Dongeng Nyata Tahanan Palestina
14 October 2011, 09:37.
JAKARTA, Jumat (Sahabatalaqsha.com): Sepanjang sisa hidupnya, ayah saya mungkin tidak akan pernah bisa melihat lagi matahari. Ya, kalau saja Ahmad Jibril, aktivis pembebasan Palestina, tidak mengatur kesepakatan menukar tiga orang tahanan “Israel” yang telah ia tahan sejak 1985 untuk ditukar dengan 1.250 orang tahanan politik Palestina, ayah saya akan selamanya dipenjara oleh Zionis.
Mogok Makan
“Barter” tahanan tersebut akhirnya menjadikan saya seperti anak-anak lain. Bisa mendengar ayah bercerita, yang selama ayah di penjara tidak dapat dilakukan.
Ayah saya menceritakan kisahnya, “Saya menyaksikan dan ikut serta dalam aksi mogok makan paling lama dalam sejarah tahanan Palestina pada 1982. Aksi itu berjalan selama 33 hari,” ujarnya. “Tiga tahanan meninggal. Sepuluh lainnya dirawat di rumah sakit. Serta ada 27 tahanan menderita dehidrasi.”
Seolah Yatim
Sebelumnya saya ikut dalam demonstrasi di Kota Gaza sebagai bentuk solidaritas terhadap para tahanan yang kondisi kesehatannya semakin memburuk. Kebanyakan dari demonstran ialah para tahanan yang sudah bebas atau mereka yang memiliki anak, saudara, atau suami yang dipenjara dan melakukan aksi mogok makan.
Salah satu demonstran adalah seorang ibu dari enam anak. Anak-anaknya tumbuh dewasa tanpa kehadiran ayah, karena sang suami telah menghabiskan waktu 26 tahun di dalam penjara Zionis. Saat itu saya sempat mewawancarainya.
“’Ketika itu saya sedang mengandung anak perempuan saya yang kini sudah berusia 25 tahun,” sang ibu menuturkan. “Anak perempuan pertama saya saat itu baru berusia 7 tahun. Semua anak saya sebenarnya memiliki ayah, tetapi mereka tumbuh dewasa tanpa ayah seperti anak yatim.”
Ibu itu menggambarkan kepada saya bagaimana sulitnya hidup tanpa suami untuk mengurus enam anaknya, selain itu betapa menderitanya ia ketika suaminya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa alasan yang jelas.
“’Saat suami saya dipenjara, saya masih sangat muda, 24 tahun. Saya bertahan di negeri ini sebagai perempuan yang sudah menikah tetapi hidup tanpa didampingi suami selama 26 tahun sambil merawat enam anak saya. Namun, Alhamdulillah saat ini saya telah dikaruniai 25 cucu,” ucap ibu tersebut bangga.
Butuh Mukjizat
Kemudian ibu enam anak itu menangis, ia khawatir karena mendengar kabar tentara Zionis menyerang penjara Ashkelon, penjara tempat suaminya ditahan.
Ibu tersebut mengatakan bahwa dirinya dan anggota keluarga tahanan lain dilarang berkunjung ke penjara sejak Hamas memenangi Pemilihan Umum 2006 lalu.
Mereka tidak mendapat berita apapun dari sanak saudara di dalam penjara, kecuali ketika mukjizat terjadi seperti dahulu.
Ketika datang seorang berasal dari Tepi Barat mengunjungi saudaranya yang berada dalam satu sel dengan suaminya di penjara. Kemudian suaminya meminta agar dapat menyampaikan pesan kepada istrinya bahwa keadaannya sehat.
Syuhada Hidup
Ayah saya selalu berkata para tahanan merupakan syuhada yang hidup. Saya kira istilah itu sangat tepat untuk semua ketidakadilan dan penderitaan yang mereka alami. Aksi mogok makan para tahanan Palestina ini akan terus berlanjut hingga Zionis mengabulkan permintaan mereka.
Kekejaman dan ketidakadilan yang dirasakan para tahanan Palestina sudah tidak bisa dibiarkan lagi. Solidaritas internasional adalah suatu keharusan. Semua orang harus bangun. Semua orang harus melakukan sesuatu. Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi!
Tulisan ini dimuat dalam situs Electronic Intifada, ditulis oleh Shahd Abusalama, seniman, blogger, dan mahasiswa jurusan Sastra Inggris asal Gaza. (ADM/Sahabat Al-Aqsha)
SALURKAN INFAQ TERBAIK ANDA
DONASI
Sampaikan Infaq terbaik anda melalui rekening
Donasi Palestina:
Bank Syariah Mandiri
No. Rek 7799800009
an. Sahabat Al Aqsha Yayasan
Donasi Suriah:
Bank Syariah Mandiri
No. Rek 7799880002
an. Sahabat Al Aqsha Yayasan
Untuk konfirmasi donasi anda, silakan klik di sini.
atau SMS ke
+62 877 00998 009 atau
+62 877 00998 002

Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
