Pengungsi Gaza Berusia Seabad Dapat Rumah Baru untuk Idul Adha

17 November 2010, 16:57.

JAKARTA, Rabu (Sahabat Alaqsha.com): Empat anggota keluarga Sulaiha Abu Daher merasakan hari paling bahagia mereka sejak angkatan bersenjata Zionis meratakan rumah semen mereka hampir dua tahun lalu dalam serangan brutalnya ke Jalur Gaza pada pergantian tahun 2008-2009, demikian laporan Electronic Intifada.

Pada Idul Adha kemarin, mereka mendapat sebuah rumah baru dari Rahma Society dari Kuwait.

“Hari ini adalah hari yang sangat berarti bagi saya, bagi ibu saya yang sudah lanjut usia, bagi abang saya yang cacat dan bagi adik saya,” ujar Sulaiha Abu Daher, saat duduk untuk pertama kalinya di rumah baru berukuran 60 meter persegi yang dibangun di kampung Abid Rabbu, kamp pengungsi Jabaliya.

Rumah baru ini hanya berjarak beberapa meter dari tenda tempat keluarga ini tinggal sejak agresi Zionis yang telah membuat ribuan keluarga Gaza menjadi tuna wisma itu.

“AlhamduliLlah, dan terimakasih kepada semua yang sudah menolong kami sehingga kami punya rumah tempat kami berlindung dari panas, kedinginan dan begitu banyak bahaya seperti ular, anjing dan kucing liar” ungkap Sulaiha diapit oleh ibunya yang berusia 100 tahun, yang biasa dipanggil Ummu Ahmad, yang duduk di kursi roda dan abangnya Muhammad yang cacat sejak lahir.

Sulaiha memuji Rahma Society dari Kuwait, menteri perumahan Palestina di Gaza dan “ dermawan baik hati yang telah menyumbangkan tanah untuk pembangunan rumah baru ini”.

“Kiranya Allah merahmati mereka semua di hari penuh berkah ini, hari Idul Adha,” ucap Sulaiha.

“Saat musim dingin, saya tidak bisa memandikan ibu saya, kadang sampai dua minggu, karena musim dingin yang sangat keras di dalam tenda,” kenang Sulaiha.

“Kalau musim panas tenda kami sering kemasukan ular dan binatang-binantang liar. Sangat tidak enak. AlhamduliLlah, akhirnya kami punya rumah yang layak.”

Rumah itu sebenarnya kecil, tetapi ada dapur dan kamar mandinya.

Baru: Rumah baru keluarga Sulaiha Abu Daher di Gaza. Foto: Rami Almeghari

Seabad: Ummu Ahmad yang berusia 100 tahun akhirnya bisa kembali tinggal di sebuah rumah sesudah berteduh di tenda selama dua tahun. Foto: Rami Almeghari

“Anakku, apa yang kami lalui benar-benar hari terburuk sepanjang hidupku,” kenang Ummu Ahmad dengan suara yang bergetar. “Dulu, waktu aku masih kecil di Bi-ir as-Sab’ah, kami tinggal di tanah kami sendiri dan di rumah-rumah kami sendiri. Saya masih ingat dulu kami hidup berbahagia dan kami hidup dengan barter hasil kebun kami dengan ternak. Tapi sejak diusir oleh (penjajah) bertahun-tahun lalu, kami kehingan segalanya. Akan tetapi Allah Mahabesar dan selalu mengasihi kami.”

Bi-ir as-Sab’ah kini disebut oleh warga Yahudi dan penjajah Zionis yang mendudukinya sejak tahun 1948 sebagai Beersheva.

Rumah keluarga Sulaiha adalah bagian dari proyek kemanusiaan Rahma Society dari Kuwait. “Ini adalah rumah pertama yang selesai kami bangun di Gaza” ujar Kamal Mislih, Direktur Rahma Society. “Kami sudah membangun kembali 700 rumah yang setengah hancur di Gaza dan rencananya kami akan membangun 100 rumah lagi, Insya Allah,” Proyek ini didukung oleh Bank Pembangunan Islam, jelas Mislih.

Menurut data resmi, 3500 keluarga sampai saat ini tuna wisma sejak serangan tiga pekan Zionis yang berakhir Januari 2009. Sebagian besar rakyat Palestina yang tidak mempunyai tempat bernaung itu tinggal di rumah sewaan sedangkan yang lainnya tinggal di tenda-tenda kamp pengungsi.

Sejak serangan itu, hampir tidak ada bahan bangunan yang dizinkan masuk ke Gaza karena blokade melumpuhkan yang diberlakukan Zionis masih tetap berlanjut sejak beberapa tahun sebelumnya. Kendati masyarakat internasional menjanjikan bantuan pembangunan kembali senilai sekitar 4 milyar dolar pada konferensi para pendonasi yang diadakan pada Maret 2009, sejauh ini sangat sedikit yang sudah benar-benar telah dikirimkan.* (EZ/ Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Ditemukan Runtuhan Baru Akibat Penggalian Pondasi Al-Aqsha
Matematika Allah ala Pengungsi Palestina »