Sektor Kesehatan Gaza Rawan Tumbang, Pasien Tanpa Akses Pengobatan

11 February 2026, 09:17.

Foto: PIC

GAZA (PIC) – Sektor kesehatan di wilayah Gaza menghadapi keruntuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat serangan langsung ‘Israel’ terhadap rumah sakit serta blokade berkepanjangan yang menghalangi masuknya obat-obatan, bahan medis habis pakai, dan peralatan vital.

Rumah sakit yang masih beroperasi jumlahnya sangat terbatas dan tidak mampu memenuhi kebutuhan paling mendasar; di tengah peringatan yang kian menguat tentang bencana kesehatan dan meningkatnya angka kematian pasien setiap hari.

Ancaman Penutupan Layanan Vital

Direktur Rumah Sakit Al-Tahrir di Kompleks Medis Nasser, Dr. Ahmad Al-Farra, menggambarkan situasi kesehatan di Gaza sebagai katastropik.

Ia menegaskan bahwa banyak unit layanan vital terancam tutup akibat hancurnya peralatan medis, serta rusaknya fasilitas yang tersisa karena kekurangan bahan bakar dan oksigen.

Kepada koresponden PIC, Al-Farra mengatakan rumah sakit saat ini bekerja dalam kondisi luar biasa yang sama sekali tidak sebanding dengan besarnya jumlah korban luka dan terus meningkatnya kasus medis.

Al-Farra mengungkapkan bahwa lebih dari 21.000 pasien terdaftar dalam daftar tunggu untuk dirujuk berobat ke luar Gaza.

Para pasien dalam daftar tersebut dalam kondisi yang sangat rawan, terutama karena ketiadaan obat kanker dan ketidakmampuan menyelesaikan protokol pengobatan, yang telah menyebabkan kematian pasien secara langsung di dalam wilayah Gaza.

Kanker yang Berat

Mahmoud Abu Eita (52), yang telah lebih dari setahun mendampingi istrinya yang mengidap kanker payudara, menceritakan kesulitannya.

“Sebelum agresi penjajah, pengobatan berjalan rutin dan kondisinya relatif stabil. Sekarang, tidak ada obat dan tidak ada jadwal perawatan. Setiap kali ke rumah sakit, jawabannya selalu sama: tidak tersedia,” ujarnya.

Ia menambahkan, “Bagian tersulit adalah rasa tidak berdaya. Saya melihatnya menderita dan tidak bisa berbuat apa-apa. Kami menghitung hari bukan dengan harapan sembuh, tetapi agar kondisinya tidak semakin memburuk.”

Di Antara Hidup dan Mati

Umm Muhammad, seorang muhajirin dari Khan Yunis, menceritakan kondisi putranya yang berusia 9 tahun dan menderita penyakit jantung bawaan.

“Dokter mengatakan anak saya harus segera dirujuk ke luar Gaza, tetapi pelintasan sudah berbulan-bulan ditutup. Kami pulang dengan kekecewaan,” katanya.

Ia melanjutkan dengan suara bergetar, “Anak saya mulai mengerti. Ia bertanya, ‘Ibu, apakah aku akan mati?’ Setiap kali melihatnya menangis karena takut pada hari esok, saya sangat sedih.”

Luka yang Tak Terobati

Ahmad Al-Najjar (27) terluka akibat serpihan peluru dalam pengeboman sebelumnya dan membutuhkan operasi yang tak kunjung terlaksana karena ketiadaan peralatan.

“Operasi saya sudah ditunda tiga kali. Rasa sakit terus ada, tetapi yang paling berat adalah perasaan terjebak. Setiap hari saya mendengar kabar pasien meninggal di rumah sakit. Kadang saya terbangun pada malam hari dan bertanya, apakah saya akan menyusul?” ujarnya.

Blokade Pasokan Medis Perparah Krisis

Dr. Al-Farra juga menegaskan bahwa truk-truk pembawa obat dan perlengkapan medis terus dicegah masuk, ditambah pembatasan terhadap kerja lembaga internasional, yang memaksa sebagian dari mereka mengurangi aktivitas atau bahkan menarik diri sepenuhnya dari Gaza.

Situasi ini, katanya, melipatgandakan beban rumah sakit yang tersisa dan memperparah skala bencana kesehatan.

Penutupan pelintasan menyebabkan ribuan kasus medis menumpuk tanpa opsi pengobatan di dalam Gaza, sementara jumlah korban terus meningkat secara senyap. 

Para pakar memperingatkan bahwa jika kondisi ini terus berlanjut, Gaza akan menghadapi kehancuran total sistem kesehatan dan lonjakan kematian yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Seiring krisis yang kian memburuk, komunitas internasional dan lembaga hak asasi manusia kembali menyerukan intervensi segera. 

Termasuk pembukaan akses masuk obat-obatan, bahan bakar, dan perlengkapan medis, serta dibukanya pelintasan bagi pasien—sebelum kesulitan kesehatan di Gaza berubah menjadi tragedi permanen berkepanjangan. (PIC)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Krisis Obat-obatan di Wilayah Gaza, Nyawa Pasien Kian Terancam
Dokumen Baru Ungkap Epstein Sumbang Dana ke Militer ‘Israel’ dan Biayai Permukiman Ilegal »