“Memuliakan Para Syuhada”: Pertahanan Sipil Jalankan Operasi Pencarian dan Evakuasi Jenazah dari Reruntuhan 

19 February 2026, 19:33.

Tim Pertahanan Sipil mengevakuasi jenazah anggota keluarga Abu Nasr yang terperangkap di bawah reruntuhan bangunan akibat serangan ‘Israel’, di Beit Lahia, Gaza, 15 Februari 2026. [Anas Zeyad Fteha – Anadolu Agency]

GAZA (Middle East Monitor) – Tim Pertahanan Sipil Palestina di Gaza, awal pekan ini, memulai operasi evakuasi jenazah warga Palestina yang tewas akibat genosida zionis dan hingga kini masih terperangkap di bawah reruntuhan rumah mereka di Gaza utara.

Anadolu Agency melaporkan, operasi bertajuk “Memuliakan Para Syuhada” ini dimulai di Beit Lahia.

Tim penyelamat langsung mengevakuasi jenazah dari rumah keluarga Abu Nasr yang hancur akibat serangan udara ‘Israel’ pada 29 Oktober 2024. Saat itu, rumah tersebut menampung sekira 200 anggota keluarga dan warga yang mengungsi.

Berdasarkan perkiraan resmi di Gaza, sekira 9.500 warga Palestina masih dinyatakan hilang dan diduga tertimbun puing. Proses pencarian terhambat oleh kerusakan luas dan keterbatasan alat berat.

Petugas Pertahanan Sipil, Muhammad Tamous, mengatakan operasi ini menjadi langkah awal dari upaya yang lebih luas untuk mengevakuasi korban dari berbagai lokasi di Gaza utara. Tahap pertama difokuskan pada rumah-rumah yang diyakini menyimpan banyak jenazah.

“Kami berdiri di atas reruntuhan rumah keluarga Abu Nasr, dan puluhan jenazah masih berada di dalamnya,” kata Tamous. “Kami berharap operasi ini terus berlanjut hingga seluruh syuhada dapat dievakuasi dari seluruh wilayah Gaza.”

Ia menambahkan, ribuan jenazah masih terkubur di bawah puing-puing, sementara Pertahanan Sipil kekurangan buldoser dan peralatan berat untuk operasi evakuasi berskala besar.

Salah satu kendaraan yang digunakan saat ini merupakan bantuan dari Komite Palang Merah Internasional. Tamous pun menyerukan organisasi kemanusiaan internasional untuk segera menyalurkan bantuan peralatan tambahan.

Aya Abu Nasr, salah satu korban agresi zionis menceritakan bahwa keluarga besarnya berlindung di sebuah gedung lima lantai ketika serangan zionis kian intensif. Sekira 200 orang berada di dalam gedung tersebut saat serangan menghantam.

Kepada Anadolu Agency, Aya mengatakan sekira 150 orang tewas dalam serangan itu, puluhan lainnya terluka, sementara sejumlah korban masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan.

Upaya evakuasi awal yang dilakukan saat pengeboman masih berlangsung sangat terbatas dan berisiko tinggi.

“Beberapa jenazah berhasil dikeluarkan, tetapi korban yang berada di lantai bawah tidak bisa dijangkau,” ujarnya. “Lebih dari setahun berlalu, keluarga kami masih menunggu untuk menemukan dan memakamkan jenazah mereka yang masih tertimbun dengan layak.”

Sambil menunjukkan foto-foto di ponselnya, Aya menyebut adiknya, Muhammad, hingga kini masih dinyatakan hilang. Ia berharap jasad sang adik dapat segera ditemukan.

Petugas dalam Kondisi Rawan

Sementara itu, petugas Pertahanan Sipil di Gaza bekerja dalam kondisi kesehatan yang berbahaya sejak agresi genosida ‘Israel’ dimulai.

Mereka menghadapi kondisi jenazah yang membusuk di area terbuka, keterbatasan alat pelindung diri, serta minimnya perangkat pemeriksaan biologis.

Pembatasan dan blokade zionis terhadap masuknya pasokan medis penting semakin mempersulit proses evakuasi; membuat para petugas penyelamat rentan terhadap penyakit dan infeksi selama operasi pencarian.

Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan pada Ahad (15/2/2026) bahwa 726 jenazah telah berhasil dievakuasi sejak kesepakatan gencatan senjata dengan ‘Israel’ pada 10 Oktober. Gencatan senjata tersebut menghentikan sementara perang selama dua tahun yang dimulai pada 8 Oktober 2023.

Palestina menyebut perang tersebut menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina, melukai lebih dari 171.000 orang, serta menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil. PBB memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai sekitar 70 miliar dolar AS.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 601 warga Palestina tewas dan lebih dari 1.600 lainnya terluka akibat serangan ‘Israel’ sejak gencatan senjata diberlakukan.

Sebelumnya, keluarga-keluarga di Gaza pada Jumat (13/2/2026) memakamkan jenazah korban yang tak teridentifikasi. Jenazah dan sisa-sisa tubuh tersebut diserahkan oleh penjajah zionis melalui Komite Internasional Palang Merah (International Committee of the Red Cross/ICRC).

Menurut laporan setempat, pemakaman dilakukan di area pemakaman khusus korban tak dikenal di selatan Deir al-Balah, Gaza Tengah.

Pemakaman berlangsung di tengah duka dan kemarahan publik, seiring mencuatnya kekhawatiran terkait kondisi dan cara pengembalian sisa-sisa jenazah tersebut.

Sumber-sumber media menyebutkan, yang diterima keluarga bukanlah jasad utuh, melainkan potongan-potongan tubuh manusia yang tercerai-berai, dimasukkan ke dalam kantong dan kotak tertutup rapat.

Kondisi ini membuat identifikasi korban—bahkan penentuan jumlah pastinya—nyaris mustahil. Kondisi itu juga mencerminkan kebrutalan genosida sekaligus pelanggaran terhadap martabat jenazah warga Palestina. (Middle East Monitor)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Penjajah Zionis ‘Israel’ Bunuh Tiga Warga Gaza di Awal Bulan Ramadan