar lagi kabar tentang dia.

Jika saya meringkas kehidupan pada tahun 2022 bagi warga Uyghur di Xinjiang, itu adalah normalisasi atas kombinasi “ketakutan dan keputusasaan”. 

VOA: Menurut Anda, apa lagi yang harus diketahui dunia tentang apa yang terjadi pada orang Uyghur di Xinjiang pada tahun 2022?

Jamal: Satu hal yang harus diketahui dunia adalah bahwa pada bulan Mei 2022, ketika Michelle Bachelet [saat itu Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia] datang mengunjungi wilayah Xinjiang, saya berada di Urumqi dan saya menyaksikan bahwa pemerintah menyegel, bahkan menutup permukiman mayoritas Uyghur di kota itu selama kunjungannya, dengan dalih ada beberapa kasus Covid tanpa gejala di distrik tersebut. Mereka membuka kembali setelah [Bachelet] meninggalkan Tiongkok.

Seorang tetangga yang merupakan pegawai pemerintah Cina memberi tahu saya alasan penguncian pada bulan Mei itu adalah karena pemerintah tidak ingin warga Uyghur bisa bergerak leluasa selama kunjungan Bachelet ke kota.

VOA: Bagaimana dengan kehidupan di Xinjiang bagi warga Cina Han? 

Jamal: Banyak warga Uyghur yang harus menghadapi berbagai rintangan jika mereka ingin pergi ke wilayah lain. Mereka harus mendapatkan izin khusus dari pihak berwenang terlebih dahulu. Sementara warga Cina Han dapat bergerak bebas, berbeda dengan etnis Uyghur, Kazakh, maupun penduduk lokal lainnya. Gerakan mereka tidak dibatasi.

Baru-baru ini di bawah kebijakan “nol-Covid”, beberapa orang Cina Han baru mulai merasakannya, dan mengatakan bahwa kebebasan bergerak mereka ikut dibatasi. (VOA)

Foto: Seorang petani Uyghur berjalan melewati propaganda pemerintah yang menggambarkan penduduk etnis minoritas sedang membaca buku konstitusi dengan slogan bertuliskan, "Persatuan dan Stabilitas adalah Keberuntungan, Separatisme dan Kekacauan adalah Bencana," di sekitar wilayah Kashgar, Xinjiang, pada 19 Maret 2021. [AP]

Seorang petani Uyghur berjalan melewati propaganda pemerintah yang menggambarkan penduduk etnis minoritas sedang membaca buku konstitusi dengan slogan bertuliskan, “Persatuan dan Stabilitas adalah Keberuntungan, Separatisme dan Kekacauan adalah Bencana,” di sekitar wilayah Kashgar, Xinjiang, pada 19 Maret 2021. [AP]

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Kapal yang Mengangkut Ratusan Muhajirin Rohingya Kembali Mendarat di Pantai Aceh
Lebih dari 100 Organisasi HAM Desak Houthi Segera Bebaskan Ribuan Warga Yaman yang Ditawan »