Detik-detik Terakhir Syahid Termuda di Mavi Marmara
20 May 2012, 08:01.
ISTANBUL, Ahad (Sahabatalaqsha.com): Dipetik dari Laporan Twitter (LapTwit) Sahabat Al-Aqsha semalam (19/5). Tentang syahadah Furkan Dogan, salah satu syuhada kapal Mavi Marmara dua tahun yang lalu.
Selamat menikmati.
Suatu siang di musim semi yang cerah di kota Istanbul, lima relawan Sahabat Al-Aqsha mengunjungi kembali kapal Mavi Marmara. Kapal putih bergaris biru itu tertambat tenang di dermaga Sarayburnu, pelabuhan indah di Laut Bosforus.
Dua dari lima relawan itu adalah penumpang kapal itu ketika diserang dua tahun lalu. Berbagai kekejaman angkatan bajak laut Zionis seperti terbayang lagi dengan jelas.
Hampir bersamaan dengan kunjungan kembali di hari itu, di in-box surat elektronik kami, sepucuk surat datang dari IHH, organisasi kemanusiaan terbesar di Turki yang memimpin gerakan Freedom Flotilla untuk menembus kepungan Israel terhadap Gaza dua tahun silam.
Surat itu mengundang Sahabat Al-Aqsha untuk hadir pada peringatan dua tahun Peristiwa Mavi Marmara. Rencananya, pada tanggal 30 Mei malam nanti ribuan orang akan berkumpul di dermaga itu.
Para alumni akan bermalam di kapal Mavi Marmara… Solat tahajjud, solat subuh berjamaah pada 31 Mei-nya. Mendoakan rakyat Gaza yang sampai hari ini masih dikepung, dan mendoakan sembilan syuhada yang ditembak mati oleh tentara bajak laut Zionis di subuh hari itu.
Ini (saat twits ini disampaikan) sudah mulai larut malam. Tapi tak ada malam yang terlalu larut untuk menceritakan detik-detik kematian seorang syahid bukan?
Namanya Furkan Dogan (dibaca: Doan). Umurnya 19 tahun. Lelaki termuda yang mati syahid di kapal Mavi Marmara.

Furkan Dogan, dipotret beberapa jam sebelum syahadahnya. foto: Kotusozluk
Sebelum kami ceritakan detik-detik mati syahidnya, kita baca sedikit catatan hariannya yang ditemukan diantara barang-barang para relawan yang sempat dikembalikan ke Turki (sebagian besar dirampok tentara Zionis, termasuk HP, laptop, kamera, dan kartu-kartu bank)
Ini tulisan di buku harian Furkan yang ditulis tengah malam (kapal Mavi Marmara yg kami tumpangi diserang bada solat subuh..).
“Kabin penumpang sudah lengang… Suasana agak tegang sejak diumumkan bahwa beberapa kapal Israel sudah membuntuti kami…”
Furkan menulis lagi, “Apa yang lebih indah dari mati syahid? Kurasa tak ada… kecuali wajah ibuku.”
Furkan bukan pemuda tanggung yang sedang frustrasi atau putus cinta. Ketika terpilih naik Mavi Marmara Furkan baru lulus SMA sedang menunggu masa kuliah di sebuah fakultas kedokteran di salah satu universitas Turki.
Ayahnya seorang guru besar ilmu akuntansi di Universitas Erciyes. Tapi Furkan dibesarkan di Amerika Serikat.
Dibolehkan oleh Undang-undang Turki dan AS, Furkan berkewarganegaraan ganda Turki-AS.
Furkan menaiki Mavi Marmara merindukan syahid.
Jam 11 malam (30 Mei 2010) suasana di atas kapal MaviMarmara mulai penuh siaga. Karena sudah jelas kami dibuntuti beberapa kapal Israel.
Malam itu semua orang berjaga. Dua relawan Sahabat Al-Aqsha yang juga wartawan di kapal itu terus sibuk mengirimkan berita ke tanah air.
Jam dua malam waktu Ankara, ribuan orang pengunjuk rasa mengepung kedutaan Israel, menuntut pemerintah Zionis jangan ganggu enam kapal kemanusiaan yang menuju pantai Gaza.
Sebelum Ashar, Israel seenaknya mengumumkan bahwa garis pengepungan Gaza ditambah dari 20 mil jadi 68 mil laut.
Itu artinya, begitu Mavi Marmara dan lima kapal lain yg lebih kecil melewati batas itu, HALAL untuk mereka serang.
Kembali ke Furkan. Selain kutipan catatan hariannya belum ada detail lain tentang apa yang dilakukan Furkan menjelang kapal kami diserang.
Solat subuh 31 Mei 2010 sangat tegang. Tapi Subhanallah imamnya sangat tenang membaca ayat-ayat yang cukup panjang. Bahkan Qunut Nazilah pun dibaca cukup panjang.
Hampir seluruh jama’ah laki-laki sudah mengenakan pelampung ketika solat subuh itu…
Malamnya memang diumumkan kemungkinan terburuk Zionis Israel akan menenggelamkan kapal kami.
Belum lagi raka’at kedua selesai, beberapa brothers yang berjaga-jaga di pinggir pagar lambung kapal sudah berteriak, “Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
Begitu salam disampaikan, jama’ah langsung berhamburan ke posisi yg sudah ditentukan masing-masing.
Perlawanan terhadap bajak laut Zionis Israel yang berusaha menguasai Mavi Marmara sudah dimulai.
Kapal-kapal kemanusiaan yang totalnya membawa 10 ribu ton bantuan untuk rakyat Gaza dikepung puluhan speedboat masing-masing berisi belasan tentara berkedok hitam, bersenjata lengkap.
Kami seluruh penumpang sudah tahu ini saat-saat hidup dan mati, tapi kami belum sadar kalau armada yg mengepung Mavi Marmara dan kawan-kawan ternyata jauh lebih besar.
Jadi 600-an relawan kemanusiaan dari 32 negara yang membawa susu bayi, makanan, obat-obatan, alat-alat rumah sakit, bahan bangunan, mainan anak TK, ratusan ribu batang pensil, pulpen, penghapus, perosotan dan ayunan, dan keperluan ibu-ibu, dikepung oleh armada bajak laut Zionis berkekuatan 30 speedboat, 2 kapal perusak, 2 kapal selam, 3 helikopter tempur, dan ratusan tentara bersenjata lengkap dan mematikan.
Ada fitnah yg disebarluaskan media-media pro-Israel tentang Mavi Marmara: “Relawan kemanusiaan masak memukuli tentara dengan kayu dan besi?”
Ini jawabannya: memang benar relawan MaviMarmara melawan dengan segala benda yang ada. Besi-besi itu dipotong dari pagar-pagar kapal.
Kenapa kita harus melawan? Karena tentara bajak laut Zionis menyerang Mavi Marmara yang sedang berada di perairan internasional.
Mavi Marmara dan kawan-kawan yang berlayar beriringan sedang berada di titik 80 mil dari pantai Gaza. International Water. Israel kalap. Bodoh. Dungu.
Jadi kita orang berakal yang diserang dan mau dibajak, wajib melawan.
Furkan melawan dengan kamera. Dia merekam seluruh kejadian itu. Ketika semua huru-hara itu terjadi dengan sangat berani Furkan Dogan merekam terus di atas dek 5, tempat paling mematikan di Mavi Marmara di detik-detik itu.
Karena setelah gagal masuk dari speedboat (sambil menembaki relawan) bajak laut Zionis turunkan komando lewat helikopter.
Gemuruh suara helikopter tempur dan angin kencangnya tak menyurutkan Furkan. Dia terus merekam, termasuk ketika relawan berhasil meringkus tiga orang tentara Israel digebukin berdarah-darah dan tak sempat menarik pelatuk senjata otomatis Uzi-nya.
Furkan merekam terus…
Ketika tiga kawannya diringkus relawan, semakin kalaplah bajak laut Zionis Israel. Granat suara, gas air mata, peluru logam berhamburan ke dinding kapal dan ke tubuh para relawan.
Saat itulah dada belia Furkan ditembus peluru… Ia tergeletak bersimbah darah, tapi Furkan belum mati.
(Bagian cerita yang berikut ini kami dengar langsung dari sahabat kami relawan senior Turki IHH yang merekam kesaksian berikut ini dari relawan Turki lain, yang sama-sama bermandi darah tergeletak di sebelah tubuh Furkan tapi belakangan berhasil diselamatkan…)
Relawan Turki ini bercerita dalam sebuah rekaman: “Kulihat Furkan di sebelahku.. tergeletak basah dengan darah…”
“Kulihat wajahnya tenang… tapi nafasnya sudah susah payah…”
“Tiba-tiba kudengar Furkan berguman…: ‘Ya Allah… terima syahidku… Ya Allah… terima syahidku… Yaaa Allah terima syahidku…”
Sahabat, ingat beberapa hari lalu kami twit-kan hadits Rasulullah Sallallaahu ‘alayhi wa sallam: Allah akan memenuhi keinginan syahid seseorang?
Malam itu… detik itu… Allah langsung menjawab keinginan tulus Furkan Dogan… begini kesaksian relawan Turki yang terbaring di sebelahnya tadi.
“Baru saja kudengar Furkan menggumamkan permintaannya agar syahidnya Allah terima…”
“Lalu seorang tentara Zionis merengkuh kerah baju Furqan… kemudian menembak wajah bersih itu lima kali…” Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Hasil autopsi atas jenazah Asy-Syahid Furkan Dogan melaporkan, pemuda tampan itu ditembak wajahnya dari jarak 45 cm.
Furkan gugur bersama delapam orang syuhada lainnya.
Waktu Tim Sahabat Al-Aqsha di Gaza sekitar dua minggu yang lalu, kami sempat ke pelabuhan Gaza. Di situ nama Furkan tertulis di sebuah prasasti bersama delapan lainnya. Sebuah penghormatan dari rakyat dan pemerintah Palestina di Gaza.
Innaa lillaahi wa inna ilaihi Raji’uuun.

Ribuan orang mengantar jenazah Furkan di kota Kayseri. foto: IHH
Waktu jenazah Furkan dimakamkan di Kayseri, sekitar 100 kilometer di sebelah utara kota Istanbul, puluhan ribu orang mengantarnya.
Prof Ahmet Dogan ayah Furkan mengatakan hal ini saat jasad anaknya dimakamkan, “Kami tidak sedih atas kematian anak kami, karena dia mati di atas jalan kemuliaan.”
Ia melanjutkan, “Kami hanya bertanya-tanya apakah kami cukup layak menjadi ayah bagi anak semulia ini…”
Sekian dulu untuk malam ini. Semoga bermanfaat.
Semoga Allah matikan kita dalam jalan kemuliaan fii Sabiilillah… bukan jalan yang lain.* (Sahabatalaqsha.com)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
