Epilog Bocah Palestina, Baru Sembuh Langsung Dibom Zionis

22 September 2011, 20:36.

JAKARTA, Kamis (Sahabatalaqsha.com): Mentari tenggelam amat cepat. Seolah sengaja melarikan diri. Tampaknya matahari tahu apa yang sebentar lagi akan terjadi dan ia tidak sanggup menyaksikannya.

Baru Sembuh

“Ternyata hatiku tidak sekuat dugaanku,” kata Moataz di sela tangisnya. Moataz menangis sambil menggendong anak lelakinya. Tangis sang ayah tampak sangat tulus, hati siapa pun akan tersentuh mendengarnya.

Saudara lelaki Moataz, Munzer, menepuk pundaknya. Lalu dengan jemarinya dihapuslah air mata kakaknya.

“Alhamdulillah, penderitaan Islam telah berakhir. Akhirnya dia sembuh dari penyakitnya,” Munzer menenangkan Moataz.

Moataz pun memeluk Islam lebih erat. Bagi sang ayah, Islam adalah segalanya dalam hidupnya. Tanpa anak lelakinya itu, hidup Moataz seakan tiada arti.

Dialog Nostalgia                        

“Apakah kamu ingat ketika kita menyelenggarakan pesta pernikahan dalam waktu yang sama?” tanya Moataz kepada saudaranya.

Munzer tertawa, “Itu hari yang tidak akan kulupakan! Aku hendak menikah lebih dahulu, tetapi kamu memaksa agar kita melaksanakannya bersama.”

“Ya, tetapi toh karena kamu bersikeras menjadi dokter, kamu menunda rencana pernikahanmu. Jadi aku masih sempat menyusul,” balas Moataz, juga sambil tertawa.

Itulah sepenggal momen keluarga yang amat akrab. Dua kakak beradik, berbahagia karena Islam, anak Moataz, baru saja sembuh dari penyakit yang telah lama dideritanya. Mereka berkendara di Jalan Jamal Abdul Nasser, Kota Gaza, dengan damai. Menuju rumah dengan kabar gembira tentang Islam.

Bom dari Pesawat Tempur

Tiba-tiba, sesuatu merenggut kebahagiaan mereka. Orang-orang berlari dan berteriak. Langit riuh dengan suara pesawat-pesawat tempur Zionis. Pesawat tersebut meliuk dan menukik, bagaikan burung elang yang sedang mencari mangsa.

Tidak lama kemudian, sebuah roket senjata menghantam tanah Gaza. Mencekam kota dengan dentumannya yang keras. Tiga warga Gaza menjadi korban.

Ketiga orang tersebut dilarikan ke rumah sakit. Tubuh mereka bahkan sulit dikenali. Setelah akhirnya berhasil diidentifikasi, ternyata mereka adalah Islam Eqaraqe’, umur dua tahun; ayahnya Moataz Eqaraqe’; dan sang paman Munzer Eqaraqe’.

Berita Bahagia Menjadi Duka

Tanpa angin, tanpa badai, tiba-tiba ketiga sanak saudara yang sedang berkendara santai itu menjadi sasaran tembak pesawat Zionis. Maka jadilah Jumat, 20 Agustus 2011 yang seharusnya membawa kabar gembira bagi keluarga Eqaraqe’ tentang kesembuhan Islam tersebut menjadi Jumat duka.

Duka bagi istri Moataz Eqaraqe’ yang sedang mengandung anak kedua mereka. Duka bagi istri dan kedua anak Munzer Eqaraqe’, Basem dan Yara. (UA/Sahabat Al-Aqsha) 

.

 

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Taman Kanak-kanak Pertama Bantuan Indonesia Diresmikan di Gaza
“Pesta” Semangka ala Tahanan Palestina »