Setelah Dua Tahun Terpisah, Para Muhajirin Disambut Haru Keluarga di Gaza
20 February 2026, 14:19.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Suasana di halaman Rumah Sakit Nasser, Khan Yunis, Gaza selatan, siang itu jauh dari biasa. Wajah-wajah letih karena penantian berdiri menatap ke arah jalan. Di tangan mereka, buket-buket bunga tergenggam erat—sebagian tangan tampak bergetar.
Mereka menunggu bus-bus yang membawa keluarga dan kerabat yang akhirnya kembali melalui pelintasan Rafah di perbatasan Mesir, yang dibuka kembali secara terbatas lebih dari dua pekan lalu, dengan pembatasan ketat dari penjajah zionis ‘Israel’.
Bus-bus yang memasuki Gaza setelah lebih dari dua tahun terhenti bukan sekadar kendaraan. Ia membawa rindu yang menumpuk, harapan yang lama tertahan, serta kerinduan pada keluarga dan tanah kelahiran.
Saat bus tiba, tangis pecah bersamaan dengan senyum. Cemas berubah menjadi lega. Sebuah pemandangan kemanusiaan yang menunjukkan betapa panjang dan menyakitkannya masa perpisahan itu.
Pertemuan Setelah Dua Tahun Terpisah
Di antara para penanti, Raed Hijazi berdiri memegang bunga. Dua tahun lalu, ia melepas kepergian istrinya dengan harapan segera menyusul.
Namun, agresi genosida zionis dan penutupan pelintasan Rafah memperpanjang jarak di antara mereka tanpa kepastian.
Pelintasan Rafah ditutup penjajah zionis ‘Israel’ pada Mei 2024, setelah serdadu ‘Israel’ memasuki Kota Rafah dan menguasai sisi Palestina dari perbatasan tersebut.
Sejak saat itu, ribuan warga Palestina yang berada di luar Gaza—untuk berobat, belajar, atau urusan kemanusiaan—terjebak dan tak bisa kembali.
Istri Hijazi berhasil keluar Gaza sekira dua tahun lalu. Hijazi seharusnya menyusul dua hari kemudian. Namun, penyerbuan ke Rafah dan penutupan pelintasan menggagalkan rencana itu.
Pertemuan mereka di halaman rumah sakit bukan sekadar penyambutan singkat, melainkan momen merebut kembali kehidupan yang tertunda. Sambil memeluk istrinya erat, Hijazi mengaku kebahagiaan itu tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Harapan bagi warga yang mengungsi sempat muncul setelah kesepakatan pertukaran tawanan dan gencatan senjata antara ‘Israel’ dan Hamas mulai berlaku pada Oktober tahun lalu.
Namun, penjajah ‘Israel’ baru membuka kembali pelintasan Rafah secara terbatas pada 2 Februari tahun ini—hampir empat bulan kemudian; tetap dengan pembatasan ketat.
Hamas menyatakan bahwa penjajah ‘Israel’ melanggar mekanisme operasional sisi Palestina dari pelintasan tersebut, termasuk tidak memenuhi kuota perjalanan yang telah disepakati.
Mereka juga mengungkapkan adanya perlakuan keras terhadap para muhajirin Gaza, baik secara fisik maupun psikologis, termasuk interogasi yang ketat.
Sejumlah warga yang kembali mengaku mengalami pemeriksaan panjang dan intimidasi selama perjalanan. Mereka juga dilarang membawa banyak barang pribadi, bahkan mainan anak-anak, kecuali pakaian dalam jumlah terbatas.
Media Mesir dan ‘Israel’ sebelumnya melaporkan sekira 50 warga Palestina diizinkan masuk ke Gaza setiap hari dan jumlah yang sama keluar ke Mesir.
Namun, angka itu disebut tak benar-benar terealisasi. Sebelum genosida, ratusan orang melintas setiap hari melalui Rafah tanpa intervensi langsung ‘Israel’.
Momen Kemanusiaan yang Menggetarkan
Bagi keluarga yang terpisah, kepulangan ini menjadi momen kemanusiaan yang menggetarkan. Selama dua tahun, mereka hidup dalam ketidakpastian. Mereka khawatir akan keselamatan orang terkasih, di tengah komunikasi yang sering terputus akibat rusaknya jaringan telekomunikasi.
Data menunjukkan sekira 80 ribu warga Palestina telah mendaftarkan diri untuk kembali ke Gaza. Angka itu mencerminkan tekad kuat untuk pulang, meski wilayah tersebut telah hancur parah.
Kantor Media Pemerintah Gaza (GMO) mencatat, sejak 2 hingga 15 Februari, sebanyak 356 warga berhasil kembali ke Gaza, sementara 455 orang keluar melalui Rafah.
Sejak 7 Oktober 2023, dengan dukungan Amerika Serikat, ‘Israel’ melancarkan agresi besar-besaran ke Gaza yang berlangsung selama dua tahun.
Lebih dari 72.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 171.000 lainnya terluka—sebagian besar perempuan dan anak-anak. Sekira 90 persen infrastruktur sipil disebut mengalami kerusakan atau kehancuran.
Di tengah puing-puing dan kehilangan itu, bus-bus yang tiba di halaman rumah sakit bukan sekadar alat transportasi. Ia menjadi simbol bahwa betapapun panjang perpisahan dan beratnya kehancuran, harapan untuk pulang belum padam di hati warga Gaza. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
