Rumah Sakit di Gaza Seolah Berubah Menjadi “Ruang Tunggu Paksa”
24 February 2026, 21:29.

Foto: PIC
GAZA (PIC) – Media zionis ‘Israel’ berupaya menggambarkan situasi wilayah Gaza seolah-olah normal, dengan menonjolkan pasar yang dipenuhi berbagai barang mewah, seperti biskuit, cokelat, dan kopi.
Namun, di balik etalase itu, kesulitan rakyat Palestina terus berlangsung dan luka mereka kian menganga akibat genosida yang berlanjut beserta dampaknya.
Klaim tersebut runtuh ketika realitas di lapangan menunjukkan bahwa penyakit ringan sekalipun di Gaza nyaris tak pernah sembuh.
Penyakit kecil dapat berubah menjadi kesulitan berkepanjangan karena rumah sakit pemerintah, klinik UNRWA, bahkan apotek tidak lagi mampu menyediakan pengobatan. Kalaupun tersedia, biaya perawatan kerap melampaui kemampuan warga.
Rumah Sakit Tanpa Perbekalan Medis
Seorang perawat di Rumah Sakit Al-Shifa, Murad G., mengatakan kepada Palestine Information Center (PIC) bahwa rumah sakit tersebut mengalami kekurangan parah perlengkapan medis dasar, termasuk kasa dan bahan perban.
Murad menjelaskan, tenaga medis terpaksa berimprovisasi dan menggunakan alternatif seadanya demi tetap merawat pasien sakit dan korban luka.
“Penjajah zionis secara sengaja membiarkan pasien tanpa perawatan dan obat-obatan, sementara pasar dibanjiri barang-barang non-esensial berharga mahal untuk memberi kesan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza telah berakhir,” ujarnya.
Ia menegaskan, kelaparan masih terjadi, begitu pula pembunuhan perlahan melalui pelemahan sistematis terhadap tenaga medis dan sistem kesehatan.
Ironisnya, kata Murad, ketersediaan obat dan perlengkapan medis justru lebih baik di fase awal perang. Kondisi saat ini mencerminkan pergeseran dari situasi buruk menjadi lebih buruk, ketika pasien dan korban luka semakin dirampas haknya atas layanan kesehatan.
Klinik Kosong, Tanpa Alternatif
Kondisi serupa dialami Abu Muhammad, seorang warga lanjut usia Palestina yang rutin mendatangi klinik UNRWA di dekat rumahnya di kamp pengungsi Nuseirat untuk memperoleh obat penyakit kronis, seperti hipertensi dan diabetes.
Setiap kunjungan, ia mendapati apotek klinik kosong akibat pembatasan zionis terhadap masuknya obat-obatan. Akibatnya, ribuan pasien kehilangan akses terhadap pengobatan yang sebelumnya mereka terima secara gratis dan rutin.
“Mendapatkan obat kini hanya menjadi harapan,” kata Abu Muhammad. Kondisi kesehatannya kian menurun karena ia tak bisa mengonsumsi obat secara teratur.
Ribuan pasien lain di Gaza bernasib serupa. Bahkan mereka yang mampu membeli obat di apotek swasta sering kali tak menemukannya. Jika tersedia, harganya melonjak tajam.
Sistem Kesehatan di Ambang Runtuh
Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan, setelah dua tahun genosida, sistem kesehatan berada di ambang kehancuran dengan persediaan obat dan perlengkapan medis yang menipis di rumah sakit yang masih beroperasi.
Kementerian menyatakan rumah sakit praktis berubah menjadi “ruang tunggu paksa” bagi ribuan pasien dan korban luka; di tengah ketidakmampuan hampir total untuk menyediakan perawatan kanker, layanan intensif, bahkan pelayanan kesehatan dasar.
Menurut data kementerian, stok minimal telah mencapai 46 persen obat esensial, 66 persen bahan habis pakai medis, serta 84 persen perlengkapan laboratorium dan bank darah.
“Rumah sakit tak lagi mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat karena jumlah obat yang masuk ke Gaza tidak mencukupi standar minimum layanan kesehatan,” demikian peringatan tersebut.
Kekurangan ini bahkan menjadikan obat pereda nyeri dasar sebagai barang mewah. Sementara itu, layanan bedah, laboratorium, dan transfusi darah nyaris lumpuh.
Kematian di Gaza terus berlangsung dalam berbagai bentuk. Ketika pembunuhan langsung melambat, perampasan layanan kesehatan tetap menjadi ancaman senyap, tetapi berkelanjutan bagi kehidupan. (PIC)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
