Ketika Agresi Genosida Merenggut Keceriaan Ramadan Penduduk Gaza
24 February 2026, 21:28.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Ramadan di Gaza tahun ini tak lagi seperti yang dikenal warganya selama puluhan tahun. Bulan yang dulu identik dengan ketenangan, ibadah bersama, serta hidangan berlimpah kini berjalan di bawah bayang-bayang genosida.
Pengungsian massal, kehancuran, kelangkaan bahan pokok, dan perubahan drastis dalam kehidupan sehari-hari membentuk wajah baru Ramadan di wilayah itu.
Salat berjemaah dan berbagai kegiatan Ramadan yang dulu menghidupkan lingkungan kini jauh berkurang.
Ratusan masjid hancur. Banyak keluarga terpaksa beribadah di dalam tenda pengungsian atau rumah yang rusak, dalam suasana penuh kewaspadaan dan rasa tidak aman.
Meja makan pun tak lagi seperti dulu. Keterbatasan bahan makanan dan harga yang melambung membuat menu berbuka dan sahur semakin sederhana—sering kali hanya mengandalkan bantuan yang tersedia.
Pemadaman listrik dan krisis air bersih menambah kesulitan. Menyiapkan makanan bukan lagi rutinitas biasa, melainkan perjuangan tersendiri.
Tradisi silaturahim, yang menjadi ruh Ramadan, ikut memudar. Perang memisahkan keluarga. Banyak kerabat terpencar di berbagai lokasi pengungsian. Sebagian hanya bisa berkomunikasi lewat telepon, jika jaringan memungkinkan.
Anak-anak pun menjalani Ramadan tanpa hiasan lampu, tanpa permainan, tanpa keceriaan yang dulu mereka tunggu-tunggu.
Ketegangan pada Bulan Ramadan
Ghassan Fayyad, warga Bayt Lahia yang kini mengungsi di sebuah sekolah milik UNRWA di Gaza barat, mengaku tak lagi merasakan suasana Ramadan seperti sebelumnya.
“Dulu, begitu mendengar Ramadan akan tiba, kami langsung bahagia,” katanya. “Sekarang, yang kami pikirkan hanya kapan kesulitan di pengungsian ini akan berakhir.”
Ia mengenang Ramadan terakhir di rumahnya. Bersama tetangga, ia membersihkan lingkungan, memasang lampu hias di tiang-tiang listrik, dan menyiapkan masjid untuk menyambut jemaah. Sekarang tak ada masjid, dan tak ada lingkungan.
Menurutnya, suasana Ramadan kini terasa hampa. “Kami kehilangan orang-orang tercinta. Tak ada lagi kunjungan keluarga, tak ada undangan berbuka, tak ada kue-kue manis, tak ada salat Tarawih berjemaah. Kini yang ada adalah ketegangan dan kelelahan.”
Muhammad: “Ini Ramadan Ketiga Kami di Tenda Pengungsian”
Muhammad Alyan, pengungsi dari Kamp Jabalia yang kini tinggal di Gaza barat, merasakan kepedihan serupa. Ia sangat merindukan indahnya Ramadan sebelum perang.
Tahun ini menjadi Ramadan ketiganya di dalam tenda. “Tak ada lagi kebiasaan lama. Dulu kami memasak dengan gas, berbuka dengan lampu menyala, dan mendengar azan berkumandang. Sekarang kami memasak dengan kayu bakar, berbuka dengan cahaya ponsel, dan azan sering berlalu tanpa terdengar.”
Ia menambahkan, anak-anak pun kehilangan momen bahagia mereka. “Tak ada hiasan, tak ada lentera, tak ada manisan untuk membuat mereka tersenyum. Semua berubah total. Ramadan (di tengah genosida) bukan lagi musim kegembiraan.”
Tradisi Ramadan yang Dulu Disiapkan Sejak Sebelum Hilal, Kini Tinggal Kenangan
Widad Hamouda mengenang bagaimana Ramadan dulu disambut jauh sebelum hilal terlihat. “Kami sudah bersiap beberapa hari sebelumnya—membersihkan rumah, membeli kebutuhan pokok, menyusun jadwal kunjungan keluarga.”
Hari pertama Ramadan biasanya dimulai dengan salat Subuh dan membaca Al-Qur’an, lalu berbelanja ke pasar untuk menyiapkan hidangan berbuka dan membeli kue. Malamnya ditutup dengan salat Tarawih berjemaah.
“Kini rumah itu sudah hancur. Sebagian orang tercinta telah tiada, yang lain terpencar di kamp-kamp pengungsian,” katanya lirih. “Semua pemandangan itu lenyap bersama perang.” (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
