Anjing Jalanan Memakan Jenazah Para Syuhada yang Telantar di Halaman RS Al-Syifa

14 November 2023, 22:42.

Seorang wanita berduka atas jenazah anak dan anggota keluarga lainnya di sebuah rumah sakit, setelah serangan ‘Israel’, di Khan Younis di selatan Jalur Gaza, 13 November 2023. Foto: Reuters

(Middle East Eye) – Pejabat Kementerian Kesehatan Munir al-Bursh menangis pada Senin (13/11/2023) pagi di Al Jazeera ketika dia menjelaskan bahwa anjing-anjing liar mulai memakan mayat warga sipil di halaman Rumah Sakit Al-Syifa, karena tidak ada yang bisa menguburkan orang mati di tengah pengeboman.

Al-Syifa, kompleks medis terbesar di Gaza, telah dinyatakan tidak berfungsi pada akhir pekan lalu karena penjajah ‘Israel’ mengintensifkan pengeboman di area sekitarnya dan pasukan darat penjajah terus mengepungnya sejak Jumat (10/11/2023).

Ahmad Mukhallati, kepala departemen bedah plastik di RS al-Syifa menyerukan agar “pembantaian” tersebut dihentikan dan adanya “koridor yang aman dan terjamin” yang memungkinkan pasien dievakuasi dari fasilitas tersebut.

Namun, selama tiga hari terakhir, tidak ada seorang pun yang bisa masuk atau keluar dari rumah sakit itu, karena penembak jitu dan tank ‘Israel’ menembak hanya beberapa meter dari rumah sakit. 

Mukhallati menambahkan, tidak ada tempat untuk memindahkan atau menguburkan jenazah.

“Jenazah benar-benar akan menjadi sumber besar infeksi dan segala jenis bakteri serta penyakit lainnya, dan kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya. 

Mukhallati menjelaskan kepada MEE bahwa tidak ada air atau listrik di fasilitas tersebut, dan makanan serta bahan bakar hampir habis.

“Kami hanya punya satu soket tempat kami memasang mesin anestesi,” katanya. “Kami tidak melakukan apa pun kecuali prosedur penyelamatan jiwa sekarang.”

Direktur kompleks medis mengatakan kepada Al Jazeera pada Senin (13/11/2023) malam bahwa delapan pasien telah meninggal sejak pagi hari.

Dokter tak akan meninggalkan pasien

Sementara itu, seorang ahli bedah yang mewakili Doctors Without Borders (MSF) di rumah sakit tersebut mengulangi kekhawatiran yang sama pada hari Senin.

“Situasinya sangat buruk, tidak manusiawi. Itu area tertutup, tidak ada yang tahu tentang kami,” katanya melalui pesan suara yang dikirim pukul 08.10 waktu setempat.

Ia mengatakan terdapat 600 pasien rawat inap dan 37 bayi di fasilitas tersebut, dan para dokter tidak akan mengevakuasi atau meninggalkan mereka.

“Kami tidak mempunyai listrik. Tidak ada air di rumah sakit. Tidak ada makanan. Orang-orang akan meninggal dalam beberapa jam jika ventilator tidak berfungsi.”

Gerombolan serdadu ‘Israel’ juga menyerang ambulans yang berupaya membawa pasien ke rumah sakit, tambahnya. Di bagian depan rumah sakit terdapat banyak mayat dan juga orang yang terluka, tetapi mereka tidak dapat membawa mereka ke dalam rumah sakit.

“Kami memerlukan jaminan bahwa ada koridor yang aman karena kami melihat beberapa orang yang mencoba meninggalkan Al-Syifa, mereka (serdadu penjajah) membunuh mereka, mengebom mereka, para penembak jitu membunuh mereka.

“Di dalam RS Al-Syifa ada pasien luka, tim medis. Jika mereka memberi kami jaminan dan mengevakuasi pasien terlebih dahulu, kami akan mengungsi.”

Andalkan suara ledakan untuk identifikasi lokasi korban

Di tempat lain di Jalur Gaza, juru bicara Bulan Sabit Merah Palestina di Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan bahwa RS al-Ahli adalah satu-satunya rumah sakit yang masih menyediakan layanan di wilayah kantong yang terkepung tersebut.

Di dekat RS Al-Quds, dia mengatakan serdadu ‘Israel’ telah memisahkan pria dan wanita, sebelum menangkap semua pria tersebut.

Basal menambahkan bahwa komunikasi terputus dari Jalur Gaza, dan petugas medis mengandalkan suara ledakan untuk mengidentifikasi lokasi korban terbunuh dan terluka.

“Tidak ada sumber daya untuk menangani sifat cedera yang dialami warga,” katanya. “Kami hidup dalam kenyataan yang menyakitkan dan sulit. Ada lebih dari 100 kru kami yang terluka dan kehilangan separuh peralatan kami.”

Jurnalis terbunuh

Sementara itu, jurnalis Palestina Ahmad Fatima terbunuh dalam serangan udara ‘Israel’ di Gaza pada hari Senin, menurut kantor berita Wafa.

Pada hari Ahad (12/11/2023), Komite Perlindungan Jurnalis mengatakan setidaknya 40 jurnalis telah terbunuh sejak perang dimulai pada 7 Oktober, 35 di antaranya adalah warga Palestina, empat warga ‘Israel’, dan satu warga Lebanon.

Penjajah ‘mengeksekusi’ warga Palestina yang mengungsi

Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania pada hari Senin mengatakan mereka telah mendokumentasikan eksekusi puluhan warga Palestina oleh serdadu ‘Israel’ selama mereka mengungsi dari Gaza utara ke bagian tengah dan selatan Jalur Gaza, padahal mereka tidak menimbulkan ancaman apa pun.

Kelompok ini tidak memberikan jumlah pasti dari “eksekusi” tersebut, namun mengatakan mereka menerima ratusan laporan.

Dikatakan bahwa warga Palestina menjadi sasaran peluru tajam dan terkadang artileri dalam pembunuhan berencana selama upaya mereka mengungsi ke daerah selatan Wadi Gaza.

Euro-Med menerima laporan dari para pengungsi yang melaporkan pembunuhan di pos pemeriksaan militer yang didirikan oleh serdadu ‘Israel’ sebagai bagian dari penetapan “koridor aman” di sepanjang arteri lalu lintas utama, Jalan Salahuddin, antara pukul 9:00 dan 16:00.

Kelompok ini meminta PBB dan Mahkamah Pidana Internasional untuk melakukan penyelidikan independen atas masalah tersebut. (Middle East Eye)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Masih Dikepung dan Diteror Sniper ‘Israel’, 100+ Jenazah Akan Dimakamkan di Dalam Kompleks RS Al-Syifa
Pasukan dan Kendaraan Militer ‘Israel’ Mengepung, Menyerbu Masuk Rumah Sakit Al-Syifa Gaza »