Taufan Al-Aqsha, Badai Gaza, Gerimis Al-Qur’an
6 February 2026, 14:15.
Oleh Dzikrullah Pramudya
Siapa yang menemani Syaikh Ahmad Yasin ketika ada di dalam penjara? Jawabannya adalah Al-Qur’an.
Siapa yang menemani para mujahidin yang terowongan tempat persembunyian mereka berjaga-jaga ribath di perbatasan Gaza hancur karena bombardir dan hujan rudal yang dijatuhkan oleh penjajah, selama puluhan hari dalam kegelapan, dalam keadaan berpuasa? Jawabannya adalah Al-Qur’an.
Siapa yang menemani anak-anak Gaza di bawah reruntuhan rumahnya pada malam yang gelap gulita tidak ada listrik, yang mereka dengarkan adalah desingan peluru dan gelegar suara bom yang berjatuhan di sekitar rumah, menghitung satu demi satu jumlah syuhada yang berguguran, siapa yang menemani mereka? Jawabannya Al-Qur’an.
Siapa yang menemani para ibu yang merintih menghadapi kepungan penjajah Zionis “Israel” yang sudah berlangsung selama 18 tahun, menghabiskan tabungan mereka satu demi satu, menghabiskan persediaan makanan mereka, menghabiskan obat-obatan mereka, sampai hampir-hampir tidak ada lagi harapan untuk bertahan hidup, dan mengatakan kepada kita lewat sambungan telepon, “Kami di sini sedang menunggu giliran dipanggil pulang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala”? Al-Qur’an.
Siapa yang menemani Ustaz Ismail Haniyyah sebelum tidur pada malam ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirim malaikat maut untuk mengakhiri hidupnya? Al-Qur’an.
Siapa yang menemani para ulama, para umarah, yang bertahun-tahun menjaga pilar-pilar persatuan, pilar-pilar kepercayaan, pilar-pilar amanah, untuk meyakini bahwa perjalanan ini adalah perjalanan mempertahankan dan mewakili kemuliaan umat Islam sedunia? Al-Qur’an.
Siapa yang menemani Abdullah Barghouti yang divonis 6.633 tahun penjara penjajah sehingga tidak ada lagi harapan untuk hidup menghirup udara kebebasan di luar penjara Zionis “Israel”? Al-Qur’an.
Siapa yang menemani putri-putri kita yang kemuliaannya, yang cahaya hidupnya, berusaha diredupkan, dimatikan, oleh penjajah Zionis “Israel” sehingga tidak ada lagi harapan hidup? Al-Qur’an.
Siapa yang menemani Fatimah Najjar, seorang nenek yang mendatangi tentara-tentara “Israel” di pos-pos penjajahan mereka di Beit Lahiya, kemudian menembakkan senapan dan melemparkan granat, serta bahan peledak yang sudah disiapkan dan dia juga ikut mati di dalam ledakan itu? Al-Qur’an.
Siapa yang menemani Syaikh Salah Syahadah ketika mendirikan Brigade Kataib as-Syahid Izzuddin al-Qassam, dan satu kampung di Bait Hanun dibunuh hanya untuk membunuh satu orang dia? Al-Qur’an.
Siapa yang menemani anak-anak yang dalam keadaan sakit berusaha dilarikan keluar pintu gerbang Rafah, berjam-jam mereka menunggu izin dari tentara-tentara Mesir, sementara terbaring di tempat tidur, tangan mereka ditusuk infus dan dan di ujung hari mereka mendapat kabar bahwa mereka tidak bisa keluar untuk berobat? Siapa yang menemani mereka? Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah napas perjuangan. Al-Qur’an yang membuat orang kembali paham dan sadar bahwa urusan jihad membebaskan Masjidil Aqsha adalah urusan semua orang yang beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikat, beriman kepada kitab-kitab, beriman kepada rasul-rasul, beriman kepada Yaumul Qiyamah, beriman kepada Qada dan Qadar Allah. Setiap orang yang mengimani enam hal itu di dalam dirinya ada timeline, ada playlist yang tidak habis-habis berbunyi di telinganya, di ruang berpikirnya, di renungan-renungannya, di ingatan-ingatannya, di kegiatannya sehari-hari, Al-Qur’an.
Al-Qur’an adalah sumber ilham, sumber inspirasi, Al-Qur’an adalah energi dan ini disadari secara serius oleh para Qiyadatul Jihad, Qiyadatul Mujahidin di Palestina bahwa tidak ada diplomasi yang akan dimenangkan apabila para diplomatnya bukan rijalul Qur’an. Tidak ada pasukan yang bisa dikalahkan kalau yang melawan itu bukan rijalul Qur’an. Tidak ada masyarakat yang bisa tegak bangkit, tidak rukuk dan tidak sujud, kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan jutaan ton bahan peledak yang dihujankan ke tubuh-tubuh mereka, ke rumah-rumah mereka.
Tidak akan bisa mereka menghasilkan Ajiyal atau generasi-generasi yang bertahan hidup selama belasan tahun, kecuali adalah ibu-ibu yang ketika rahimnya dibuahi dan 9 bulan mengandung, dan kemudian mengeluarkan bayi itu dengan penuh perjuangan, dengan rasa sakit yang dahsyat, dengan pertaruhan nyawa, kecuali adalah ibu-ibu yang lisannya, pikirannya, darahnya, dikuatkan oleh Al-Qur’an.
Tidak akan ada pertolongan itu. Ini adalah kesadaran massal, kesadaran kolektif yang dimiliki oleh saudara-saudara kita di Gaza, di Palestina. Dan ini bukan kesadaran yang unik pada zaman kita, ini adalah kesadaran yang ada dan diwariskan sepanjang zaman sejak Al-Qur’an tuntas.
Al yauma akmaltu lakum dinakum wa atmamtu ‘alaikum ni‘mati wa radhitu lakumul islama diina (Surah Al-Maidah ayat 3).
Sejak Al-Qur’an itu sempurna diturunkan, maka sampai hari ini satu demi satu jurnal dan buku harian umat Islam, pasang naik dan pasang turunnya itu ditorehkan dengan Al-Qur’an.
Tidak ada generasi yang hilang kemudian bangkit lagi kecuali karena Al-Qur’an. Tidak ada pemimpin yang tadinya syahid dibunuh oleh musuh dan kemudian lahir lagi penggantinya kecuali karena Al-Qur’an. Tidak ada penguasa-penguasa zalim yang runtuh dan hancur kesombongannya kecuali ditudingkan oleh para ulama yang Rabbaniyah dengan membawa Al-Qur’an di lisannya dalam pikirannya.
Al-Qur’an adalah jaminan bahwa perjalanan hidup seorang pribadi, perjalanan hidup sebuah keluarga, perjalanan hidup sebuah masyarakat, sebuah perjuangan itu tidak dalam kesesatan. Bisa dikatakan Al-Qur’an adalah jaminan untuk membatalkan kesesatan kita. Karena Al-Qur’an sendiri itu adalah sesuatu yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjaga manusia yang paling mulia dari kesesatan. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam itu hampir tersesat. Loh, kok bisa nabi kok hampir tersesat? Karena dia manusia, ini untuk menunjukkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menunjukkan kepada kita, jangankan kalian yang jauh dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam, nabi sendiri hampir tersesat dan dijaga oleh Al-Qur’an.
A’udzu billahi minasy syaithonir rojim. Wa lau la fadhlullahi ‘alaika wa rahmatuhu lahammatha’ifatum minhum ay yudhilluka, wa ma yudhilluna illa anfusahum. (Surah An-Nisa’ ayat 113)
“Dan kalau bukan karena karunia dan rahmat-Nya kepadamu (Muhammad), tentulah sekelompok dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu, tetapi mereka hanya menyesatkan dirinya sendiri dan tidak membahayakanmu sedikit pun.”
Wa ma yadhurrunaka (Dan tidaklah mereka menyesatkanmu). Min syai’in (Dengan suatu apa pun). Wa anzalallahu ‘alaikal kitaba (Dan Allah menurunkan kepada kamu kitab ini). Wal hikmat (Dan Hikmah). Wa ‘allamaka (Dan Dia mengajari kamu). Ma lam takun ta‘lam (Apa-apa yang tadinya kamu tidak ketahui). Wa kana fadhlullahi ‘alaika ‘adzima (Sungguh karunia Allah yang dilimpahkan kepada kamu itu sangat besar).
Sumber daya ilmu untuk kita berjuang itu 100% datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan ini, seperti yang tadi kita sebutkan, bukan unik pada zaman kita, pada zaman Jihad Gaza ini, tetapi sudah terjadi pada zaman-zaman sebelumnya, dan kita bersyukur kepada Allah, bersyukur dan tidak berhenti bersyukur bahwa kita dituntun oleh Allah untuk masuk ke dalam Zilal Al-Qur’an, ke dalam naungan Al-Qur’an ini, pada saat berbicara tentang perjuangan, karena tidak ada perjuangan jika tidak diiringi oleh Al-Qur’an.
Sebagaimana Allah mengingatkan kita juga bahwa sebelum zaman Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam pun Allah mengiringi perjuangan bangsa-bangsa dan kaum-kaum sebelum kita itu dengan wahyu.
Inna auhaina ilaika kama auhaina ila nuhiw wannabiyyina mim ba‘dih, wa auhaina ila ibrahima wa isma‘ila wa ishaqa wa ya‘quba wal asbathi wa ‘isa wa ayyuba wa yunusa wa haruna wa sulaiman, wa ataina dawuda zabura. (Surah An-Nisa ayat 163)
“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya; ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan kitab Zabur kepada Dawud.”
Ketika kita menyebut Nuh, langsung hati kita ini, dan pikiran kita diingatkan oleh Allah dengan peristiwa maha dahsyat yang belum pernah terjadi sebelum dan sesudahnya sampai hari Kiamat nanti datang. Tidak pernah ada seluruh bumi ditutupi oleh banjir. Karena Allah telah menutup waktu, deadline sudah datang, time is up. Ajalum musamma. Ajal yang sudah ditentukan oleh Allah bahwa sudah selesai waktu dakwah Nuh kepada kaumnya.
Kemudian nabi-nabi setelahnya, Ibrahim, bapaknya seluruh para nabi yang ujian kesabaran dan keimanannya itu tak terperikan oleh manusia pada zaman sekarang. Ismail ‘Alayhissalam, anak pertama dari bapaknya para nabi. Kemudian Ishak yang lahir di Baitul Maqdis dengan kemuliaan tanahnya para nabi dan para malaikat. Ya’kub ‘Alayhissalam yang meninggikan dan membangun Masjidil Aqsha yang kita muliakan dan kita perjuangkan.
Al-Ashbat, dan anak cucunya, termasuk terutama Yusuf ‘Alayhissalam, Nabi Isa ‘Alayhissalam, yang diberikan mukjizat-mukjizat yang tidak pernah diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya, menghidupkan orang mati, menyembuhkan semua penyakit tanpa kecuali, berbicara ketika masih dalam keadaan bayi.
Nabi Ayyub ‘Alayhissalam, contoh kesabaran sepanjang zaman. Nabi Yunus ‘Alayhissalam, contoh terbaik dari taubatan nasuha. Nabi Harun ‘Alayhissalam, contoh kesetiaan pada perjuangan menghadapi tiran yang zalim tanpa rasa takut sedikit pun dengan adab dan akhlak yang tinggi. Nabi Sulaiman ‘Alayhissalam, penguasa terbaik yang pernah hidup di muka bumi sesudah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam. Dan Dawud ‘Alayhissalam, yang sejak kecil ditarbiyah oleh Allah untuk menjatuhkan dan merobohkan kezaliman.
Dan dia merupakan kekuatan yang dahsyat, Al-Qur’an adalah kekuatan yang dahsyat.
Lau anzalna hadzal-qur’ana ‘ala jabalil lara aitahu khasyi‘am mutashaddi‘am min khasyyatillah, wa tilkal-amtsalu nadhribuha lin-nasi la‘allahum yatafakkarun.
“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah, dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” (Surah Al-Hasyr ayat 21)
Dan kita menyaksikan 23 tahun, 6.000 ayat ini turun bukan selalu di ruang-ruang yang tenang, bukan selalu di masjid yang damai, bukan selalu di kamar-kamar Rasulullah yang sepi. Tidak, Al-Qur’an ini turun satu demi satu, berbicara dengan berbagai peristiwa besar yang dialami oleh Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam dan para sahabatnya, yang kemudian kita dari membaca Sirah Nabawiyah itu, kita berkesimpulan bahwa saudara-saudara kita di Gaza ini, cara mereka hidup dengan Al-Qur’an lebih dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam dibandingkan kita.
Kita ini sangat asyik dan nikmat membaca Al-Qur’an di TPA-TPA, di Taman Pendidikan Al-Qur’an, di masjid-masjid, di kamar-kamar kita pada malam hari. Namun, Rasulullah dan para sahabat tidak seperti itu. Mereka membaca Al-Qur’an sesudah tubuh luka-luka ditusuk tombak musuh, sayatan pedang musuh, di bawah ancaman, di gua Hira, di gua Tsur, ketika hijrah ke Madinah, ke Yatsrib.
Para perempuan pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam menerima Al-Qur’an sebagai jawaban terhadap fitnah kepada diri mereka. Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ibu kita semua, menerima surah Nur dari lisan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam setelah berminggu-minggu, bahkan berhitung bulan berbilang bulan difitnah bahwa dia berzina, dibersihkan namanya dengan Al-Qur’an.
Pernikahan Zaid bin Haritsah, yang kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam menikahi istrinya juga diabadikan dengan Al-Qur’an. Kemudian peristiwa lain, surah Al-Ahzab turun kepada Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam ketika rasa takut itu sampai ke tenggorokan, karena kota Madinah dikepung oleh Ahzab, golongan-golongan, batalion-batalion, pasukan-pasukan dari berbagai arah, dari berbagai etnis, dari berbagai kelompok.
Jadi, kita menyaksikan saudara-saudara kita di Gaza yang pada masa tidak bertempur itu hidupnya memang diiringi oleh Al-Qur’an, dan pada masa pertempuran pun dikuatkan oleh Al-Qur’an. Oleh karena itu, kita semua tidak punya pilihan lain. Jika ingin nama kita dicatat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam gelombang pertolongan dan kemenangan ini, kita hidup bersama-sama mereka di bawah naungan Al-Qur’an, sebagaimana para ulama kita mencontohkan.
Sayyid Qutb, menjelang digantung oleh rezim Gamal Abdul Naser, juga menyelesaikan tafsir Fi Zilal al-Qur’an, bukan cuma membaca dan menghafalkan, tetapi menuliskan tafsir. Buya Hamka, kekasih kita di Indonesia, juga dipenjara oleh rezim Soekarno, menghasilkan tafsir Al-Azhar, Al-Qur’an. Yang masih hidup, Doktor Ustaz Ahmad Zain an-Najah, dipenjara dan berhasil menyelesaikan 19 juz penulisan Tafsir Al-Qur’an.
Manis itu rasanya Al-Qur’an yang ditulis dan dibaca di bawah kezaliman, di bawah penindasan, karena cahaya kesabaran dan cahaya keimanan itulah yang digoreskan. Ditindas, ditendang, digebuki, dibabakbeluri oleh kezaliman tangan-tangan manusia, kemudian dia bertahan dengan keimanannya, itulah cahaya yang sesungguh-sungguhnya akan menjadi suluk bagi umat, sekaligus menjadi makanan utama para pejuang, menjadi penyejuk hati para ibu yang sedang berduka, menjadi penguat hati para remaja yang sedang galau. Al-Qur’an inilah yang insya Allah akan menemani kita pada masa suka dan duka sampai akhir hayat kita.
Mudah-mudahan jiwa-jiwa kita yang kerdil ini, hati-hati kita yang sering tertutupi oleh syahwat kita ini, akal kita yang sering merasa lebih pintar dari Allah, dari Rasulullah dan dari para nabi ini, badan kita yang penuh dengan dosa ini, sudilah kiranya Allah Subhanahu wa Ta’ala membersihkannya, menyucikannya, dan kemudian mendudukkan kita sebaris dengan para mujahidin, para syuhada, para shalihin, para nabi, sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus malaikat maut menjemput kita.
Kita berharap Allah Subhanahu wa Ta’ala memenangkan para mujahid di medan diplomasi, di medan jihad, asykari, di medan logistik, di semua bentuk perjuangan yang bisa kita bayangkan maupun yang tidak bisa kita bayangkan.
Memisahkan dari barisan mereka dan dari barisan kita, kaum munafikin, kaum fasik, yang dari zaman ke zaman selalu dihadirkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, seakan-akan berjuang bersama kita dengan kalimat-kalimat yang manis, dengan acara-acara yang kelihatan hebat, tetapi sebenarnya menikam jantung-jantung pertahanan para mujahidin, memorak-porandakan barisan para mujahidin, tetapi selalu saja dimenangkan oleh Allah. Kita minta dengan Al-Qur’an ini, jangan sampai kita ikut dilibas, termasuk orang-orang yang meninggalkan perjuangan, atau menjadi orang-orang yang munafik di dalam barisan perjuangan. Wallahu a’lam bishawab.
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
