Gaza Hadapi Krisis Likuiditas Parah, Perbankan Lumpuh dan Uang Tunai Langka
20 February 2026, 14:18.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Warga Gaza kian tercekik krisis uang tunai. Pembatasan ketat zionis ‘Israel’ terhadap masuknya dana ke wilayah Gaza membuat perbankan nyaris lumpuh total.
Ratusan ribu orang memiliki saldo di rekening, tetapi tak benar-benar bisa menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Hari ini, banyak warga “punya uang” di atas kertas, tetapi tak bisa menariknya. Bank-bank menghentikan hampir seluruh layanan setor dan tarik tunai.
Yang tersisa hanya urusan administrasi terbatas. Sementara itu, uang kertas yang beredar di masyarakat kian sulit ditemukan.
Penggunaan aplikasi perbankan dan dompet digital memang meningkat, tetapi tidak banyak membantu. Pasar lokal—terutama lapak kaki lima dan pasar tradisional—masih sepenuhnya bergantung pada transaksi tunai. Tanpa uang fisik, roda perdagangan tersendat.
Uang Lusuh Ditambal agar Tetap Berlaku
Karena tak ada pasokan uang baru, warga terpaksa menggunakan uang kertas lama yang sudah lusuh dan sobek. Bahkan, muncul lapak-lapak khusus yang “memperbaiki” uang rusak dengan lem dan perekat agar bisa dipakai kembali.
Pemandangan ini kini menjadi hal biasa di pasar-pasar Gaza, setelah banyak pedagang menolak menerima uang yang sudah terlalu rusak.
Krisis ini sudah memasuki tahun ketiga. Sejak bulan-bulan awal agresi genosida, uang tunai cepat menghilang dari Gaza. Penjajah zionis ‘Israel’ menghentikan masuknya dana ke wilayah tersebut, membuat jumlah uang yang beredar semakin menipis.
Mengandalkan kartu ATM pun tak mudah. Banyak bank dan mesin ATM hancur akibat serangan, sebagaimana didokumentasikan jurnalis dan PBB pada September lalu.
Para pakar PBB menyebut ‘Israel’ mencegah masuknya uang logam dan uang kertas baru, yang memicu krisis likuiditas parah, lonjakan biaya hidup, dan penurunan nilai gaji.
Tabungan Menyusut, Nilai Uang Merosot
PBB mencatat, perang telah mendorong sebagian besar dari dua juta penduduk Gaza jatuh ke jurang kemiskinan, di tengah ekonomi yang hancur dan ketiadaan pekerjaan yang meluas. Para ahli PBB mendesak agar pembatasan keuangan dicabut dan aliran likuiditas dipulihkan.
Seorang pejabat perbankan yang enggan disebut namanya mengatakan kepada AFP, “Orang-orang kehilangan sebagian besar tabungan mereka. Nilai uang selama agresi zionis ini terus merosot.”
Meski uang tunai hampir tak tersedia, antrean di depan kantor cabang bank tetap menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, pintu bank hanya dibuka untuk urusan dokumen—tanpa ada uang yang benar-benar bisa ditarik.
Ironisnya, banyak warga Gaza menerima kiriman uang dari keluarga di luar negeri. Namun, untuk mencairkannya menjadi uang tunai, mereka harus membayar potongan dalam jumlah besar. Artinya, nilai bantuan sudah berkurang sebelum benar-benar sampai ke tangan penerima.
Pasar Gelap dan Beban yang Kian Berat
Peneliti ekonomi Ahmad Abu Qamar menyebut sektor perbankan sebagai salah satu yang paling terdampak selama perang. Ia memperkirakan biaya membangun kembali infrastruktur keuangan mencapai lebih dari 42 juta dolar AS.
Menurutnya, pembatasan transfer dana sebenarnya sudah ada sebelum perang, tetapi kini jauh lebih ketat. Banyak transfer ditolak atau rekening dibekukan penjajah zionis karena alasan sumber dana sehingga keluarga makin sulit menerima bantuan dari luar.
Dalam dua tahun terakhir, kerugian aset kredit dan kas diperkirakan melampaui 325 juta dolar AS—angka yang menunjukkan betapa parahnya kerusakan siklus keuangan di tengah ekonomi yang sudah terpuruk.
Abu Qamar menegaskan, pencegahan masuknya likuiditas bertentangan dengan Perjanjian Ekonomi Paris yang mewajibkan pasokan uang tunai yang cukup ke wilayah Palestina.
Ia juga memperingatkan, ketiadaan suntikan uang resmi ke pasar telah memunculkan pasar gelap yang mengendalikan “harga uang tunai”. Untuk mendapatkan uang fisik, warga harus membayar biaya tambahan. Beban ini tak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga pedagang.
Pembatasan uang tunai yang boleh dibawa warga yang kembali ke Gaza—tak lebih dari 1.000 dolar AS—dinilai semakin mempersempit peredaran uang. Keputusan itu, menurutnya, justru menarik uang keluar dari pasar, bukan menghidupkannya kembali. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
