Di Tengah Gencatan Senjata, AS Restui Penjualan Senjata Senilai USD6,67 Miliar pada Penjajah Zionis
1 February 2026, 13:00.

Sebuah helikopter serang Apache ‘Israel’ menembakkan rudal ke arah Jalur Gaza pada Mei 2024. Foto: Arsip Amir Cohen/Reuters
PALESTINA (Al Jazeera) – Amerika Serikat menyetujui penjualan senjata senilai USD6,67 miliar pada penjajah zionis ‘Israel’ di tengah gencatan senjata yang rapuh di wilayah Gaza.
Keputusan ini langsung menuai sorotan karena diambil saat kekerasan terhadap warga Palestina masih terus terjadi, meski ada kesepakatan penghentian pertempuran. Juga di tengah bergulirnya pendirian “Dewan Perdamaian” yang dipimpin Trump.
Departemen Luar Negeri AS mengumumkan, Jumat (30/1/2026), ‘Israel’ diizinkan membeli berbagai persenjataan buatan Amerika.
Termasuk 30 helikopter serang Apache senilai USD3,8 miliar plus kendaraan tempur infanteri senilai USD1,98 miliar. Penjualan ini diklaim sebagai bagian dari komitmen Washington terhadap keamanan ‘Israel’.
Menurut laporan Reuters, helikopter Apache tersebut akan dipasok oleh Boeing dan Lockheed Martin. Selain itu, kontrak militer tambahan senilai USD740 juta juga disetujui, disertai pengeluaran sekitar USD150 juta untuk helikopter utilitas ringan.
Helikopter Apache selama ini diketahui digunakan secara luas oleh militer ‘Israel’ dalam operasi di wilayah Gaza dan Tepi Barat terjajah.
Otoritas kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 71.662 warga Palestina tewas sejak agresi genosida dimulai pada Oktober 2023, angka yang terus bertambah, meski gencatan senjata diberlakukan.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan penjualan senjata tersebut sejalan dengan kepentingan nasional Amerika Serikat.
“Amerika Serikat berkomitmen terhadap keamanan ‘Israel’ dan membantu ‘Israel’ mempertahankan kemampuan pertahanan diri yang kuat dan siap,” demikian pernyataan resmi lembaga tersebut.
Namun, langkah ini kembali memicu kritik dari kelompok HAM dan pakar PBB yang selama ini mendesak Washington menghentikan pengiriman senjata ke ‘Israel’.
Mereka menilai dukungan militer AS secara langsung memperkuat kemampuan ‘Israel’ melanjutkan agresi di Gaza; hampir 500 warga Palestina dilaporkan tewas sejak gencatan senjata 10 Oktober 2025.
Pada hari yang sama, AS juga menyetujui penjualan senjata senilai USD9 miliar kepada Arab Saudi, termasuk 730 rudal Patriot di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan pergerakan armada perang AS ke dekat Iran.
Meski demikian, Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman mengatakan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahwa Saudi tidak akan mengizinkan wilayahnya digunakan untuk serangan militer terhadap Iran. (Al Jazeera)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
