Khas Yahudi: Janji Tinggal Janji, Warga Palestina Tetap Ditangkapi
29 May 2012, 08:56.

Seorang tawanan Palestina di bis tawanan dari penjara Nafha. foto: Alarabiya
JAKARTA, Selasa (Sahabatalaqsha.com): Kesepakatan yang dicapai antara tawanan Palestina dan penjajah Zionis untuk mengakhiri aksi mogok makan besar-besaran ternyata tidak membuat Zionis Israel mengakhiri penangkapan tanpa alasan yang biasa disebut “penahanan administratif”.
“Penahanan administratif” yang berarti penahanan tanpa melalui proses hukum ini telah menuai kritik internasional. Zionis Israel beralasan penangkapan itu diperlukan karena beberapa kasus dianggap tidak bisa dibawa ke pengadilan terbuka. Zionis khawatir proses pengadilan akan dimata-matai oleh intelijen Palestina yang bekerja sama dengan orang dalam ‘Israel’.
Kebiasaan penjara Zionis lainnya yang dituntut para tawanan untuk diakhiri adalah sel isolasi. Tawanan ditempatkan di sel yang sama sekali tidak memungkinkannya berkomunikasi dengan tawanan lain. Bahkan sebagian besar sel isolasi terletak di bawah tanah, sehingga selama dikurung di sel itu para tawanan sama sekali tak bisa melihat matahari.
Maan News melaporkan, dalam tempo dua minggu setelah sekitar 2.000 tawanan Palestina menghentikan aksinya, lebih dari 25 warga Palestina ditangkapi lagi tanpa alasan. Beberapa diantaranya bahkan mendapat penambahan masa “tahanan administratif” selama enam bulan. Penambahan masa tahanan dilakukan karena alasan keamanan.
Dalam kesepakatan yang telah dicapai antara para tawanan yang melakukan aksi mogok makan dan penguasa penjara Zionis, disebutkan tentang dikuranginya “penahanan administratif” dan dibolehkannya kunjungan oleh keluarga.
Kesepakatan itu tidak merinci bagaimana tuntutan itu akan dipenuhi. Banyak pengamat yang mengatakan bahwa kesepakatan itu sangat lemah, dan mudah diingkari. Namun para tawanan dan pihak negosiator percaya kesepakatan ini akan mendorong Zionis Israel mengurangi “penahanan administratif” dan memproses pengadilan bagi para tawanan.
“Kami pikir pihak Palestina juga Mesir selaku negosiator melakukan kesalahan yang sama, yakni membiarkan ‘Israel’ mengartikan sendiri point-point dari kesepakatan itu,” ujar Mourad Jadallah, wakil dari grup advokasi tahanan, Ad-Dameer yang berbasis di Ramallah.
Mayoritas dari 2.000 tawanan mogok makan telah menolak makan selama sebulan. Beberapa diantaranya sudah mogok makan 77 hari. Dua orang di antaranya menolak menerima kesepakatan dan tetap melanjutkan aksi mogok makan hingga kemarin. Salah satunya adalah seorang pemain sepakbola asal Gaza, Mahmoud al-Sarsak. Sampai kemarin ia sudah mogok makan selama 71 hari. Saat ini, penjajah Zionis menawan sekitar 4.800 rakyat Palestina.* (MR/Sahabat Al-Aqsha)
Berikan Infaq terbaik Anda. Klik di sini.
