Muhammad, 13, Diinterogasi, Dikencingi, Disundut Rokok, Lalu Dipenjarakan

13 October 2011, 12:39.

JAKARTA, Kamis (Sahabatalaqsha.com): Di Palestina yang Terjajah, tidak ada hari tanpa penindasan, bahkan terhadap anak-anak tanpa daya. Kisah berikut ini ditulis relawan internasional Aya Kaniuk dari salah satu kota di Tepi Barat, tentang Muhammad Mukhair yang ditemuinya di ‘pengadilan’ militer ‘Israel’ Ofer.

Setiap harinya bisa sampai 23 orang anak berada di sana. Anak-anak dan para pemuda yang datang biasanya dibagi dalam beberapa kelompok dengan dua, tiga, kadang empat orang di dalamnya.

Mereka mengenakan baju tahanan berwarna cokelat dengan kedua kaki dirantai dan salah satu tangan mereka diikat dengan tangan tahanan lainnya.

Dari semua tahanan, dialah yang paling menarik perhatian saya. Rambutnya yang keriting, wajahnya yang terlihat sangat muda, dan air matanya telah memancing perhatian saya.

Beberapa tahanan lain sebenarnya juga menangis, tetapi tidak ada yang melakukannya secara terang-terangan, seperti anak itu.

Tempat bukan tempat mencari kebenaran. Jangan harapkan juga bisa memperoleh keputusan pengadilan yang manusiawi dari tempat ini. Sistem seperti ini, berlaku untuk semua tahanan, tidak terkecuali anak-anak.

Para serdadu Zionis itu tidak mencari kebenaran. Sebab pengadilan militer sendiri sebenarnya hanyalah perpanjangan tangan dari penjajah ‘Israel’ yang identik dengan penindasan, pelecehan, dan dominasi.


Siksaan

Proses penangkapan tahanan anak-anak ini seringnya dilakukan malam hari, setelah ada laporan tentang perbuatan mereka.

Dan biasanya, penangkapan yang berlanjut pada penyiksaan ini hanya karena mereka melempar batu atau bom molotov. Sekali ditangkap, tidak akan ada opsi mengganti masa tahanan dengan membayar denda.

Mereka akan ditahan sampai proses penyelidikan selesai. Dan ini bisa memakan waktu bulanan, paling cepat sekitar tiga bulan. Seringnya, mereka dinyatakan bersalah dan sulit membuktikan apa yang sebenarnya mereka lakukan.

Lalu muncullah Muhammad Mukhair di muka pengadilan. Ia muncul tanpa senyuman ataupun lambaian tangan. Dan entah mengapa kehadirannya membuat hati seakan berhenti berdetak.

Padahal ketika itu, kami tidak mengetahui apa saja yang telah dirasakan anak ini. Hanya dengan menatapnya, melihat pancaran rasa takut dari dirinya, kedua matanya yang besar, terasa sekali kekosongan jiwanya.

Ketika sesi pengadilan untuknya ditunda beberapa saat, Muhammad yang mengenakan kemeja lengan pendek dan tampak gemetar kedinginan, tidak bicara sepatah katapun.

Bibirnya terkunci rapat, hanya air matanya yang terus mengalir. Padahal ketika sesi pengadilan ditunda, para tahanan seringkali memanfaatkannya untuk berbicara pada keluarga yang mengunjunginya.

Setelah beberapa saat, tibalah sesi pengadilan Muhammad. Seorang penerjemah pengadilan memintanya untuk berdiri. Kemudian terdengar namanya disebut lalu ia diminta kembali duduk. Kedua matanya terlihat tidak fokus dan ia tampak lebih muda dari usia 13 tahun.

Hakim wanita kemudian mengatakan bahwa sesi pengadilan akan dibuka dua minggu lagi. Sipir penjara lalu meminta Muhammad untuk berdiri.

Ia menatap tajam kedua orangtuanya. Kedua tangannya kini sudah kembali diborgol dan sipir memintanya untuk berjalan. Wajahnya terlihat basah oleh air mata dan begitu pucat.

Anak itu berdiri di dekat pintu keluar, didampingi seorang sipir penjara. Ia kembali menatap kedua orangtuanya. Ayahnya kemudian berkata kepada Muhammad untuk memotong rambutnya.

“Potong rambut,” ia berkata sekali lagi dengan bahasa tubuhnya—seolah Muhammad akan meninggalkan kesan yang lebih baik jika rambut ikalnya dipotong.

“Ia berbohong pada ibunya,” ujar Tareq, Ayah Muhammad. “Ia bilang, ‘Saya berada di desa dengan beberapa orang teman.”

Saya sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Orang-orang mengatakan melihatnya di atas jip tentara dan mereka memukulnya. Seketika itu, saya tahu dimana ia berada. Ada sebuah markas tentara di dekat Beit Horon. Saya langsung menuju kesana.

Saya ingin mengatakan pada para serdadu itu bahwa ia hanyalah seorang anak kecil. Jika ia melempari batu, biarkan saya memenjarakannya di dalam rumah sebagai hukuman.

Sampai disana, seorang tentara mengatakan bahwa Muhammad tidak berada di sana. Ia menyarankan saya datang ke Ofer. Tapi saya tahu kalau ia sebenarnya ada di sana, di instalasi militer Beit Horon itu.

Tentara itu lalu meminta saya pergi atau katanya, tentara yang berada di pos jaga akan menembak saya. Saya tidak punya pilihan selain pergi,” papar Tareq.

“Selama satu minggu penuh, kami terus mencarinya, sampai akhirnya kami mengetahui keberadaannya,” ia melanjutkan.


Digebuki, Disundut Rokok

“Saya akhirnya mengetahui bahwa setelah tiga hari ditahan di markas tentara, ia dibawa ke pengadilan militer Ofer dan berada di sana selama sebulan.

Setelah satu bulan, ia dikirim ke “Rimonin”, penjara untuk anak-anak dan perempuan. Kami tidak diizinkan berbicara dengannya sampai tiba pengadilan pertamanya. Dan hanya disana pula, kami bisa melihatnya.

Ketika akhirnya kami melihatnya, ia hanya menangis, tanpa mengeluarkan satu pun kata. Saya tidak tahu apa yang dikatakan pihak pengadilan.

Yang saya mengerti hanyalah mereka menjadwalkan pengadilan berikutnya, dua minggu lagi, kalau tidak salah.

Kami lalu menerima telepon dari Ramallah, orang dari lembaga kemanusiaan untuk anak-anak. Ia lalu memberitahu saya bahwa Muhammad tidak dalam keadaan baik.

Katanya, kakinya sakit dan jari-jarinya banyak terkena siksaan dari pukulan senjata dan sundutan rokok.

“Setelah mendengar kabar itu, kami menangis selama satu minggu penuh. Tanpa makan.”

Kemudian dari internet, kami membaca sebuah berita tentang Muhammad.

Tentara Israel Menyiksa Dua Anak Lelaki dan Memaksa Mereka Minum Air Toilet

Bab al Arab–1/11/2010–Menteri Urusan Tahanan Palestina, Issa Qaraqa’ mengungkapkan, beberapa tentara ‘Israel’ telah mengencingi dua anak Palestina yang ditahannya. Keduanya lalu dipaksa minum air toilet kemudian memotret mereka dalam keadaan telanjang.

Kedua anak lelaki itu adalah Muhammad Tareq Abd Allatif Mukhair dan Muhammad Nasser Ali Raduan. Keduanya, ujar Qaraqa’, berusia 13 tahun. Ia menuturkan, tentara ‘Israel’ menangkap mereka akhir Juli lalu dan memukuli keduanya secara brutal dengan senjata di kedua kaki mereka. Anak-anak itu kemudian diikat, ditutup matanya, lalu dipaksa minum air toilet. Keduanya juga difoto dalam keadaan telanjang dan dibiarkan tanpa pakaian selama dua hari di ruangan berpendingin udara.

Berdasarkan pengakuan keduanya, selama berada dalam tahanan, mereka tidak bisa tidur nyenyak karena setiap kali hampir tertidur, tentara-tentara Zionis langsung membangunkan mereka. Mereka juga mengatakan bahwa tentara-tentara ‘Israel’ telah mengencingi kepala dan wajah mereka.

Pengacara Massalha mengatakan bahwa hal yang dialami kedua anak itu sangat menjijikkan dan di luar bayangan manusia.

Lalu apa penyebab dibalik semua ini? “Hanya karena melempar batu,” ujar Ayah Muhammad.

“Tetapi di dalam tuduhannya, mereka menambahkan bahwa Muhammad juga melemparkan bom molotov. Ia hanya seorang anak kecil, bahkan belum memiliki nomor identitas. Ia masih terlalu kecil untuk semua ini. Ia sudah ditahan selama tiga bulan dan cukup sudah.

Saya akan membawanya pulang dan memeriksa keadaan kakinya, apa saja yang telah mereka perbuat dengan senjata dan rokok pada kedua kaki Muhammad.

Di pengadilan, saya mengatakan padanya agar tetap kuat dan bertahan, tetapi bagaimanapun ia anak kecil dan ia hanya menangis. Tidak terdengar satu pun kalimat darinya.

Selama di penjara, ia juga tidak pernah menelepon kami. Semua keadaaan ini membuat ibunya terus memakan pil penenang. Seorang teman kami di penjara menelepon dan memberi tahu kami bahwa Muhammad sakit.

Namun ia tetap tidak menelepon kami meski pihak penjara mengizinkannya untuk menelpon keluarganya sekali. Belakangan, dari teman kami itu, kami mengetahui bahwa ternyata dokumen hakim yang menyebutkan bahwa Muhammad boleh sekali menelepon keluarganya telah dirobek-robek sehingga ia tidak bisa menghubungi kami.

Kami pun tidak diizinkan untuk mengunjunginya. Kata mereka, kami hanya dapat menemuinya dua bulan sekali. Sungguh berat karena kami tidak dapat melihat bagaimana keadaan Muhammad. Ia hanyalah seorang anak kecil.”

“Kami hanya bisa menunggu, hanya menunggu,” Tareq melanjutkan.

“Tetapi mengapa pengacara tidak mengatakan kepada hakim tentang penyiksaan yang dialami Muhammad” saya bertanya kepada Tareq.

“Karena itu akan memperburuk mereka pada Muhammad,” jawabnya.

“Muhammad dilarang memakai jaket di penjara. Kau sendiri lihat kan Muhammad tidak memakai jaket. Mungkin karena orang dari lembaga kemanusiaan berbicara dengannya di penjara, ia jadi diperlakukan begini. Jadi mungkin jika kami mengungkapkan perlakuan yang diterima Muhammad pada pengadilan, hanya akan menambah masalah,”.

Ketika saya melihatnya lagi, Muhammad telah memotong rambutnya, mungkin karena saran ayahnya atau perintah penjara. Setelah tawar menawar antara pihak pengacara Muhammad dan penuntut, akhirnya disepakati bahwa anak malang itu dipenjara selama delapan bulan dan membayar denda sebesar 2.000 NIS (mata uang ‘Israel’), subtitusi dengan dua bulan penjara.

Hasil tawar menawar ini disepakati hakim pengadilan dan menjadi putusan pengadilan bagi kasus Muhammad.

Model penyelesaian seperti ini, sangat umum terjadi di pengadilan militer. Hampir semua kasus berujung pada kesepakatan tawar menawar antara pengacara dan pihak penuntut. Ini berarti terdakwa dipaksa mengakui apapun yang dituduhkan pihak penuntut.

Memperjuangkan kebenaran hanya akan memperpanjang masalah. Dan tidak ada jalan lain, kecuali menerima kesepakatan tawar menawar.

Ketika Muhammad mendengar putusan hakim, ia menangis sambil menutup wajahnya. “Saya tidak ingin berada di sini,” katanya. Ayahnya pun terpukul. Ia berusaha tersenyum dan berkata untuk menenangkan hati Muhammad, “Jangan khawatir, besok kita akan bertemu,”.

Dan untungnya, pihak pengadilan mengizinkan Muhammad untuk bertemu kedua orangtuanya pada keesokan harinya. Keputusan ini membuat wajah Muhammad terlihat lebih cerah.

Delapan bulan di penjara ditambah denda 2.000 NIS. Inilah yang didapat seorang anak berusia 13 tahun—yang tidak melukai siapapun. Begitulah pengadilan militer dan itulah yang terjadi bagi seorang Palestina yang tertangkap.

Saya tidak dapat mengatakan mana bagian terburuk dari seluruh cobaan yang dialami Muhammad, apakah siksaan dari tentara ‘Israel’ atau kenyataan bahwa orangtuanya tidak dapat melindunginya.

Dan walaupun saat ini, air kencing telah dibersihkan, luka di kakinya perlahan sembuh dan semoga hanya meninggalkan bekas, ia tidak lagi makan di penjara, tidak ada lagi pukulan, dan rambut ikalnya yang indah tumbuh kembali, tetap ada kenangan buruk yang melekat dalam ingatannya.

Saya hanya berharap untuk Muhammad dan saya sendiri bahwa kita akan hidup untuk melihat dunia yang lebih baik. Dunia dimana siapapun mendapat hak yang sama. Semoga ini akan segera terwujud sebelum darah mencuci tanah, bumi, dan langit. (MR/Sahabat Al-Aqsha)

Update Kabar Al-Aqsha dan Palestina via Twitter @sahabatalaqsha
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.


Posting ini berada dalam kategori : Kabar Al-Aqsha & Palestina

« Pemukim Yahudi Serbu Masjid Al Aqsha
Dongeng Nyata Tahanan Palestina »